Kenapa Celah Terbesar Wanita ialah Emosinya Sendiri? Telaah Kisah Wanda Maximoff

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Vision dan Wanda Maximoff alias Scarlet Witch di movie 'Avengers: Infinity War' (2018) Foto: IMDb

Dalam movie maupun kehidupan nyata, emosi wanita sering kali disambut dengan rasa curiga. Coba perhatikan: ketika laki-laki meluapkan kemarahan alias rasa sedihnya, bumi condong memberinya ruang pemakluman. Tindakan mereka dianggap sebagai corak perjuangan, krisis beban hidup, alias keberanian. Namun, ketika wanita meluapkan emosi nan sama besarnya, bumi kerap dengan sigap memberi satu label lama ialah histeria.

Fenomena inilah nan terekam sangat jelas dalam perjalanan karakter Wanda Maximoff (Scarlet Witch) di jagat Marvel (MCU). Karakter nan mulanya dihadirkan sebagai pahlawan super paling kuat, perlahan-lahan digeser menjadi sosok penjahat nan ditakuti semua orang. Lantas, kenapa kisah Wanda kudu berhujung tragis sebagai seolah sesosok monster? Jawabannya adalah refleksi dari langkah masyarakat kita memandang emosi dan gender.

Label "Perempuan Gila" nan Terus Berulang

Dalam sosiologi dan studi gender, ada kejadian lama di mana wanita nan punya kekuatan besar alias emosi nan terlalu kuat sering kali langsung dicap sebagai sosok nan tidak stabil, gila, alias berbahaya. Fenomena ini berakar dari mitos madwoman in the attic, sebuah stereotip sejarah di mana wanita nan emosional alias menolak tunduk bakal diasingkan dan dianggap gangguan jiwa.

Ketika Wanda kehilangan Vision dan tenggelam dalam duka nan mendalam, bumi di sekitarnya tidak merespons dengan rasa empati. Saat emosinya nan meluap menciptakan kota Westview sebagai tempatnya berlindung dari rasa sakit, tindakan Wanda langsung dianggap sebagai ancaman besar. Alih-alih dipahami sebagai proses trauma orang nan sedang berduka, emosi Wanda langsung dinilai sebagai peledak waktu nan kudu segera dimatikan.

Adanya Standar Ganda pada Perempuan

Scarlet Witch dan Vision, dua karakter Marvel Foto: www.marvel.com

Ketimpangan ini makin terlihat jelas jika kita bandingkan Wanda dengan karakter laki-laki di semesta nan sama contohnya,

Tony Stark: Saat rasa takut dan traumanya membikin dia tidak sengaja menciptakan Ultron (yang nyaris menghancurkan dunia), Tony tetap dipandang sebagai brilian nan beriktikad baik namun khilaf.

Thor: Saat Thor depresi dan mengurung diri lantaran kandas menyelamatkan dunia, rasa sakitnya disambut dengan simpati dan lelucon hangat.

Namun, perlakuan ini berbalik 180 derajat saat menimpa Wanda. Duka dan rasa sakit nan dirasakan Wanda malah dianggap sebagai tindakan egois nan jahat. Ada standar dobel nan nyata di sini ibaratnya, karakter laki-laki nan bersungkawa diberi kesempatan untuk memperbaiki diri (redemption), sedangkan wanita nan bersungkawa langsung di cap sebagai monster.

Jebakan Fantasi Peran Rumah Tangga

Hal menarik lainnya dari WandaVision adalah corak dari emosi Wanda sendiri. Sebagai wanita terkuat di alam semesta MCU, kemauan terbesar Wanda rupanya bukanlah kekuasaan alias kekuasaan dunia. nan dia impikan hanyalah kehidupan rumah tangga nan damai: punya rumah di pinggir kota, suami, dan anak-anak seperti di komedi situasi (sitkom) klasik TV.

Ini memperlihatkan ironi nan jelas terpampang. Bahkan ketika seorang wanita diberi kekuatan untuk mengubah realitas, tatanan sosial seolah mendikte bahwa kefasihan tertinggi wanita tetaplah menjadi ibu dan istri di dalam rumah. Dan ketika angan sederhana itu hancur, dia dianggap kehilangan logika sehat dan tidak bisa lagi dianggap perempuan.

Sensasionalisasi Naluri Keibuan (Motherhood)

Tragedi Wanda kian menajam ketika narasinya bersambung ke rumor keibuan. Keinginan mendalam Wanda untuk memeluk dan melindungi anak-anaknya tidak pernah dipandang sebagai corak kasih sayang nan manusiawi. Sebaliknya, media fiksi ini membingkainya sebagai obsesi nan gelap, buta, dan seolah olah mematikan.

Secara sosial, masyarakat sering memuja hatikecil keibuan (maternal instinct) selama hatikecil itu berada dalam batas-batas nan penurut. Namun, ketika kerinduan seorang ibu berubah menjadi kemarahan nan menuntut keadilan alias menolak takdir nan memisahkan mereka, hatikecil itu tiba-tiba dicap sebagai sebuah ancaman. Kerinduan Wanda untuk menjadi seorang ibu diubah dari simbol kasih sayang menjadi argumen utama untuk mencapnya sebagai villain.

Ketiadaan Support System dan Cacatnya Otoritas

Mengapa emosi Wanda akhirnya pecah dan meledak? Karena dia hidup dalam sistem nan rusak dalam merespons trauma perempuan. Lembaga otoritas seperti S.W.O.R.D tidak datang menawarkan terapi, ruang kondusif (safe space), alias pendekatan psikologis. Respons pertama mereka terhadap wanita nan sedang mengalami krisis mental adalah militerisasi dan kekerasan.

Hal ini sangat relevan dengan realita sosial kita. Ketika wanita mengalami depresi pascalahir (postpartum depression) alias trauma hebat, reaksi sekitar sering kali bukanlah merangkul, melainkan menghakimi, mengisolasi, dan memaksa mereka untuk segera sembuh demi kenyamanan orang lain. Ketiadaan sistem pendukung (support system) nan peka kelamin inilah nan akhirnya mendorong Wanda semakin dalam ke perspektif kegelapan.

Beri Ruang Bagi Perempuan untuk Merasakan Rasa Sakit

Tragedi Wanda Maximoff bukan hanya cerita fiksi tentang pahlawan super nan berubah jadi jahat. Ini adalah cermin dari langkah bumi kita memperlakukan amarah, duka, dan kewarasan perempuan. Selama emosi wanita terus dianggap sebagai ancaman daripada reaksi kemanusiaan nan wajar, selama itu pula masyarakat bakal selalu takut pada wanita nan berani mengekspresikan perasaannya secara utuh.

Sudah saatnya kita berakhir menuntut wanita untuk selalu tenang, sempurna, dan mudah dikendalikan. Karena seperti kisah Wanda, ketika rasa sakit wanita terus dibungkam, diabaikan, dan dihakimi, nan lahir bukanlah kedamaian melainkan ledakan besar nan siap meruntuhkan aturan-aturan nan tidak adil.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan