Kemenag Latih Ratusan Siswa sebagai Edukator Sebaya Cegah Pernikahan Anak

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Kemenag Latih Ratusan Siswa sebagai Edukator Sebaya Cegah Pernikahan Anak Ilustrasi(Dok Istimewa)

DIREKTORAT Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama melatih ratusan siswa madrasah dan sekolah menjadi edukator sebaya untuk mendukung pencegahan pernikahan anak. Pembinaan tersebut dilakukan melalui program Peer Educator nan berjalan sejak 2024 hingga 2026.

Sebanyak 480 siswa mengikuti pembentukan Peer Educator pada 2024–2025. Mereka berasal dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Utara. Program tersebut dilanjutkan pada 2026 dengan melibatkan 80 siswa dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Para siswa dibekali pengetahuan dan keahlian untuk menyampaikan edukasi kepada kawan sebaya mengenai persoalan nan dekat dengan kehidupan remaja, khususnya akibat dan akibat pernikahan anak. Mereka mengikuti seleksi dan pembinaan sebelum menjalankan peran sebagai edukator sebaya.

Dari rangkaian pembinaan tersebut, Kemenag juga menetapkan 90 siswa dari delapan provinsi sebagai Duta Nasional Peer Educator. Mereka menjadi bagian dari jaringan edukator sebaya nan diharapkan dapat memperluas penyampaian pesan pencegahan pernikahan anak melalui pendekatan nan dekat dengan kehidupan remaja.

Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, pendekatan sebaya krusial lantaran remaja condong lebih mudah menerima pesan dari kawan seusianya. Komunikasi nan setara dan dekat dengan keseharian membikin edukasi lebih mudah dipahami serta membuka ruang bagi remaja untuk membicarakan persoalan nan mereka hadapi.

“Program Peer Educator ini datang lantaran kami di Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, meyakini satu perihal penting: bahwa bunyi sebaya sesungguhnya lebih mudah didengar oleh sebaya,” ujar Abu Rokhmad saat aktivitas Peer Educator di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

“Adik-adik tidak hanya bakal dibekali dengan pengetahuan tentang ancaman dan akibat pernikahan usia anak, tentang kesehatan reproduksi, tentang hak-hak anak, maupun tentang keahlian komunikasi dan konseling sebaya,” sambungnya.

Abu Rokhmad meminta para Peer Educator menjadi pendengar nan baik bagi teman-temannya. Mereka diharapkan bisa datang ketika kawan sebaya mengalami tekanan, menghadapi persoalan keluarga, alias mendapat dorongan untuk menikah pada usia nan belum semestinya.

“Jadilah pendengar nan baik bagi teman-teman kalian. Jadilah sahabat nan datang ketika ada kawan nan mulai ragu, nan mulai tertekan oleh keadaan, alias apalagi nan mulai dijodohkan alias diarahkan untuk menikah di usia nan belum semestinya,” tuturnya.

Ia juga meminta para edukator menyampaikan pesan dengan bahasa nan dekat dengan kehidupan remaja. Menurutnya, pembinaan tidak sekadar bermaksud memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu remaja memandang pilihan dan masa depan nan lebih baik.

“Sampaikan dengan bahasa kalian sendiri, dengan langkah kalian sendiri, bahwa ada jalan lain, ada masa depan lain, ada pilihan lain nan jauh lebih baik untuk diperjuangkan,” ujarnya.

Kemenag berambisi Peer Educator dapat menjadi penggerak perubahan di lingkungan sekolah dan organisasi remaja. Para edukator diharapkan meneruskan edukasi mengenai pencegahan pernikahan anak, kesehatan reproduksi, kewenangan anak, serta keahlian komunikasi kepada kawan sebaya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia