Ilustrasi(Dok Istimewa)
KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat sinergi dengan pemerintah wilayah dalam memperluas penerapan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) bagi Anak Tidak Sekolah (ATS). Komitmen tersebut ditandai dengan dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Pendidikan Menengah Tahun Ajaran 2026/2027 di beragam satuan pendidikan penyelenggara PJJ.
Pelaksanaan MPLS menjadi tahap awal bagi siswa baru untuk mengenal karakter pembelajaran PJJ. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal bagi satuan pendidikan untuk memetakan kebutuhan belajar setiap siswa sehingga jasa pendidikan dapat disesuaikan dengan kondisi dan karakter masing-masing.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa keberhasilan Pendidikan Jarak Jauh tidak dapat diwujudkan hanya melalui kebijakan pemerintah pusat ataupun menjadi tanggung jawab satuan pendidikan semata. Menurutnya, diperlukan kerjasama nan erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan nan bisa menjangkau setiap anak.
"Keberhasilan PJJ ditentukan oleh keahlian kita membangun sebuah ekosistem. Ketika pemerintah pusat menyiapkan kebijakan dan sistem, pemerintah wilayah melakukan penjangkauan, satuan pendidikan menghadirkan jasa pembelajaran, dan masyarakat bersama-sama memastikan bahwa setiap anak memperoleh kesempatan kembali untuk belajar," ujar Fajar dilansir dari keterangan resmi, Selasa (4/8).
Fajar juga optimistis bahwa penguatan tata kelola, sistem penyelenggaraan, dan penjaminan mutu nan terus dilakukan bakal semakin meningkatkan kualitas Pendidikan Jarak Jauh sehingga bisa menghasilkan lulusan nan mempunyai kualitas setara dengan pendidikan umum reguler.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan bahwa MPLS PJJ tidak hanya menjadi aktivitas pengenalan lingkungan belajar, tetapi juga fondasi bagi siswa untuk membangun karakter, kemandirian, dan literasi digital sebagai bekal mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Komitmen tersebut mendapat support dari beragam pemerintah daerah. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa Pendidikan Jarak Jauh merupakan bagian dari upaya menghadirkan jasa pendidikan nan bisa menjangkau seluruh anak tanpa terkendala kondisi geografis maupun latar belakang sosial ekonomi.
"Bagi kami, filosofi Pendidikan Jarak Jauh adalah sekolah nan mendatangi anak, bukan menunggu anak datang ke sekolah. Pendidikan kudu bisa menjangkau siapa pun tanpa memandang kondisi geografis maupun latar belakang sosial ekonomi," ujar Emil.
Senada dengan itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, berambisi Pendidikan Jarak Jauh dapat membuka akses belajar nan lebih luas bagi anak-anak nan selama ini belum memperoleh jasa pendidikan. "Tentu ini menjadi angan kita berbareng agar tidak ada lagi anak-anak nan kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan," ujar Mahyeldi.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana, juga menegaskan pentingnya support seluruh ekosistem pendidikan agar siswa dapat mengikuti proses pembelajaran secara berkelanjutan. "Kami meyakini bahwa keberhasilan anak tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga oleh support family di rumah serta lingkungan masyarakat," kata Nahdiana.
Pelaksanaan MPLS Pendidikan Jarak Jauh Tahun Ajaran 2026/2027 menjadi langkah awal penerapan PJJ pada jenjang pendidikan menengah di beragam daerah. Melalui kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat, Kemendikdasmen terus memperkuat penerapan Pendidikan Jarak Jauh agar semakin banyak Anak Tidak Sekolah memperoleh kesempatan untuk kembali belajar. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·