Warga Libanon pulang ke rumah mereka.(Al Jazeera)
BEBERAPA jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri ketegangan dengan Iran, ribuan family pengungsi di Libanon mulai kembali ke rumah mereka pada Senin (15/6/2026). Ini merupakan gelombang kepulangan kedua sejak pertempuran aktif antara Hizbullah dan Israel meletus kembali pada awal Maret lalu.
Meskipun ada optimisme nan terjaga di kalangan penduduk sipil Libanon nan capek berperang, situasi di lapangan tetap mencekam. Israel secara tegas menyatakan bakal tetap mempertahankan area penyangga militer di Libanon selatan dan berjanji untuk terus melanjutkan serangan terhadap posisi Hizbullah.
Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Upaya penduduk untuk kembali mencerminkan angan bahwa kesepakatan nan dicapai Trump dengan Iran tidak hanya bakal difinalisasi, tetapi juga bakal memaksa Israel untuk menghormati ketentuan nan menyertakan Libanon dalam perjanjian gencatan senjata.
Wali Kota Tyre, Hassan Dbouk, menyatakan bahwa penduduk nan kembali pada Senin terutama mau memastikan apakah kediaman mereka tetap berdiri. "Penduduk sekarang berambisi Presiden Trump bakal melakukan intervensi untuk menghentikan tindakan Israel. Jika diserahkan kepada Israel, mereka bakal menghabisi kita semua," ujar Dbouk kepada The Washington Post.
Catatan Konflik: Pertempuran aktif dimulai kembali pada Maret 2026 setelah Hizbullah menembakkan roket sebagai jawaban atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak itu, lebih dari 3.700 orang di Libanon dilaporkan tewas menurut Kementerian Kesehatan setempat.
Sikap Keras Israel dan Posisi Hizbullah
Di sisi lain, kesepakatan tenteram ini mendapat kecaman luas di internal Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bakal tetap berada di area penyangga Libanon selatan untuk waktu nan tidak ditentukan.
Hizbullah sendiri menyambut baik kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Kelompok tersebut mendesak pemerintah Libanon untuk meninjau kembali pembicaraan langsung dengan Israel dan lebih mengandalkan Iran sebagai kawan sejati untuk menjaga kepentingan nasional.
Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi
Tiga bulan pertempuran terakhir meninggalkan luka mendalam bagi Libanon. Selain ribuan korban jiwa, kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar dengan kehancuran prasarana nan masif di wilayah selatan dan pinggiran Beirut.
Meski gencatan senjata tampak mulai memperkuat di kota-kota besar, laporan mengenai serangan pesawat tak berawak (drone) dan tembakan artileri di dekat perbatasan Israel tetap terjadi pada Senin pagi. Tentara Libanon mendesak penduduk untuk tidak mendekati kota-kota perbatasan dan segera melaporkan jika menemukan amunisi nan belum meledak.
Perdana Menteri Libanon, Nawaf Salam, menyatakan bahwa pembicaraan dengan Israel di Washington bakal terus bersambung dengan sasaran utama mengamankan penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah kedaulatan Libanon. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·