ilustrasi(Antara)
Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bergerak sigap menangani bentrok antara manusia dan beruang madu (Helarctos malayanus) nan mengakibatkan seorang penduduk terluka di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) diterjunkan untuk melakukan mitigasi sekaligus mengamankan satwa nan dilindungi tersebut.
Langkah penanganan dilakukan sebagai tindak lanjut pengarahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam menjalankan petunjuk Presiden Prabowo Subianto agar keselamatan masyarakat menjadi prioritas, tanpa mengesampingkan upaya pelestarian satwa liar nan dilindungi.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan tim WRU telah dikerahkan ke letak dengan membawa satu unit kandang jebak (box trap) untuk mendukung proses penanganan di lapangan.
"Setiap laporan bentrok satwa liar kami tindak lanjuti dengan menurunkan tim WRU ke lapangan. Penanganan dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian satwa liar," ujar Supartono di Pekanbaru, Jumat (7/8).
Menurutnya, BBKSDA Riau juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, abdi negara keamanan, serta masyarakat setempat agar proses mitigasi dapat melangkah efektif dan akibat bentrok serupa dapat diminimalkan.
Berdasarkan info dari perangkat desa, peristiwa bermulai ketika korban sedang beraktivitas di kebunnya. Saat itu, seekor beruang madu tiba-tiba menyerang dari arah belakang.
Korban berupaya melawan hingga satwa tersebut akhirnya melarikan diri. Meski sukses selamat, korban mengalami sejumlah luka dan sempat tidak sadarkan diri akibat kehilangan banyak darah sebelum dievakuasi family ke Rumah Sakit Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan perawatan medis.
Supartono menegaskan bahwa beruang madu merupakan satwa nan dilindungi berasas ketentuan peraturan perundang-undangan. Karena itu, setiap penanganan bentrok dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan keselamatan manusia sekaligus menjaga keberlangsungan populasi satwa beserta kediaman alaminya.
Sebagai langkah antisipasi, Tim WRU BBKSDA Riau berbareng abdi negara desa telah memasang kandang jebak di sekitar letak kejadian sejak Kamis (6/8/2026). Upaya tersebut diharapkan dapat membantu proses pengamanan satwa sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa.
BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat nan beraktivitas di area nan berbatasan dengan kediaman satwa liar agar tidak bertani seorang diri. Warga diminta segera melaporkan kepada petugas andaikan menemukan keberadaan alias pergerakan satwa liar di sekitar permukiman maupun area perkebunan sehingga penanganan dapat dilakukan lebih sigap dan aman. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·