Kemenkeu Siapkan Rem Belanja, Jaga Defisit APBN 2026 Tetap di Bawah 3%

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kiri) didampingi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kedua kanan) setibanya untuk perkenalan wakil menteri baru di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan sejumlah langkah pengendalian untuk menjaga defisit APBN 2026 tetap sesuai pemisah kondusif di bawah 3 persen. Meski realisasi awal tahun memunculkan kekhawatiran pelebaran.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah defisit APBN pada kuartal I 2026 mencapai Rp 240,1 triliun alias 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Secara hitung-hitungan sederhana, jika tren tiga bulan pertama itu bersambung sepanjang tahun, defisit berpotensi menembus 3 persen.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan, pemerintah tidak menggunakan pendekatan linier dalam menghitung proyeksi fiskal. Ia memastikan laju shopping negara tetap dikendalikan agar tidak melampaui batas.

“Tentu saja kita tidak membiarkan [belanja] melangkah tanpa ada pengendalian. Jadi tentu saja kita tidak bisa langsung mengalikannya dengan empat, lampau menjadi di atas 3 persen. Intinya seperti itu, kita sangat aware mengenai risiko-risiko itu,” kata Juda dalam aktivitas Kick Off Pinisi di Kantor Pusat Bank Indonesia, Senin (27/4).

Sebagai langkah konkret, Kemenkeu menerapkan sistem monitoring dan pertimbangan secara mingguan. Pengawasan difokuskan pada dua sisi utama, ialah optimasi penerimaan negara dan efisiensi belanja.

Di sisi penerimaan, pemerintah mencermati perkembangan setoran pajak serta tren restitusi. Sementara dari sisi belanja, Kemenkeu menyisir pos-pos pengeluaran nan tetap elastis untuk dikendalikan.

“Tentu saja kita lihat setiap minggu, dievaluasi pajaknya seperti apa, restitusinya seperti apa. Kemudian belanja-belanja nan kemarin kita kendalikan, dievaluasi melangkah sesuai dengan rencana alias tidak,” ungkapnya.

Melalui pengawasan berlapis tersebut, otoritas fiskal optimistis postur APBN 2026 tetap terjaga. Pemerintah pun percaya defisit hingga akhir tahun bakal tetap berada dalam koridor nan ditetapkan undang-undang, ialah tidak melampaui 3 persen terhadap PDB.

video story embed

Belanja Negara Tembus Rp 815 T di Kuartal I 2026

Di samping itu, Juda mengatakan shopping negara hingga kuartal I 2026 mencapai Rp 815 triliun alias tumbuh 31,4 persen yoy.

“Di triwulan I ini, shopping sudah mencapai 21,2 persen dari (target) APBN. Bandingkan dengan tahun lampau di mana shopping hanya 17,1 persen dari sasaran APBn dan growth-nya hanya 1,4 persen,” tutur Juda.

Secara rinci, shopping pemerintah pusat tercatat sebesar Rp 610,3 triliun alias 19,4 persen dari sasaran APBN, dengan pertumbuhan sebesar 47,7 persen (yoy). Adapun transfer ke wilayah mencapai Rp204,8 triliun alias 29,5 persen dari sasaran APBN, menurun 1,1 persen yoy.

Di sisi lain, pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun alias meningkat 10,5 persen yoy, setara dengan 18,2 persen dari sasaran APBN.

Penerimaan perpajakan mencapai Rp 462,7 triliun 17,2 persen dari sasaran APBN alias tumbuh sebesar 14,3 persen yoy. Sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat Rp 112,1 triliun alias 24,4 persen dari sasaran APBN alias turun 3 persen yoy.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan