Di antara kesibukan para jagal di Hari Raya Idul Adha 2026, ada sosok Iyung (64) nan terlihat berilmu saat menyembelih hewan kurban di Gedung DPRD DKI Jakarta. Iyung rupanya sudah puluhan tahun menggeluti pekerjaan penyembelih hewan kurban.
Tangannya cekatan mengarahkan proses penyembelihan sapi. Pengalaman panjang membuatnya terlihat tenang meski menghadapi hewan berbobot besar. Bagi Iyung, menyembelih hewan bukan pekerjaan musiman.
"Umur saya udah 64. Saya motong dari umur 17 tahun," kata Iyung saat ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (27/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iyung mengatakan profesinya sebagai jagal bukan didapat secara tiba-tiba. Keahlian itu diwariskan secara turun-temurun dari keluarganya. Ia menyebut sang kakek menjadi sosok pertama nan mengenalkannya pada bumi penyembelihan hewan.
"Kakek," ujarnya singkat.
Iyung (64) Penyembelih Hewan Kurban Foto: (Belia/detikcom)
Meski sudah nyaris lima dasawarsa menjadi jagal, Iyung mengaku tetap berhati-hati saat menyembelih hewan kurban, terutama sapi. Menurutnya, pekerjaan itu tidak bisa hanya bermodal keberanian.
"Saya bilang, tukang pangkas sekarang hanya modal keberanian doang. Saya tuh takut jika nan namanya sapi, sapi Bali, itu pernah kejadian ada nan ketusuk sampai mati," tuturnya.
Menurut Iyung, salah satu kunci utama dalam penyembelihan adalah ketajaman pisau. Pisau nan kurang tajam bisa membahayakan jagal sekaligus membikin proses penyembelihan tidak melangkah baik.
"Kalau motong itu pisaunya mesti tahu, mesti tajam. Jangan pisaunya ecek-ecek," ucapnya.
Ia juga berbagi pengalaman menghadapi tantangan saat menyembelih sapi Bali. Menurutnya, posisi jagal sangat menentukan keselamatan lantaran sapi bisa menendang ke samping maupun belakang.
"Tantangannya jangan ngambil dari belakang kaki. Sapi Bali itu nendangnya begitu, sama samping," tuturnya.
Bahkan, ada kondisi tertentu nan menurutnya paling susah dihadapi, ialah saat sapi sudah mengalami stres dan mengeluarkan darah dari hidung.
"Kalau sapi sudah hidungnya berdarah, dijemur, itu lebih gila," kata dia.
Pengalaman panjang juga memberinya banyak cerita. Salah satunya saat menangani kerbau nan sudah disembelih tetapi tetap mengeluarkan tenaga terakhir.
Iyung mengaku pernah mengingatkan rekannya untuk menjaga jarak. Namun, rekannya nan tetap baru menganggap situasi kondusif hingga akhirnya terkena hantaman kerbau.
"Saya bilang tunggu tenaga terakhir dia. Akhirnya dihantam, patah ininya (kaki)," tuturnya sembari menunjuk kakinya.
Selama puluhan tahun bekerja, Iyung juga pernah mengalami cedera ringan. Ia menunjukkan bagian pelipis nan pernah terkena tumbukan saat bekerja.
Namun, usia tak membuatnya berhenti. Pada Idul Adha tahun ini saja, Iyung mengaku sejak pagi sudah berpindah-pindah letak penyembelihan.
"Udah berapa tempat. Sapinya udah 8, terus 5, 7. Ya 20-an lah," katanya.
Untuk menjaga stamina di tengah padatnya aktivitas penyembelihan Idul Adha, Iyung mengaku punya langkah tersendiri. Salah satunya dengan mengonsumsi susu kambing dan menjaga kondisi tubuh.
"Ada, minum susu kambing, segala macam lah," ujarnya.
Sebagai jagal senior, Iyung berpesan kepada generasi muda nan mau menekuni pekerjaan tersebut agar tidak meremehkan hewan kurban dan selalu mengutamakan keselamatan.
"Berhati-hatilah, jangan terlalu sombong. Jangan anggap sapi itu nggak berani ngelawan kita," imbuhnya.
Lihat juga Video 'Saat Warga Foto Bareng Sapi Kurban Prabowo-Gibran':
(bel/zap)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·