Karhutla Kalsel Capai 21 Ribu Hektare Ekosistem Gambut Rusak Parah

Sedang Trending 49 menit yang lalu
Karhutla Kalsel Capai 21 Ribu Hektare Ekosistem Gambut Rusak Parah Ilustrasi(Dok BPBD Kalsel)

RENTAN terbakar berulang saat tandus dan banjir saat penghujan, menunjukkan bahwa kondisi ribuan hektare area hidrologis gambut Maluka di sekitar Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru telah mengalami kerusakan sangat parah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Luas Karhutla di Kalsel terus bertambah dan sudah mencapai 21 ribu hektare lebih.

Hal ini dikemukakan Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, Senin (14/9). "Hasil pertimbangan kita di lapangan, kebakaran nan berulang menyebabkan lahan gambut mengalami rusak parah. Kerusakan juga ditandai tingkat kerentanan kebakaran nan tinggi saat tandus dan banjir saat penghujan," ungkap Hanif.

Fakta di lapangan, tindakan pembasahan nan dilakukan secara masif memperlihatkan air nan disalurkan ke lahan gambut berbalik arah ke kanal dengan sangat cepat. "Tak dapat kita pungkiri area lahan gambut di areal ring satu airport Syamsudin Noor tersebut sebagian besar telah beranjak kegunaan untuk beragam kepentingan seperti permukiman dan lahan pertanian nan memicu kerusakan gambut," kata Hanif.

Kerusakan gambut juga diperparah akibat sistem drainase nan dibangun berlebihan dan serampangan pihak swasta sehingga menghilangkan keahlian alami gambut dalam menahan air. Kerusakan gambut terparah terjadi pada area hidrologis gambut di Gunung Damar dan Pengkayuan, Banjarbaru. Diperkirakan luas lahan gambut nan mengalami kerusakan dan saat ini terbakar mencapai 3.000 hektare lebih. 

Menurutnya, kondisi tersebut membikin upaya pembasahan secara konvensional menjadi kurang efektif untuk mengatasi Karhutla. Pihaknya sekarang menyiapkan penggunaan cairan Surfaktan sebagai salah satu strategi penanganan karhutla di area gambut. "Harus ada pengerahan Satgas darat secara masif melibatkan semua pihak termasuk relawan. Kita mau masalah Karhutla ini tuntas sesegera mungkin, lantaran kebakaran berulang menjadi ancaman bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat dan lingkungan," tegas Hanif.

Lebih jauh mantan Menteri LH ini mendorong pentingnya izin mengenai perlindungan lahan gambut, penegakan norma dan mitigasi musibah karhutla dan banjir di area tersebut. Terkait izin ini pihaknya bakal bekerjasama dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.

Ia menilai pengalaman penanganan karhutla tahun ini menjadi pembelajaran penting. Ratusan pompa dan puluhan unit pompa tangki telah dikerahkan dan ribuan personel. Namun, kondisi gambut nan sangat kering membikin metode konvensional belum cukup untuk menaklukkan api.

Karena itu, strategi penanganan bakal ditingkatkan dari sekadar pemadaman menjadi upaya nan lebih terintegrasi, dengan menggabungkan pemadaman, pembasahan gambut, pengendalian air, hingga pencegahan kebakaran sejak awal.

Profesor Ahmad Kurnain, pembimbing besar ULM Banjarmasin mengatakan pemanfaatan lahan gambut perlu adanya izin mulai tingkat tapak alias desa dengan mengedepankan kearifan lokal. 

"Praktek baik mengenai pemanfaatan lahan gambut ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tinggal gimana mengkolaborasi para pihak agar tidak ada lagi kebakaran di masa datang. Salah satunya dengan membentuk desa berdikari bebas kebakaran, sehingga masyarakat terlibat dalam menjaga dan melindungi lahan gambut," ujarnya. 

Data Pusdalops BPBD Kalsel mencatat kondisi Karhutla di wilayah ini terus meluas dan sudah mencapai lebih 21 ribu hektare dengan 3.200 kejadian. Kondisi Karhutla di Kalsel ini mendapat sorotan dari Komite II DPD RI nan mendesak pemerintah pusat dan wilayah untuk segera mencari solusi penanganan Karhutla berulang dan telah menimbulkan akibat kerusakan lingkungan serta gangguan kesehatan, transportasi di derita masyarakat. (DY/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia