Ilustrasi(MI/Haryanto Mega)
KEBAKARAN rimba dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu dan Gunung Sumbing, Jawa Tengah, memaksa penanganan diperkuat. Dua helikopter TNI disiapkan untuk mendukung operasi water bombing nan dijalankan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di tengah hambatan angin kencang dan cuaca nan menyulitkan pemadaman dari udara.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, penanganan karhutla di Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, telah ditingkatkan setelah pemerintah kabupaten setempat menetapkan status tanggap darurat. Sementara di Gunung Sumbing, Kabupaten Wonosobo, pemadaman sementara mengandalkan petugas di darat.
“Bupati sudah koordinasi dengan kita. Sudah ditingkatkan menjadi tanggap bencana. Juga ada dua helikopter dari TNI nan kelak dioperasionalkan oleh BNPB,” kata Luthfi seusai meninjau operasional Koperasi Desa Merah Putih di Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (20/10).
Upaya pemadaman dari udara di Gunung Lawu telah dilakukan dalam dua sorti penerbangan. Namun, angin kencang dan kondisi cuaca menjadi tantangan bagi pilot untuk melakukan manuver saat operasi berlangsung.
Berdasarkan laporan penanganan, api telah membakar sekitar 230 hektare area rimba di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Petugas campuran melakukan pemadaman secara manual sekaligus membikin sekat bakar untuk membatasi pergerakan api agar tidak menjalar ke area lain.
Kondisi di Gunung Sumbing juga menjadi perhatian. Kebakaran terjadi di area Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Luas area terdampak tetap dalam pendataan, sedangkan 152 pendaki dilaporkan telah dievakuasi dari area tersebut.
Untuk sementara, pemadaman di Gunung Sumbing dilakukan melalui jalur darat. Dukungan pemadaman udara bakal dipertimbangkan dengan memandang perkembangan api dan kondisi operasi di lapangan.
Di tengah upaya menjinakkan api, Luthfi meminta kepolisian menyelidiki penyebab kebakaran di kedua area gunung tersebut. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Polda Jawa Tengah agar kemungkinan adanya unsur kesengajaan turut didalami.
“Kapolda juga saya koordinasikan dengan jejeran untuk melakukan penyelidikan. Jangan sampai ada unsur kesengajaan di sana,” tegasnya.
Penyelidikan diperlukan untuk memastikan penyebab kebakaran sekaligus mengantisipasi kejadian serupa. Terlebih, kebakaran di area pegunungan tidak hanya menakut-nakuti kelestarian hutan, tetapi juga berisiko terhadap keselamatan pendaki, petugas pemadam, dan masyarakat di sekitar area terdampak.
Luthfi juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas nan berpotensi memicu kebakaran, terutama saat berada di area rimba dan pegunungan. Pembakaran terbuka dan kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan kudu dihindari.
“Harapan saya, saya mengimbau kepada masyarakat agar upaya pencegahan kebakaran itu kudu kita maksimalkan,” ujarnya.
Di tengah kondisi cuaca nan menyulitkan pemadaman dari udara, pencegahan menjadi bagian krusial untuk menekan akibat meluasnya kebakaran. Masyarakat diminta ikut menjaga area rimba dan segera melaporkan jika menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. (HT/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·