Wamenag Ajak Bentengi Anak dari LGBTQ dengan Al-Qur'an

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Wamenag Ajak Bentengi Anak dari LGBTQ dengan Al-Qur'an ilustrasi.(dok.MI)

KEMENTERIAN Agama (Kemenag) tengah menyiapkan materi pembelajaran nan bakal diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan keagamaan sebagai upaya mencegah peserta didik terpapar budaya Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ). Penyusunan kurikulum tersebut sekarang memasuki tahap akhir dan ditargetkan mulai diterapkan pada tahun aliran ini.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i saat membuka Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) 1448 H di laman Gedung Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ), Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI), Ciawi, Bogor, Kamis (30/7).

Menurut Romo, penyusunan kurikulum tersebut merupakan bagian dari penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sekaligus respons terhadap beragam tantangan nan dihadapi generasi muda saat ini.

"Kementerian Agama telah menyusun kurikulum nan bakal diinsert ke kurikulum nan melangkah untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak didik agar tidak terpapar oleh budaya LGBTQ, lantaran LGBTQ itu juga pengingkaran terhadap Al Quran. Lagi-lagi itu merupakan sosialisasi dari pengamalan Al Quran," kata Wamenag.

Ia menambahkan, kurikulum tersebut saat ini tetap berada di lingkungan Kementerian Agama. Namun, koordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah dilakukan sebagai bagian dari persiapan implementasi.

"Mungkin tahun aliran ini bakal mulai diinsersi ke kurikulum nan melangkah agar anak-anak tidak terpapar dengan budaya LGBTQ. Untuk sementara ini kurikulumnya tetap di Kemenag, tapi kita sudah sounding ke Kemendikdasmen," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Romo juga mengutip pengarahan Presiden mengenai pentingnya membangun kualitas generasi masa depan melalui perlindungan anak dari beragam ancaman, termasuk pengaruh negatif di ruang digital. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan penyelenggaraan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (GERNAS RANA) nan mencakup lingkungan rumah, sekolah, ruang publik, dan ruang digital.

"Sekarang Indonesia sedang melakukan program GERNAS RANA, aktivitas nasional ruang aman, nyaman bagi anak-anak. Di mana? Di rumah, di sekolah, di ruang publik, dan di ruang digital. Anak kita kudu bebas dari pengaruh-pengaruh negatif nan sekarang begitu luar biasa termasuk program penyebaran budaya LGBTQ," ungkapnya.

Romo menegaskan bahwa penguatan kurikulum tersebut berangkat dari pandangan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup nan mencakup seluruh aspek kehidupan, bukan sekadar dibaca dalam aktivitas keagamaan alias perlombaan.

"Al-Quran itu kan petunjuk (hudan), petunjuk nan tidak terbatas pada bidang-bidang tertentu, apakah bagian politik, perawat ekonomi, sosial, budaya, teknologi, pertahanan, keamanan," ujarnya.

Ia berambisi generasi muda dapat memahami Al-Qur’an secara lebih komprehensif sehingga bisa menjadikannya sebagai landasan dalam menghadapi beragam tantangan kehidupan.

"Saya kira sudah saatnya, anak-anak kita terutama, mendapatkan pemahaman bahwa Al-Qur’an tidak hanya tadarusan, bukan sekedar MTQ, khataman, tapi Al-Qur’an merupakan pedoman dalam beragam bagian kehidupan nan dibutuhkan oleh manusia," tuturnya. (Fik/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia