Kampus di Jogja Ini Jembatani Mahasiswa Papua dan NTT Membangun Daerahnya

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Wisudawan Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) saat mengikuti prosesi wisuda. Foto: Dok. Istimewa.

Bagi sebagian mahasiswa dari Indonesia Timur, menempuh pendidikan tinggi bukan sekadar melanjutkan sekolah, tetapi juga menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan teknologi nan tetap terjadi di wilayah asal mereka. Kondisi inilah nan selama bertahun-tahun ditemui Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), nan menjadi tujuan mahasiswa dari Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, hingga Kalimantan.

Rektor UNRIYO, Hari Kusnanto, mengatakan keberadaan mahasiswa dari daerah-daerah terpencil menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi kampus untuk membantu mengembangkan potensi mereka.

"Saya memandang salah satu nan unggul di UNRIYO adalah banyak mahasiswanya berasal dari Indonesia bagian timur, dari wilayah pelosok, terpencil, dan terpinggirkan. Itu menjadi tantangan nan sangat menarik lantaran semua anak bangsa sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadi unggul. Tantangannya gimana kita bisa merangkul dan meningkatkan keahlian mereka," kata Hari saat ditemui tim Pandangan Jogja, Jumat (5/6).

Rektor UNRIYO, Hari Kusnanto. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT.

Ia menjelaskan, sebagian mahasiswa nan berasal dari Papua datang dari wilayah nan belum mempunyai akses teknologi nan memadai. Bahkan, ada nan baru mulai terbiasa menggunakan perangkat digital setelah memasuki bumi perkuliahan.

Kondisi tersebut membikin kampus kudu memberikan pendampingan nan lebih intensif agar mahasiswa bisa mengikuti proses pembelajaran dan mengembangkan kompetensinya.

"Ada mahasiswa nan berasal dari wilayah terpencil di sekitar Merauke maupun Timika nan belum terbiasa dengan teknologi informasi. Padahal mereka kudu belajar di program studi nan berangkaian dengan teknologi. Karena itu diperlukan upaya unik agar mereka bisa berkembang dan mempunyai kompetensi nan tidak kalah dengan mahasiswa lainnya," ujarnya.

Mahasiswa Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) mengikuti aktivitas pengembangan soft skills untuk meningkatkan keahlian komunikasi dan public speaking.

Menurut Hari, mahasiswa asal Indonesia Timur saat ini mencapai sekitar 40 hingga 45 persen dari total mahasiswa di UNRIYO. Tingginya minat tersebut didukung oleh akses pendidikan nan relatif terjangkau serta beragam program danasiwa nan tersedia.

"Dari sisi biaya, SPP di UNRIYO relatif rendah dan kompetitif. Kami juga banyak membantu mahasiswa melalui beragam program danasiwa seperti KIP dan danasiwa dari pemerintah daerah. Dengan biaya nan tidak terlalu tinggi, dampaknya bisa sangat besar lantaran setelah lulus mereka kembali membangun daerahnya masing-masing," tuturnya.

Ia mencontohkan, sejumlah penerima danasiwa nan menempuh pendidikan kesehatan di UNRIYO sekarang telah kembali ke wilayah asal dan bekerja di akomodasi pelayanan kesehatan.

"Ada nan kuliah S1 Gizi di sini lampau kembali ke Merauke dan menjadi dietitian di rumah sakit. Efeknya sangat berfaedah untuk daerah."

instagram embed

Menurut Hari, akibat pendidikan tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa, tetapi juga masyarakat di wilayah asal mereka ketika para lulusan kembali dan berkontribusi melalui pekerjaan nan dijalani.

"Tracer study menunjukkan lulusan kami terserap ke bumi kerja dengan waktu tunggu nan sangat cepat, paling lama sekitar tiga bulan. Ada nan bekerja sesuai bidangnya, ada juga nan menciptakan lapangan kerja sendiri. Bahkan ada lulusan nan berkarier di bagian nan berbeda dari bidang nan ditempuh, tetapi tetap sukses mengembangkan potensinya," ujarnya.

Bagi Hari, pengalaman mendampingi mahasiswa dari beragam wilayah terpencil menjadi pengingat bahwa keterbatasan akses bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan kesempatan pendidikan nan tepat, mereka mempunyai kesempatan nan sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi wilayah asalnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan