Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong adanya pengembangan super apps transportasi nasional nan terintegrasi dengan big data untuk meningkatkan kualitas jasa transportasi di Indonesia.
Direktur Jenderal Integrasi Moda Transportasi (Intramoda) Kemenhub Risal Wasal mengatakan, super apps tersebut nantinya terhubung dengan beragam info transportasi, mulai dari info pasokan dan permintaan hingga info operator.
Menurutnya, integrasi info diperlukan untuk mengatasi kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dengan jasa transportasi nan tersedia di beragam wilayah Indonesia.
"Big info itu berisi data-data mengenai dengan supply-demand, operator, dan lain-lain. Super apps itu memastikan gimana kemudahan untuk melaksanakan jasa transportasi," kata Risal dalam Seminar Nasional Masyarakat Transportasi (MTI) di Millenium Hotel Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (4/8).
Risal menjelaskan, super apps tersebut juga bakal mendukung jasa transportasi nan berkarakter on-call alias tidak terjadwal. Dengan sistem tersebut, kebutuhan pikulan dapat disesuaikan dengan kesiapan moda transportasi di suatu wilayah.
Dia mencontohkan persoalan pengedaran peralatan di wilayah nan terkadang terkendala lantaran tidak tersedianya kapal dengan kapabilitas alias akomodasi nan sesuai kebutuhan.
"Kalau di misalnya tadi ada satu wilayah, dia berproduksi, tol lautnya tetap lama nih, alias tolnya sudah lewat. Dengan super apps, dengan big info ini, mereka bisa memandang kapal apa terdekat nan bisa digunakan, tidak terjadwal," ujar Risal.
Menurut Risal, sistem tersebut juga dapat mempertemukan kebutuhan pengiriman peralatan dari satu wilayah dengan wilayah lain. Data nan terintegrasi memungkinkan operator mengetahui peralatan nan dapat dibawa dari satu titik ke titik berikutnya.
"Dengan big data tadi sudah ketemu lagi ada peralatan apa lagi bisa dibawa dari (lokasi) B ke mana lagi. Jadi info big data ini memastikan pergerakan peralatan dilayani," katanya.
Risal menuturkan, konsep tersebut diharapkan dapat mengatasi kesenjangan jasa transportasi, terutama di wilayah terpencil, tertinggal, terdepan, dan perbatasan (3TP).
Dia menegaskan, wilayah 3TP bukan berfaedah wilayah miskin, melainkan area nan belum mendapatkan jasa transportasi secara optimal. Kondisi tersebut dapat membikin beragam produk daerah, seperti hasil perikanan, susah didistribusikan keluar wilayah.
"3TP bukan wilayah miskin, tapi wilayah nan belum terlayani dengan baik transportasinya, hingga produk-produk mereka belum keluar dari daerahnya," kata Risal.
Selain untuk pikulan barang, super apps tersebut juga diarahkan untuk mendukung perjalanan masyarakat. Risal menyebut sistem itu bakal memuat info agenda secara real-time, perencanaan perjalanan, pemesanan terintegrasi, serta laporan dan umpan kembali dari pengguna.
"Kita mencoba membikin suatu info agenda secara real-time, kita membikin suatu perencanaan perjalanan, Bapak Ibu juga pemesanan terintegrasi," ujarnya.
Risal mengatakan, integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya Kemenhub meningkatkan kualitas konektivitas transportasi nasional. Sebab, menurut dia, konektivitas antarwilayah saat ini sudah terbentuk, tetapi kualitas integrasi jasa tetap perlu ditingkatkan.
"Konektivitas sudah terjadi, integrasi mungkin sudah terjadi, tapi kualitas itu nan nggak terjadi," kata Risal.
Dia mencontohkan persoalan tersebut dapat terlihat dari perbedaan agenda antarmoda nan belum selalu selaras. Karena itu, Kemenhub mendorong integrasi transportasi tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga mencakup jaringan, pembayaran, informasi, dan kelembagaan.
Risal berambisi pengembangan big info dan super apps tersebut dapat membikin jasa transportasi di beragam wilayah menjadi lebih mudah diakses serta mengurangi kesenjangan jasa dari hulu hingga hilir.
"Ini nan sedang kita siapkan dan sudah tersedia sistemnya," ujar Risal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·