Kepala BGN soal Keracunan MBG di Sidoarjo: Kelalaian yang Disengaja

Sedang Trending 20 jam yang lalu
Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan permohonan maaf atas keracunan massal setelah ratusan siswa menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Sudaryono menyentil petugas SPPG nan diduga melakukan kelalaian nan disengaja.

"Saya juga menyampaikan di tempat ini, keracunan makanan nan terjadi di Sidoarjo kemarin, permohonan maaf saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan hal-hal nan kemudian menimbulkan gangguan kesehatan alias keracunan makanan di Sidoarjo, di pondok pesantren nan sampai saat ini datanya terekap di tempat kami," ujar Sudaryono saat memberikan pengarahan ke jejeran BGN seperti dalam video nan diunggah di IG resminya, Kamis (3/9/2026).

Sudaryono mengatakan BGN terus memonitor jumlah korban nan keracunan. Dia juga meminta jejeran terus mendata semua siswa nan telah menyantap MBG itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kasus keracunan di Sidoarjo, kita sudah cek kronologis, sudah cek juga di Radar MBG, bahwa rupanya mahir gizi dan kepala dapur itu kemudian tidak melabeli semua omprengnya, hanya dikasih label satu untuk satu PIC. Jadi dia ngirim, misalnya 400 itu labelnya satu," ujar dia.

Sudaryono menekankan bahwa setiap ompreng kudu diberi label jam makanan dimasak serta pemisah maksimal MBG kudu disantap. Dia menemukan bahwa kasus nan terjadi di Sidoarjo diduga makanan disantap siswa di atas standar jam nan telah ditentukan.

"Penelusuran sementara, itu makanan matang jam 5, makanya kudu dikonsumsi sebelum jam 9, namun di labeling itu ditulis, dilaporkan jam 8.00 dan dimakan maksimal jam 10 di labelnya, dan labelnya itu tidak semua ompreng. Hanya satu ompreng kemudian difoto, dimasukkan ke dalam POP, kemudian di-capture oleh Radar MBG," ucap dia.

"Yang menjadi kenyataannya di lapangannya, itu ompreng nan dimakan sebelum jam 10, dikirim ke sekolah di atas jam 11, jika tidak salah 11.30 alias 11.40, baru dimakan di atas jam 12 oleh para siswa itu sehingga keracunan massal terjadi di sekolah, di mana omprengmu kau kasih jam 10, tapi jika kasih di atas jam 11 dan dimakan di atas jam 12," imbuhnya.

Sudaryono menyebut keracunan massal di Sidoarjo ini adalah kelalaian nan disengaja. Dia menekankan setiap petugas kudu mematuhi patokan dan standar nan telah ditetapkan BGN.

"Berarti ini adalah kelalaian nan disengaja, saya ulangi, ini kelalaian nan disengaja. Aturan sudah diberikan, juklak juknis sudah diberikan, langkah sudah diberikan tapi Anda lalai dalam melaksanakan ini, namanya kelalaian nan disengaja," tegasnya.

Sudaryono menekankan hukuman tegas dalam kejadian keracunan massal di Sidoarjo ini. Dia juga meminta agar kasus ini diusut secara tuntas.

"Bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat, jika diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, minta maaf, kami tidak bisa bantu," ucap dia.

Keracunan MBG di Sidoarjo

Diketahui, seperti dilansir detikJatim, ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di sejumlah sekolah di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG dari SPPG Kalitengah pada Selasa (1/9) siang.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, melaporkan korban keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai total 664 orang. Sebanyak 77 orang tetap menjalani perawatan di beberapa akomodasi kesehatan.

Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina menyebut ada sebanyak 581 korban nan saat ini sudah diperbolehkan pulang.

"Total 664 pasien, MRS 77 pasien, KRS 581 pasien, observasi 6 pasien. Secara umum (kondisi pasien nan tetap menjalani perawatan) stabil," ujar Lakhsmie, seperti dilansir detikJatim, Kamis (3/9).

Saksikan Live DetikSore:

(lir/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News