Karyawan SPPG Kuningan Korbankan Diri Cegah Babi Hutan Seruduk Bocah

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang laki-laki nan juga relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (Jabar) mengorbankan diri agar babi rimba nan turun ke permukiman tidak menyeruduk anak-anak.

Peristiwa tersebut pun terekam kamera amatir dan viral di media sosial. Dalam rekaman video nan viral itu terlihat seorang laki-laki menahan babi agar tidak lepas. Mengutip dari detikJabar, peristiwa itu terjadi pada Minggu (3/8) siang, sekitar pukul 11.30 WIB.

Adapun laki-laki nan menahan babi itu adalah Anasikin attau Anas (28), penduduk Desa Subang nan juga bekerja di SPPG setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anas mengaku saat itu dia nan berada di rumah mendengar bunyi seperti tabrakan motor sehingga segera keluar. Dia memandang kakaknya sedang dikjar babi hutan, hewan itu pun berlari mengarah ke area anak-anak. Anas pun segera berinisiatif menahan laju babi itu.

"Awalnya mah si babi lagi diburu di hutan, larinya ke kampung, terus nabrak motor lah, dikirain orang kecelakaan, soalnya pas udah nabrak motor tuh ada bunyi "ya Allah tolong". Nah si teteh niatnya mau bantuin takutnya nan jatuh dari motor tuh parah, eh taunya babi. Langsung ngejar lah si babi. Liat si teteh di kejar babi langsung saya tahan babinya, soalnya kalo nggak di tahan mah si teteh malah nan kena, mana ada Anak-anak juga, soalnya kejadiannya di depan rumah banget," tutur Anas, Selasa (4/8) dikutip dari detikJabar.

Anas kemudian tersungkur saat mencoba menahan babi tersebut. Dia mengaku sebelum tersungkur sudah menahan hewan liar tersebut sekitar 10 hingga 15 menit sampai penduduk berdatangan. Dia baru bisa lepas dari 'pertarungan' dengan babi rimba tersebut ketika penduduk sudah mulai berdatangan dan menusuk hewan liar tersebut dengan menggunakan tombak. 

Anaspun mengaku kakinya terkena taring babi tersebut. Dia pun terpaksa izin tak masuk bekerja ke SPPG di Subang.

"Kalau untuk luka mah, ada 3 titik nan lukanya bisa dibilang cukup parah, tapi kata nakesnya ini mah enggak apa-apanggak dijahit juga katanya. Cuman belum disuntik, soalnya babinya kudu hidup buat diambil sampelnya katanya, tapi lantaran babinya udah nggak ada. Jadi sampe sekarang belum disuntik. Katanya sudah diajukan ke pusatnya kelak jika obat sunti nya sudah ada langsung dikabari. Kerjanya Relawan MBG di desa saya. Kemungkinan mah minimal izin kerja seminggu," tutur Anas.

Anas mengaku bahwa dia melakukan tindakan nekat tersebut didorong lantaran mau melindungi kakaknya dan anak-anak nan ada di sekitar rumahnya agar tidak diseruduk babi.

"Semisalnya teteh saya nan kena alias anak anak nan kena, pasti bakalan lebih parah dari saya. Harapannya mah paling semoga kedepannya nggak ada korban lainnya nan seperti saya, semoga cukup sampai saya saja sudah, jangan ada lagi korban lainnya," tutur Anas.

Sementara itu, Kasi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Desa Subang, Sujana mengaku berterima kasih Anas tidak mendapat luka nan begitu parah setelah berupaya menahan babi rimba tersebut.

"Iya (relawan MBG). Alhamdulillah tadi sehabis jenguk, cuman dia tetap susah jalan lantaran di dampal kakinya itu ada luka, jadi jika ditekan agak sakit katanya gitu. Untungnya enggak sampai dijahit, " kata Sujana.

Penjelasan BKSDA

Sebagai informasi, kejadian babi rimba masuk ke permukiman bukan hanya terjadi di Kuningan baru-baru ini. Kejadian sama juga terjadi di Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat pun buka suara.

"Banyak aspek penyebabnya, di antaranya sumber air, alias lantaran banyaknya pemburu liar masuk ke rimba terdekat," kata Humas BBKSDA Jabar Ery Mildrayana, Selasa dikutip dari detikJabar.

Menurutnya, aktivitas manusia di dalam rimba juga menganggu keberadaan babi hutan, alias babi rimba sedang mencari tempat jelajah baru.

Selain itu, bentrok satwa dan manusia berpotensi terjadi selama wilayah rimba berdekatan dengan permukiman.

"Sepanjang berdekatan dengan hutan, memungkinkan. Satwa liar hakikatnya dia kudu bergerak dan berkelompok. Mereka punya wilayah jelajah juga, bisa juga terpisah dari golongan alias mencari kelompoknya. Tapi itu hanya dugaan sesuai karakter alias kebiasaan satwa liar ya," jelasnya.

"Untuk memastikannya di antaranya perlu dilihat keberadaan rimba terdekat desa tersebut," sambung Ery.

Baca buletin lengkapnya di sini.

(tim/kid)

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional