Kekerasan Seksual Jadi Alat Israel Intimidasi dan Usir Warga Palestina

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Kekerasan Seksual Jadi Alat Israel Intimidasi dan Usir Warga Palestina

Kekerasan Seksual Jadi Alat Israel Intimidasi dan Usir Warga Palestina (Unsplash)

TEPI BARAT - Pemukim Israel menggunakan kekerasan seksual sebagai perangkat untuk mengintimidasi penduduk Palestina. Kekerasan dan pelecehan seksual itu dimaksudkan untuk mengusir penduduk Palestina dari rumahnya. 

Seorang penduduk Qusay Abu al-Kabash (29) menderita secara bentuk dan psikologis akibat serangan seksual nan diduga dilakukan sekelompok pemukim nan menyerang organisasi Badui tempat dia tinggal di Lembah Yordania, Tepi Barat, nan diduduki.

Pada 13 Maret, di tengah malam, lebih dari 70 pemukim menyerang Khirbet Hamsa al-Fawqa.

Qusay mengatakan kepada Al Jazeera, para pemukim membagi diri menjadi beberapa golongan untuk menyerang tenda-tenda Palestina. Lima pemukim menyerang tendanya – tempat dia tidur – dan mulai memukulinya dengan keras menggunakan tangan dan tongkat. Mereka juga menyerang dua aktivis wanita asing nan tidur di tenda nan sama.

“Para pemukim kemudian secara paksa melepas celana saya sembari mengikat tangan dan kaki saya, mengikat tubuh saya dengan ikat pinggang, dan menelanjangi busana dalam saya,” kata Qusay, melansir Al Jazeera, Kamis (23/4/2026). 

Ia menceritakan, para pemukim kemudian memukuli perangkat kelaminnya, mengikat personil tubuh dan perangkat kelaminnya dengan ikatan plastik, dan mempermalukannya, sebelum menakut-nakuti bakal mengulangi serangan itu jika dia tidak meninggalkan wilayah tersebut.

Serangan terhadap Qusay dan semua masyarakat wilayah itu berjalan selama kurang lebih 45 menit. Selama waktu itu, banyak penduduk, termasuk anak-anak, melaporkan dipukuli, dan mengatakan mereka diancam bakal dibunuh jika mereka tidak segera pergi. Para pemukim juga mencuri ratusan ternak.

Pada akhir serangan, Qusay mengatakan para pemukim menyeretnya di tanah tanpa busana dalam dan memukulinya dengan keras di seluruh tubuhnya, termasuk matanya, nan kemudian membengkak.

“Dampak psikologis dari serangan seksual itu jauh lebih besar daripada akibat fisiknya,” kata Qusay. 
“Setelah serangan itu, saya merasa sangat marah dan mudah tersinggung, dan saya lebih suka duduk sendirian, merasa tertekan.”

Dipaksa Tinggalkan Rumah

Kekerasan seksual dan pelecehan nan disengaja semakin umum terjadi di Tepi Barat nan diduduki, nan dilakukan oleh tentara dan pemukim Israel. Menurut para pengamat, tindakan-tindakan ini bukan lagi kejadian terisolasi, melainkan perangkat sistematis nan digunakan Israel untuk menekan penduduk Palestina dan memaksa mereka meninggalkan rumah mereka.

Pada 20 April, Konsorsium Perlindungan Tepi Barat – nan dipimpin Dewan Pengungsi Norwegia dan didanai Uni Eropa dan beberapa negara Eropa – menerbitkan sebuah laporan berjudul, Kekerasan Seksual dan Pemindahan Paksa di Tepi Barat. Laporan itu mendokumentasikan kasus-kasus kekerasan seksual mengenai bentrok selama nyaris tiga tahun di wilayah Palestina.

Laporan tersebut mendokumentasikan pemaksaan telanjang, penggeledahan tubuh nan invasif, ancaman pemerkosaan, dan pelecehan seksual. Laporan tersebut menyimpulkan lebih dari 70 persen family pengungsi nan diwawancarai mengatakan bahwa ancaman terhadap wanita dan anak-anak, khususnya kekerasan seksual, merupakan aspek penentu dalam meninggalkan rumah mereka.

Namun, masalahnya mungkin lebih besar dari nan dijelaskan dalam laporan tersebut, lantaran kesulitan dokumentasi, rasa takut, dan stigma sosial nan mengenai dengan kekerasan seksual.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com