Ketika Air Menjadi Target: Wajah Baru Perang di Timur Tengah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ketika air menjadi sasaran (sumber: GenerateAI)

Di tengah panasnya bentrok geopolitik Timur Tengah, sebuah pergeseran rawan sedang terjadi. Jika dulu minyak menjadi sasaran utama, sekarang giliran air nan dijadikan target.

Setelah serangan terhadap kilang minyak Al-Ahmadi, Kuwait kembali diguncang pada Jumat (3 April 2026). Kali ini, nan disasar adalah instalasi pembangkit listrik dan pabrik desalinasi. Meski belum mengganggu jasa air dan listrik, pesan strategisnya sangat jelas: nan diserang bukan sekadar fasilitas, tetapi degub kehidupan sebuah negara.

Kuwait menuding Iran sebagai pelaku, namun Iran membantah dan kembali menuding Israel. Di tengah saling tuding ini, eskalasi justru semakin mengkhawatirkan—karena nan dipertaruhkan bukan hanya energi, tetapi kelangsungan hidup manusia.

Ketergantungan Total pada Air Buatan

Timur Tengah, khususnya area Teluk, adalah salah satu wilayah paling kering di dunia. Di sini, air bukan hidayah alam nan melimpah, melainkan hasil rekayasa teknologi melalui desalinasi.

  • Uni Emirat Arab: lebih dari 80% air minum dari desalinasi

  • Bahrain & Qatar: 100% berjuntai pada desalinasi

  • Arab Saudi: sekitar 50%

  • Israel: sekitar 50% kebutuhan air dari 5 pabrik desalinasi

Artinya, tanpa pabrik desalinasi, kota-kota modern di area ini tidak bakal bisa bertahan.

Serangan terhadap akomodasi desalinasi pun bukan kejadian tunggal. Sebelumnya:

  • 7 Maret 2026: akomodasi desalinasi Iran di Pulau Qeshm lumpuh

  • Sehari kemudian: akomodasi di Bahrain diserang

Bahkan Presiden Donald Trump secara terbuka menakut-nakuti bakal menghancurkan prasarana listrik, minyak, hingga pabrik desalinasi Iran.

Pernyataan ini menuai kecaman. Menurut Niku Jafarnia dari Human Rights Watch, menghancurkan akomodasi air minum sama saja dengan menyerang kelangsungan hidup sipil—dan berpotensi menjadi kejahatan perang menurut norma humaniter internasional.

Mengapa Air Jadi Sasaran?

Aliran air rendah sungai di hulu Bendungan Amir Kabir di sepanjang Sungai Karaj terlihat di pegunungan Alborz, Iran utara, pada 1 Juni 2025. Foto: ATTA KENARE / AFP

Untuk memahami kejadian ini, kita perlu memandang langkah pandang strategi militer modern—yang tidak lagi konsentrasi pada menghancurkan tentara, tetapi melumpuhkan sistem negara.

Salah satu teori kunci adalah Teori Lima Lingkaran nan dikembangkan oleh John Warden III.

Ia memandang negara sebagai sistem dengan lima lapisan:

  1. Kepemimpinan

  2. Sistem vital (air, listrik, energi)

  3. Infrastruktur

  4. Populasi

  5. Militer

Dalam logika ini, menyerang sistem vital seperti air dan listrik jauh lebih efektif daripada menyerang tentara. Ketika air berakhir mengalir:

  • rumah sakit lumpuh

  • industri berhenti

  • logistik terganggu

  • masyarakat panik

Inilah nan disebut strategic paralysis—kelumpuhan sistemik tanpa kudu memenangkan pertempuran besar.

Belajar dari Sejarah: Perang Teluk 1991

Kerentanan ini bukan perihal baru. Dalam Perang Teluk 1990–1991, pasukan Irak nan mundur menghancurkan pembangkit listrik dan akomodasi desalinasi Kuwait.

Tidak hanya itu, jutaan barel minyak mentah sengaja ditumpahkan ke Teluk Persia, menakut-nakuti sistem pengambilan air laut untuk desalinasi di seluruh kawasan.

Menurut Guru Besar Hubungan Internasional UGM, Siti Mutiah Setyawati, strategi ini merupakan bagian dari hidropolitik—yakni penggunaan air sebagai instrumen kekuasaan dan konflik.

Dan dampaknya sangat besar ialah menyerang air bisa lebih menghancurkan daripada menyerang minyak.

Antara Strategi Militer dan Batas Kemanusiaan

Dalam teori perang modern, prasarana seperti pabrik desalinasi sering dianggap sebagai sasaran sah lantaran mempunyai kegunaan dobel (dual-use): melayani sipil sekaligus mendukung industri dan militer.

Namun di sinilah letak problemnya.

Hukum humaniter internasional—termasuk Konvensi Geneva—secara tegas melarang penargetan akomodasi nan vital bagi kehidupan sipil. Air bukan sekadar komoditas, tetapi kewenangan dasar manusia.

Ketika air dijadikan senjata, maka garis antara strategi militer dan kejahatan kemanusiaan menjadi sangat tipis.

Perspektif Islam: Melumpuhkan Tanpa Menghancurkan

Menariknya, dalam sejarah Islam juga dikenal strategi melumpuhkan sistem lawan—namun dengan pendekatan nan lebih beradab.

Beberapa contohnya:

  • Pengepungan (Al-Hashr)

Memutus suplai logistik untuk memaksa musuh menyerah tanpa pertumpahan darah besar.

  • Perang Intelijen

Dalam Perang Khandaq, Nu’aym bin Mas’ud memecah aliansi musuh melalui strategi psikologis.

  • Tekanan Ekonomi

Menargetkan jalur perdagangan Quraisy sebagai sumber kekuatan mereka.

  • Fathu Makkah

Dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, kemenangan diraih dengan menunjukkan kekuatan besar sehingga musuh menyerah tanpa pertempuran.

Strategi ini menunjukkan bahwa melumpuhkan sistem tidak kudu berfaedah menghancurkan kehidupan sipil.

Dari Minyak ke Air, dari Energi ke Eksistensi

Serangan terhadap pabrik desalinasi menandai perubahan besar dalam wajah perang modern.

Jika dulu perebutan sumber daya berpusat pada minyak, sekarang air menjadi komoditas strategis nan tak kalah penting—bahkan lebih mendasar.

Karena tanpa minyak, ekonomi terganggu. Namun tanpa air, kehidupan berhenti.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan