Kasus Mahasiswa Unnes Kirim Chat Mesum, Satgas PPK Sebut Ada 3 Korban

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi UNNES. Foto: Bonie el Ninno/Shutterstock

Universitas Negeri Semarang (Unnes) buka bunyi mengenai peristiwa pengepungan terhadap mahasiswa terduga pelaku kekerasan seksual. Kampus menyebut korban dalam kasus ini diduga berjumlah tiga orang.

Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Unnes Surahmat mengatakan, kasus kekerasan seksual itu sebenarnya sudah dilaporkan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Unnes dengan Nomor 020/KS/VI/2026 pada 17 Juni 2026 sekitar pukul 14.30 WIB.

"Satgas PPK Unnes kemudian menangani SOP dan peraturan nan ada. Tahap awal dalam merespons laporan adalah menggali info dari pelapor," ujar Rahmat melalui keterangan tertulis, Kamis (18/6).

Ia menjelaskan, pada hari nan sama Satgas meminta keterangan dari pelapor mengenai laporan kekerasan tersebut.

"Dalam proses pemeriksaan tersebut, Satgas mengidentifikasi adanya 3 korban kekerasan seksual," jelas dia.

Namun, di tengah proses penanganan perkara, tiba-tiba muncul inisiasi di media sosial X dari golongan anonim nan menghendaki permintaan maaf secara terbuka dari pelaku kepada korban.

"Kemudian terjadi eskalasi nan menyebabkan keriuhan pada Rabu malam dan Kamis awal hari. Setelah eskalasi tersebut, terduga pelaku diamankan oleh petugas kepolisian dari Polrestabes Kota Semarang," kata Rahmat.

Meski begitu, Satgas PPK terus melakukan pendalaman info dan siap bekerja sama dengan Polrestabes Semarang untuk menciptakan suasana dan lingkungan akademik nan aman.

"Kami memahami bahwa eskalasi keresahan di antara mahasiswa. Kapasitas Satgas PPK dalam melakukan penanganan kekerasan merujuk pada Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 dan Peraturan Rektor Nomor 115 Tahun 2024," kata Rahmat.

Sebelumnya, ramai di media sosial ratusan mahasiswa Unnes. mengepung seorang laki-laki terduga pelaku pelecehan seksual.

Suasana saat ratusan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengepung seorang laki-laki terduga pelaku pelecehan seksual. Foto: Dok. Istimewa

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (17/6) malam hingga Kamis (18/6) awal hari di salah satu gedung di area kampus tersebut. Terduga pelaku sempat bakal dihakimi massa dan berlindung di salah satu pos satpam. Suasana sempat memanas, namun polisi segera melakukan pengamanan dan membawa pelaku.

Salah satu korban nan juga mahasiswi kampus tersebut mengatakan, kasus ini bermulai saat dia nan merupakan pengemudi jasa titip (jastip) alias antar jemput (anjem) dihubungi oleh pelaku.

"Awal mula jam 01.00 WIB, dia chat saya menanyakan bisa jastip alias tidak lantaran memang saya sebelumnya driver jastip. Tapi kemudian malah nanya kakaknya hyper engga, dia juga nanya sudah pernah hb (berhubungan badan) belum," kata korban membacakan chat pelaku kepada dirinya.

Korban nan ketakutan kemudian mengirimkan tangkapan layar pelaku ke grup jasa antar jemput nan dia ikuti. Ia mau para driver wanita untuk berhati-hati jika mendapat chat dari pelaku.

Ternyata chat tidak senonoh itu juga menyasar mahasiswi-mahasiswi lain nan menyambi sebagai penyedia jasa anjem alias jastip. Para korban lampau meminta pelaku menyampaikan permintaan maaf dan melakukan klarifikasi.

"Saya dan teman-teman driver cowok minta untuk penjelasan dan permintaan maaf lantaran korbannya banyak. Saya nggak ngira bakal seramai, sampai membludak ini lantaran awalnya diminta bikin video klarifikasi," imbuh dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan