Kuasa norma family Sutrimo mengungkap awalnya tidak meletakkan kecurigaan apa pun saat menerima jenazah Sutrimo. Belakangan family mulai mempertanyakan sejumlah kejanggalan, mulai soal arsip dari rumah sakit, kondisi jenazah, hingga soal ponsel dan peralatan pribadi Sutrimo nan tak kunjung dikembalikan.
Pria asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu sebelumnya ditemukan meninggal bumi dengan kondisi mulut berbusa di depan klinik kecantikan Mordent di area Jakarta Selatan, Kamis (23/7). Keluarga menerima jenazah dalam kondisi sudah dikafani sehingga tidak memandang adanya sesuatu nan mencurigakan.
"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayit sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada nan mencurigakan," kata Kuasa norma family Sutrimo, Aan Rohaeni, seperti dilansir detikJateng, Senin (10/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, family mengetahui Sutrimo mempunyai riwayat penyakit gula. Mereka mendapat info bahwa kadar gula darah Sutrimo disebut mencapai 600. Alhasil, family saat itu menerima kematian Sutrimo sebagai sesuatu nan wajar. Apalagi jenazah segera dipulangkan dan langsung dimakamkan pada hari nan sama.
"Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujarnya.
Menurut Aan, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh kepercayaan family nan mau segera memakamkan jenazah. Saat itu family juga mendapat info bahwa ponsel dan peralatan pribadi milik Sutrimo bakal dikirimkan menyusul keesokan harinya.
Namun, beberapa hari setelah pemakaman, muncul pemberitaan mengenai kematian Sutrimo. Hal itu membikin family mulai bertanya-tanya mengenai apa nan sebenarnya terjadi.
"Beberapa hari kemudian kan ada buletin dan lain-lain. Pihak family ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih," ucap Aan.
Aan mengatakan family juga berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi mereka mulai merasakan adanya kejanggalan, tetapi di sisi lain mereka takut berhadapan dengan perkara besar.
"Karena ini berangkaian dengan tokoh besar dan perkara besar nan ada di Indonesia. Mereka menyadari jika misalnya kelak ada laporan, family pasti direpotkan. Mereka ketakutan," kata dia.
Ponsel-Dompet Tak Kunjung Kembali
Kecurigaan family kemudian semakin bertambah setelah sejumlah peralatan pribadi milik Sutrimo tak kunjung dikembalikan.
"Setelah kita lihat belakangan, HP nggak pulang-pulang. Dompet nggak pulang dan lain-lain. Ya mereka juga kecurigaannya bertambah," tutur Aan.
Keluarga Sutrimo juga mempertanyakan orang nan mengantarkan jenazah. Menurut Aan, nomor telepon orang tersebut sebelumnya tetap dapat dihubungi, tetapi kemudian tidak aktif.
Aan menyebut family Sutrimo mempunyai keterbatasan. Mereka tidak mempunyai keahlian secara finansial untuk menghadapi proses panjang jika perkara tersebut dilaporkan.
"Mereka merasa, 'saya ini siapa'. Siapa nan menjamin jika ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang. Sementara mereka itu untuk hidup saja susah. Kondisi emosional keluarga, terutama ibu Sutrimo, juga menjadi salah satu pertimbangan," ujarnya.
Kaget Temukan Formulir Kronologi
Persoalan lain muncul setelah Aan memperoleh arsip nan disebut berangkaian dengan kronologi kondisi Sutrimo sebelum meninggal. Aan mengaku terkejut setelah menerima info bahwa dalam arsip itu disebutkan soal busa nan keluar dari mulut dan hidung Sutrimo.
"Saya kaget, nggak ada loh. Kita nggak ada surat dari keterangan rumah sakit nan ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, lantaran tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan," katanya.
Menurut Aan, blangko kronologi tersebut tidak pernah disampaikan kepada pihak family Sutrimo saat jenazah dipulangkan.
"Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu blangko kronologis tadi," ujar Aan.
Aan kemudian membandingkan arsip nan diperolehnya dengan arsip nan dimiliki family Sutrimo. Dia menyebut terdapat kesamaan tanda tangan dalam blangko tersebut.
"Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio (Adiono) itu kan identik dengan nan ada di kami," ungkapnya.
Dari temuan tersebut, family kemudian menilai ada argumen untuk mempertanyakan proses pemulangan jenazah Sutrimo, termasuk kenapa blangko kronologis tersebut tidak ikut diserahkan kepada keluarga.
Baca selengkapnya di sini
(idh/idh)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·