Kemenangan Iran

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Warga Iran menghadiri upacara peringatan 40 hari sejak almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan Israel dan AS, di Teheran, Iran, Kamis (9/4/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS

Setelah 40 hari perang melawan Amerika Serikat-Israel, Iran layak merayakan kemenangan sekaligus memperingati 40 hari gugurnya Ayatullah Ali Khemenei. Warga Iran turun ke jalan, tumpah ruah, termasuk Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Mereka tenggelam euforia kemenangan. Kemenangan ini memang layak dirayakan, khususnya setelah Iran sukses mengusulkan 10 poin nan bakal dibahas dalam perundingan di Pakistan.

Dari 10 poin nan diajukan Iran, secara definitif kita dapat menilai dan berkesimpulan perihal kemenangan Iran. Akhirnya, AS menerima 10 poin Iran nan diajukan Iran untuk menjadi bahan perundingan. 10 poin tersebut belum tentu semuanya bakal diterima AS, tapi AS tidak mempunyai pilihan selain memilih jalur diplomasi.

Kemenangan Iran ini juga bisa dilihat secara terbalik, baik di Amerika Serikat maupun Israel. Meskipun Presiden Trump berulang kali menyatakan bahwa AS telah memenangi perang dengan Iran, tidak ada seremoni kemenangan sebagaimana terjadi di seantero Iran. Alih-alih merayakan kemenangan, penduduk AS justru turun ke jalan menentang keputusan perang terhadap Iran. Bahkan muncul gerakan, baik di Kongres maupun Senat AS untuk memakzulkan Presiden dan Wakil Presiden. Sedari awal perang, banyak analis dan cerdik-cendekia Amerika Serikat nan memprediksi kegagalan Trump dalam perang melawan Iran.

Begitu halnya di Israel, tidak ada seremoni kemenangan. Klaim kemenangan nan kerap dikhutbahkan Netanyahu direspons sunyi oleh pendukung dan pihak oposisi di Israel. Dalam dua perang terakhir dengan Iran, Israel semakin terlihat rentan dan mudah dihujani rudal-rudal Iran. Israel nan selama ini dikenal sebagai wilayah nan tidak tersentuh rudal-rudal dari negara lain, toh faktanya mudah ditembus oleh rudal-rudal terbaru Iran. Maknanya, Israel tidak bisa lagi mengeklaim sebagai negara nan bisa menangkal rudal-rudal dari Iran.

Saat ini, Israel berada pada titik terendah, baik di mata warganya maupun penduduk dunia. Israel kudu menerima realita pahit, bahwa Iran dan proksi perlawanan di area telah menjadi ancaman serius, nan setiap saat bisa mengganggu, bahwa Iran dapat menghempaskan mereka kapan saja. Andai saja tidak dibantu Amerika Serikat, Israel bisa betul-betul tamat.

Kemampuan rudal-rudal Iran dalam menghancurkan pangkalan militer di Negara-Negara Teluk dan sejumlah sasaran strategis di Israel telah memberikan pelajaran berharga, bahwa Iran tidak bisa lagi dianggap sebelah mata. Iran tidak bisa lagi dianggap sebagai negara lemah secara militer. Iran sebelum dan setelah perang tidaklah sama.

Seorang wanita memegang foto mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Pemimpin Tertinggi Iran nan baru, Mojtaba Khamenei, selama upacara peringatan 40 hari kematian Ayatollah Ali Khamenei di di Teheran, Iran, Kamis (9/4/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS

Di Tanah Air, setelah 40 hari perang, apalagi setelah perang 12 hari pada bulan Juni lalu, warganet memberikan apresiasi dan simpati nan setinggi-tingginya kepada Iran. Kedutaan Besar Iran di Jakarta didatangi oleh ribuan penduduk sebagai corak simpati dan empati, penduduk menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khemenei.

Mereka juga memberikan support materiil dengan mentransfer ke rekening nan disediakan Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, nan secara simbolik merupakan support moril bagi Iran. Bahkan, anak-anak nan baru lahir diberi nama Ali Khemenei sebagai angan agar mereka kelak tumbuh menjadi pemimpin nan alim, tulus, sabar, berani, teguh, dan kokoh di tengah ancaman negara adikuasa sekalipun.

