Keraton Yogya Sederhanakan Garebeg Besar 2026, Tanpa Gunungan & Iringan Prajurit

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Garebeg Besar di Keraton Yogyakarta. Foto: Kraton Jogja

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memutuskan menyederhanakan penyelenggaraan Hajad Dalem Garebeg Besar 1447 H/2026 nan bakal digelar pada Rabu (27/5). Dalam format baru ini, tidak bakal ada gunungan nan keluar dari lingkungan Keraton, tidak ada kirab pareden ke luar, serta tidak ada iring-iringan prajurit seperti penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu Abdi Dalem senior berkedudukan Bupati Nayaka Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, mengatakan penyederhanaan tersebut dilakukan berasas Dhawuh Dalem dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dan mulai diterapkan pada Garebeg Besar tahun ini.

“Betul bahwa kami, Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini nampi Dhawuh Dalem (menerima dhawuh/perintah dari Sultan) untuk menyederhanakan prosesi Garebeg dimulai dari besok Garebeg Besar,” ungkap KRT Kusumanegara dalam rilis resmi Keraton Yogyakarta, Rabu (20/5).

Menurut Keraton, prinsip Garebeg sebagai infak Raja kepada kawula tetap dipertahankan melalui pembagian ubarampe pareden kepada seluruh abdi dalem. Namun seluruh proses pengedaran tahun ini hanya dilakukan di dalam lingkungan Keraton.

“Secara prosesi, lantaran ada dhawuh untuk disederhanakan jadi secara penyelenggaraan mirip seperti Garebeg ketika pandemi Covid-19 kemarin. Tidak ada gunungan nan keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga. Seluruh ubarampe pareden nantinya hanya bakal dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta,” papar KRT Kusumanegara.

Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo, menyebut perubahan format bukan perihal baru dalam sejarah Garebeg. Menurutnya, upacara tersebut sejak masa para Sultan terdahulu telah mengalami penyesuaian mengikuti situasi dan zamannya, termasuk saat masa perjuangan kemerdekaan dan pandemi Covid-19.

“Mulai dari era Sultan terdahulu nan menghadirkan Garebeg sebagai upacara terbesar komplit dengan kehadiran Sultan dan regalianya, kemudian sempat mengalami penyederhanaan pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar KRT Sindurejo.

Bahkan pada masa pemerintahan Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 ini juga ada perubahan corak upacara Garebeg ketika pandemi Covid-19 melanda. Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama,” tambahnya.

Dampak penyederhanaan juga membikin sejumlah rangkaian pendukung ditiadakan. Prosesi nan biasanya mendahului Garebeg Besar, seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik nan dijadwalkan tiga hari sebelum pelaksanaan, dipastikan tidak digelar tahun ini.

Menanggapi kebijakan tersebut, Pemerintah Daerah DIY menyatakan menghormati keputusan Keraton.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan bahwa penyederhanaan prosesi tidak menghilangkan makna utama Garebeg sebagai tradisi infak Raja dan ungkapan syukur.

“Masyarakat perlu memahami bahwa penyesuaian format tahun ini merupakan corak penyederhanaan dan bukan peniadaan upacara adat. Tidak digelarnya prosesi pembagian pareden ke luar lingkungan Keraton sama sekali tidak menghilangkan prinsip utama Garebeg sebagai bentuk syukur dan infak dari Raja,” tegas Dian, Rabu (20/5).

Dian menjelaskan seluruh sistem pembagian pareden tahun ini diatur secara internal oleh Keraton Yogyakarta melalui para abdi dalem. Dengan demikian, prosesi iring-iringan nan biasanya membawa pareden menuju Kompleks Kepatihan dan Puro Pakualaman juga tidak dilaksanakan.

Pemda DIY mengimbau masyarakat memahami penyesuaian tersebut lantaran nilai kesakralan serta angan keselamatan bagi masyarakat tetap dijalankan secara khidmat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan