Kata Bos Danantara Impor Gula Tak Terkontrol, Ungkap Jurus Swasembada

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mendorong konsolidasi upaya gula melalui penggabungan BUMN. Saat ini, kata dia, terdapat dua entitas utama di sektor gula, ialah Sugar Co di bawah PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dan pabrik gula di bawah ID Food.

Hal itu disampaikannya saat rapat kerja berbareng pemerintah dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Konsolidasi ini, lanjut dia, sejalan dengan transformasi BUMN, mulai dari melikuidasi perusahaan dinilai tidak lagi layak, divestasi demi konsentrasi upaya inti, konsolidasi upaya sejenis, dan restrukturisasi.

Melalui merger, seluruh upaya gula ID Food bakal digabungkan ke SGN agar terbentuk entitas manufaktur nan lebih konsentrasi dan terintegrasi. Sementara itu, ID Food bakal diarahkan untuk konsentrasi pada upaya perdagangan.

"Sejalan dengan proses itu, kita mau melakukan proses konsolidasi dengan melakukan merger, penggabungan dari ID Food ke SGN. Tujuannya SGN bakal konsentrasi ke agriculture manufacture company untuk gula dan tanaman lainnya," terang dia.

"ID Food bakal konsentrasi bisnisnya menjadi trading company (bisnis perdagangan). Jadi memang ini sengaja kita lakukan sehingga mereka konsentrasi kepada core business-nya masing-masing," kata Dony.

Dengan konsolidasi tersebut, pemerintah menargetkan terbentuknya satu holding gula nan menguasai sebagian besar pangsa pasar nasional. Juga, langkah ini bermaksud memperjelas konsentrasi upaya masing-masing entitas agar lebih efektif dalam menjalankan perannya di industri.

"Dengan demikian kita mempunyai satu holding pabrik gula nan menguasai 60 persen dari total market share nan ada di Indonesia," ujarnya.

Ditemui usai rapat, Dony menambahkan kerugian tersebut terjadi pada tahun sebelumnya, ialah tahun 2025, dan menjadi sinyal kuat perlunya transformasi di industri gula. Ia menilai, tanpa perbaikan, tekanan tidak hanya dirasakan perusahaan besar tetapi juga petani.

"Tahun lalu. Tapi jangan dilihat itu, artinya kita memandang bahwa, kudu memandang anglenya itu kita kudu melakukan transformasi perubahan di dalam industri gula kita," jelas Dony.

Ia juga memastikan proses merger bakal segera dirampungkan dalam waktu dekat sebagai bagian dari restrukturisasi BUMN sektor gula.

"Bulan depan kudu sudah kudu selesai," katanya.

Selain itu, seluruh perusahaan gula milik ID Food bakal diintegrasikan ke dalam SGN, sementara kegunaan perdagangan tetap dijalankan oleh ID Food.

"Kita bakal mengambil alih semua perusahaan gulanya ID Food dan disatukan ke dalam SGN," ujarnya.

Tekanan Impor Gula

Dalam kesempatan tersebut, Dony menyoroti importasi gula dan langkah pemerintah untuk merealisasikan swasembada gula. Untuk itu, imbuh dia, perlu ada kesungguhan menyelesaikan persoalan nan ada. Yaitu, kebocoran gula rafinasi ke pasar-pasar konsumsi.

"Kalau ini diteruskan, susah untuk industri gula kita berkembang akibat kebocoran-kebocoran gula rafinasi ke pasar. Saya berambisi sejalan dengan apa nan diharapkan Presiden Prabowo, bahwa kali ini kita betul-betul serius menata ulang industri gula kita. Kalau tidak kita rapat begini terus-terusan saja, tapi impactnya tidak bakal selesai-selesai," ucapnya.

Dia mengungkapkan, perusahaan gula pelat merah, ialah Sugar Co mencatatkan kerugian hingga Rp680 miliar. Kerugian ini disebut terjadi akibat tekanan nilai nan dipicu masuknya gula rafinasi impor ke pasar gula konsumsi.

"Tahun ini, Sugar Co membukukan rugi Rp 680 miliar akibat daripada nilai nan memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula nan tidak terkontrol," kata Dony.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak lepas dari kebocoran gula rafinasi nan masuk ke pasar gula konsumsi, sehingga menekan nilai gula dalam negeri dan membikin industri susah berkembang. Menurutnya, jika persoalan ini terus berlanjut, maka industri gula nasional bakal terus tertekan dan susah tumbuh.

Dony juga menyinggung langkah intervensi nan sebelumnya dilakukan pemerintah, termasuk penyerapan gula masyarakat melalui subsidi. Namun, upaya tersebut dinilai belum memberikan akibat signifikan terhadap perbaikan pasar.

"Saya dengan Pak Mentan (Menteri Pertanian Amran Sulaiman) sudah berkali-kali, sebetulnya kita melakukan subsidi ke dalam pasar untuk mengambil seluruh gula dari masyarakat sebesar Rp1,5 triliun. Tetapi itu juga tidak memberikan akibat nan signifikan," ucap dia.

Ia menekankan, persoalan ini tidak cukup diselesaikan melalui rapat semata, melainkan memerlukan pembenahan nyata dalam tata kelola industri.

"Sebetulnya upaya kami berbareng Pak Mentan untuk menjadikan industri gula ini betul-betul swasembada dan juga memberikan faedah dengan petani kita, didukung izin nan cukup kuat. Kalau tidak bakal susah bagi kami menghadapi nilai gula akibat kebocoran gula rafinasi ke masyarakat," tegasnya. 

"Karena itu kami sebetulnya di industri sangat berambisi pertemuan ini menghasilkan sesuatu nan konkret mengenai tata kelola industri gula kita ke depan. Karena betul-betul Bapak Presiden berambisi gula ini bisa swasembada," ucapnya.

Dengan begitu, sambung Dony, petani tebu dapat menikmati hasil pertaniannya. Tidak hanya menanam lantas mengalami kerugian akibat nilai nan tidak sesuai.

Materi paparan Mentan Amran Sulaiman mengenai kondisis tebu nasional saat ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)Foto: Materi paparan Mentan Amran Sulaiman mengenai kondisis tebu nasional saat ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Materi paparan Mentan Amran Sulaiman mengenai kondisis tebu nasional saat ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News