Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan pembangunan jalur kereta Trans-Kalimantan dan Bali tetap dalam studi. Menurutnya, pembangunan jalur kereta baru memerlukan pertimbangan dari beragam aspek, salah satunya pembebasan lahan.
"Trans-Kalimantan kita sedang selesaikan studinya juga. Nanti kita lihat, nan namanya pembangunan jalur kereta baru ini banyak faktor-faktornya, terutama juga aspek pembebasan lahannya," kata Bobby dalam aktivitas Groundbreaking Hunian Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (21/8).
Menurut Bobby, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan pengarahan kepada KAI untuk menyiapkan pengembangan jaringan kereta api di tiga wilayah, ialah Sumatera, Kalimantan, dan Bali.
Untuk wilayah Sumatera, kata Bobby, KAI tengah mengerjakan perincian engineering design (DED). Sementara studi Trans-Kalimantan tetap berlangsung. Adapun pengembangan jaringan kereta api di Bali juga masuk dalam pengarahan Presiden.
"Nanti surprise mana nan bakal kita selesaikan nan paling duluan," ujar Bobby.
Sebelumnya, Presiden Prabowo secara unik meminta KAI dan Kementerian Perhubungan menyiapkan proyek jalur kereta Trans-Sumatera nan menghubungkan Bakauheni hingga Medan.
"Habis ini Trans-Sumatra Railway dari Bandar Lampung, mana titik nan paling selatan? Bakauheni sampai ke titik paling utara, Medan. Bisa KAI? Bisa Menteri Perhubungan? Kita kasih dia tugas kudu kasih nan berat, jangan kasih nan ringan-ringan," kata Prabowo saat meresmikan revitalisasi tahap I Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Kamis (30/7).
Prabowo juga mendorong pembangunan jalur kereta Trans-Kalimantan dapat dimulai setelah proyek Trans-Sumatera berjalan. Bahkan, dia berambisi kedua proyek tersebut bisa dimulai secara bersamaan.
"Habis Trans-Sumatera kelak Trans-Kalimantan jika bisa berbarengan kita mulai," ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, pembangunan jaringan kereta api di luar Pulau Jawa merupakan bagian dari upaya memperkuat konektivitas nasional.
Prabowo optimistis Indonesia bisa menghadapi masa depan dengan tetap menjadikan sejarah sebagai salah satu fondasi pembangunan bangsa.
"Indonesia menghadapi masa depan dengan optimis, dengan gembira, dengan semangat, tanpa melupakan sejarah. Sejarah krusial bagi kita, bagi kepribadian kita, bagi masa depan kita," pungkasnya.
30 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·