Pemandangan tersebut mirip pada tahun 1979 saat Revolusi Islam Iran. Sosok Khomeini menjadi figur dan ikon di bumi Islam, termasuk di Indonesia. Revolusi nan dipimpin Khomeini dapat menggulingkan rezim Shah Pahlevi nan dikenal sangat dekat dengan Amerika Serikat. Sejak 1979 hingga saat ini, Iran menjadi di antara negara nan tidak mempunyai Kedutaan Besar Amerika Serikat. Bahkan, Kedutaan Amerika Serikat pada masa rezim Shah Pahlevi tetap menjadi “monumen revolusi”.

Lalu, pada aspek mana dapat disebut sebagai kemenangan Iran? Pertama, kemenangan strategis. Kemenangan strategis ini membuktikan Iran sebagai negara nan mempunyai kualitas pendidikan dan perhatian pada sains, termasuk dalam pengembangan alutsista dalam perang teranyar. Kekuatan logika, matematika, nalar, logika budi, dan logika sehat menjadi pemandangan nan mengemuka selama perang.

Istimewanya, pemandangan ini terlihat menjadi pemandangan umum. Setelah gugurnya Ayatullah Ali Khomenei, lampau diganti oleh Mojtaba Ali Khomenei nyaris tidak ada nan berubah. Pergantian rezim nan ditengarai Trump sebagai akhir dari Republik Islam Iran, rupanya salah besar. Iran di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Mojtaba Ali Khomenei menunjukkan kelebihan nan serupa. Bahkan, serangan Iran ke Israel dan pangkalan militer di negara-negara Teluk semakin eskalatif dan mematikan.

Kemenangan strategis ini telah membangkitkan kesadaran negara-negara sekutu Amerika Serikat, seperti negara-negara Uni Eropa, Inggris, dan Australia untuk mengambil jalan berbeda. Secara terbuka mereka tidak memberikan support militer terhadap AS. Bahkan, sebagian dari mereka secara terang-terangan menentang serangan AS-Israel ke Iran. Sebab itu pula, Presiden Trump secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap NATO, khususnya negara-negara Eropa.

Kedua, kemenangan diplomasi. Iran sejak lama menunjukkan negara nan berpegang pada jalur diplomasi. Bahkan, Iran diserang saat tetap melakukan diplomasi. 10 poin nan diajukan Iran melalui mediator Pakistan menunjukkan keteguhan dan keberanian dalam diplomasi. Tidak hanya itu, di panggung diplomasi, Iran bisa menunjukkan figur-figur diplomat dan ahli bicara nan handal dan memikat publik. Salah satu sosok diplomat nan menarik perhatian publik internasional, termasuk di Tanah Air, ialah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Cuitan Trump nan dikenal sarkastik dibalas dengan santuy dan banyolan nan tidak jarang menghujam.

Ketiga, kemenangan ideologis. Di kembali keberanian, keteguhan, ketulusan, dan kesabaran nan ditunjukkan Iran, dari Pemimpin Tertinggi hingga warganya merupakan buah manis dari ideologi nan ditanamkan Imam Khomeini sejak revolusi Islam Iran 1979. Kedaulatan, kemandirian, dan berkarakter dalam kebudayaan menjadikan Iran sebagai negara nan bisa menunjukkan identitasnya sebagai peradaban besar. Iran bukan hanya sekadar sebuah negara, melainkan sebuah peradaban adiluhung.

Pada tahun 2005, Ayatullah Ali Khemenei mencanangkan visi Iran 2025, nan di dalamnya merupakan pengembangan dari visi Revolusi Islam Iran 1979, dengan menjadikan ekonomi, pendidikan, sains, dan persenjataan mutakhir. Kini, pada tahun 2026, Iran betul-betul memetik buahnya.

Iran memberikan pelajaran berbobot bagi kita semua, bahwa ideologi, diplomasi, dan strategi merupakan perihal nan tidak bisa dipisahkan. Ketiganya merupakan fondasi krusial dalam konteks negara-bangsa untuk membangun peradaban besar. Harian terbesar di Amerika Serikat menulis, "The War is Turning Iran Into a Major World Power".

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan