Kebijakan Bank Indonesia (BI) meningkatkan suku kembang referensi hingga 100 pedoman poin (bps) dalam 2 bulan terakhir dinilai cukup efektif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar finansial domestik di tengah tingginya ketidakpastian global. BI Rate sekarang di nomor 5,75%.
Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan langkah BI telah mempertimbangkan beragam dinamika eksternal maupun domestik. Termasuk kebijakan suku kembang bank sentral Amerika Serikat (The Fed) nan tetap mempertahankan tingkat suku kembang tinggi.
Menurut dia, salah satu tugas utama bank sentral adalah menjaga stabilitas nilai tukar. Karena itu, kebijakan penyesuaian BI Rate dilakukan dengan memperhitungkan beragam akibat terhadap perekonomian nasional.
Ia menjelaskan, keputusan The Fed nan tetap mempertahankan suku kembang di kisaran 3,25%-3,5% membikin Indonesia perlu menjaga selisih suku kembang agar tetap menarik bagi penanammodal dan bisa menjaga stabilitas pasar keuangan.
Meski kenaikan suku kembang berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi maupun aktivitas ekonomi, pemerintah menilai langkah tersebut sejauh ini sukses menjaga kondisi pasar tetap terkendali.
“Alhamdulillah hasilnya juga cukup baik. Walaupun angkanya [Rupiah] mungkin tetap Rp 17.700-Rp 17.800, tapi relatif terkendali tidak sampai ke Rp 18.000 [lagi]” ujar Susiwijono kepada wartawan, Jumat (19/6).
Susiwijono pun menilai kebijakan BI turut membantu stabilitas pasar modal. Ia mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap bisa memperkuat di atas level 6.000 di tengah tekanan dunia nan tetap berlangsung.
Menurut dia, koordinasi antara pemerintah dan BI dalam menjaga inflasi juga terus dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
BI Dinilai Responsif Hadapi Gejolak Global
Susiwijono mengatakan, kenaikan suku kembang secara berjenjang merupakan respons atas perubahan kondisi dunia nan bergerak sangat cepat. Karena itu, pertimbangan kebijakan moneter terus dilakukan dalam setiap Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.
Ia menilai bank sentral telah menjalankan peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama saat perhatian pelaku pasar tertuju pada pergerakan nilai tukar rupiah dan IHSG.
“Dengan instrumen BI rate kemarin kita naikkan beberapa kali juga cukup efektif mengontrol itu,” kata dia.
Di sisi lain, pemerintah juga mencermati hasil awal kajian MSCI mengenai aksesibilitas pasar modal Indonesia. Meski keputusan final MSCI baru diumumkan pada 23 Juni, pemerintah berambisi pasar saham Indonesia tetap berada dalam golongan emerging market.
“Dalam beberapa minggu, bulan ini, otoritas baik OJK, BI, kan ngebut untuk perbaikan semuanya. Di tingkat nasional dikoordinasikan betul,” tutupnya.
6 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·