Kepercayaan: Aset Berharga Penentu Perekonomian Masa Depan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Kepercayaan Seluruh Pihak nan Mendorong Perekonomian Indonesia (Foto: generated by AI)

Apa nan membikin ekonomi tetap berjalan? Apakah angka-angka parameter pertumbuhan ekonomi alias kepercayaan masyarakat pada nomor tersebut?

Pertanyaan ini sangat krusial untuk dijawab di tengah ketidakpastian dunia nan menguji daya tahan ekonomi Indonesia. Inflasi dapat diumumkan setiap bulan, suku kembang disesuaikan oleh Bank Indonesia secara berkala, dan nilai tukar rupiah bergerak setiap saat. Di kembali semua itu, terdapat satu variabel nan tidak tercatat, walaupun variable tersebut paling menentukan arah ekonomi. Variabel tersebut berjulukan kepercayaan.

Pada Maret 2026, parameter ekonomi Indonesia tetap menunjukkan sinyal nan relatif solid. Inflasi nasional tercatat sebesar 3,48% (yoy), dengan inflasi volatile food berada di nomor 4,24% (yoy). Stabilitas ini menjadi fondasi krusial bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global. Namun ekonomi tidak hanya hidup dalam nomor agregat.

Di Manado, misalnya, berasas info di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) nilai cabe rawit sempat bergerak cukup tajam dari sekitar Rp45.000 per kilogram pada awal Maret, meningkat menjadi Rp110.000 pada awal April, sebelum kembali turun ke kisaran Rp66.000 pada pertengahan April. Sementara itu BPS mempublikasikan inflasi di Kota Manado pada bulan Maret 2026 tetap terkendali di nomor 0,32 % (mtm) dan 3,28% (yoy). Bagi statistik, perubahan ini merupakan bagian dari dinamika pasar di dalam suatu laporan, namun bagi masyarakat pengalaman tersebut merupakan perihal nyata nan bakal mempengaruhi persepsi dan kepercayaan kepada pemerintah maupun.

Di sinilah pentingnya memandang ekonomi tidak hanya dari sisi angka, tetapi juga dari sisi persepsi. Hal ini menjelaskan kenapa sebagian masyarakat merasakan tekanan biaya hidup nan lebih kuat, meskipun secara keseluruhan inflasi tetap terjaga.

Di tengah dinamika tersebut kepercayaan masyarakat tetap berada pada level optimis. Bank Indonesia memaparkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Maret 2026 tercatat sebesar 122,9 dengan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada pada area optimis. Ini menunjukkan bahwa, meskipun terdapat tekanan, masyarakat tetap mempunyai kepercayaan terhadap kondisi ekonomi.

Memang, terdapat penurunan tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Namun dalam konteks ekonomi, perihal ini lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi, bukan pelemahan kepercayaan secara mendasar.

Di sisi lain, peningkatan Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) serta tetap terjaganya aktivitas konsumsi nan mencapai 72,2% dari pendapatan menunjukkan bahwa roda ekonomi domestik tetap berputar dengan baik. Ini menjadi indikasi bahwa kepercayaan tidak hilang, melainkan beradaptasi terhadap perubahan situasi.

Di titik inilah kepercayaan menunjukkan perannya nan sesungguhnya. Ekonomi modern bekerja berasas ekspektasi. Ketika masyarakat percaya bahwa kondisi bakal tetap stabil, mereka tetap berbelanja, berinvestasi, dan menjaga aktivitas ekonomi. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, nan dibutuhkan bukan hanya kebijakan nan tepat, tetapi juga kepercayaan bahwa kebijakan tersebut bisa menjaga arah ekonomi.

Sejarah Indonesia memberikan pelajaran berbobot mengenai perihal ini. Pada krisis 1997–1998, tekanan ekonomi berkembang menjadi krisis nan lebih dalam ketika kepercayaan terhadap sistem ekonomi dan kebijakan menurun secara signifikan. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kepercayaan merupakan bagian integral dari menjaga stabilitas.

Namun nan juga krusial dicatat, pengalaman tersebut membikin pemerintah dan otoritas mengenai memperkuat fondasi kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Dalam beragam bagian tekanan dunia berikutnya seperti gejolak ekonomi 2008, 2013 dan pandemi covid-19, stabilitas ekonomi Indonesia relatif lebih terjaga lantaran kredibilitas kebijakan nan semakin kuat dan respons nan lebih terkoordinasi. Hal ini menandakan Indonesia telah belajar dari krisisdan membangun ketahanan dari pengalaman tersebut.

Saat ini tantangan kembali datang melalui dinamika global. Ketegangan geopolitik, termasuk di Timur Tengah, telah mendorong volatilitas nilai daya dan meningkatkan ketidakpastian pasar global. Dampaknya terasa hingga ke dalam negeri, baik melalui biaya distribusi, nilai pangan, maupun pergerakan nilai tukar. Namun di tengah kondisi tersebut, fondasi ekonomi domestik nan kuat dan kepercayaan nan tetap terjaga menjadi modal penting.

Menjaga kepercayaan ini tentu bukan pekerjaan satu pihak. Hal ini memerlukan upaya berbareng nan konsisten dan saling melengkapi.

Bank Indonesia mempunyai peran strategis dalam memastikan stabilitas moneter tetap terjaga sekaligus memperkuat komunikasi kebijakan. Kejelasan arah kebijakan, konsistensi dalam merespons dinamika global, serta keahlian menjelaskan kebijakan dalam bahasa nan mudah dipahami publik bakal sangat menentukan gimana masyarakat memaknai kondisi ekonomi.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah, berkedudukan dalam memastikan bahwa stabilitas tersebut betul-betul dirasakan di lapangan. Pengendalian nilai pangan melalui penguatan produksi dan distribusi, perlindungan terhadap golongan rentan, serta kebijakan nan menjaga daya beli menjadi kunci agar nomor stabilitas tidak berakhir pada level makro, tetapi datang dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, pelaku upaya juga memegang peran krusial dalam menjaga kepercayaan pasar. Efisiensi rantai pasok, penetapan nilai nan wajar, serta keahlian beradaptasi terhadap perubahan dunia bakal membantu memastikan bahwa tekanan biaya tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.

Koordinasi lintas lembaga menjadi kunci agar seluruh upaya tersebut melangkah dalam satu arah. Pada saat nan sama, komunikasi kebijakan menjadi jembatan krusial antara nomor dan realitas. Ketika kebijakan dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya, maka kepercayaan tidak hanya terjaga, tetapi juga diperkuat.

Pada akhirnya, pertumbuhan dan kestabilan ekonomi ditentukan bukan hanya dari apa nan terjadi tetapi juga oleh gimana masyarakat dan stakeholders lain memandang apa nan bakal terjadi. Selama kepercayaan tetap terjaga, ekonomi Indonesia mempunyai ruang untuk terus tumbuh dan stabil di tengah ketidakpastian global. Stabilitas dan pertumbuhan bakal menjadi fondasi nan memberi rasa kondusif bagi masyarakat untuk melangkah ke depan.

Karena itulah, di kembali setiap kebijakan ekonomi, terdapat satu perihal nan paling mendasar nan kudu diperhatikan semua pihak ialah menjaga kepercayaan masyarakat agar ekonomi tetap stabil dan tumbuh berkelanjutan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan