Kabar Buruk AS untuk Eropa, Kawasan Bisa Kena Masalah Besar

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) secara resmi menginformasikan kepada sejumlah sekutu Eropanya bahwa pengiriman senjata nan telah dikontrak sebelumnya kemungkinan besar bakal mengalami penundaan. Langkah mengejutkan ini diambil Washington lantaran perang Iran nan terus berkecamuk telah menguras stok persenjataan mereka secara signifikan.

Lima sumber nan mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa penundaan ini berakibat pada beberapa negara Eropa, termasuk nan berada di wilayah Baltik dan Skandinavia. Komunikasi ini dilakukan secara tertutup lantaran sifatnya nan sensitif bagi pertahanan nasional negara-negara terkait.

Beberapa senjata nan dimaksud dibeli oleh negara-negara Eropa melalui program Penjualan Militer Asing alias Foreign Military Sales (FMS), namun hingga sekarang barang-barang tersebut belum juga dikirimkan. Sumber tersebut menambahkan bahwa pejabat AS telah menyampaikan pesan bilateral kepada pejabat Eropa dalam beberapa hari terakhir mengenai potensi keterlambatan pengiriman tersebut.

"Pejabat AS telah menginformasikan kepada beberapa rekan di Eropa bahwa beberapa pengiriman senjata nan telah dikontrak sebelumnya kemungkinan besar bakal tertunda lantaran perang Iran terus menguras stok senjata," ujar para sumber tersebut dalam laporan eksklusif Reuters.

Pihak Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS telah mengalihkan pertanyaan mengenai masalah ini kepada Pentagon. Namun, hingga buletin ini diturunkan, Departemen Pertahanan AS tersebut belum memberikan tanggapan resmi mengenai keluhan dari para sekutunya di Eropa.

Penundaan ini menggarisbawahi sejauh mana perang melawan Iran, nan dimulai dengan serangan udara AS-Israel pada 28 Februari lalu, telah mulai meregangkan pasokan beberapa persenjataan dan amunisi kritis AS. Kondisi ini membikin para pejabat Eropa mulai melontarkan protes lantaran merasa posisi pertahanan mereka sekarang berada di titik nan sulit.

"Pejabat Eropa mengeluh bahwa penundaan ini menempatkan mereka dalam posisi nan sulit," ungkap sumber tersebut.

Di bawah program FMS, negara-negara asing membeli senjata buatan AS dengan support logistik dan persetujuan dari pemerintah AS. Washington di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya terus mendesak mitra NATO di Eropa untuk membeli lebih banyak material buatan AS sebagai bagian dari upaya mengalihkan tanggung jawab pertahanan konvensional Eropa dari AS ke mitra-mitra Eropa itu sendiri.

Namun, pengiriman senjata tersebut sering kali tertunda dan memicu frustrasi di ibu kota negara-negara Eropa. Akibat ketidakpastian ini, beberapa pejabat Eropa dilaporkan mulai mempertimbangkan untuk beranjak ke sistem senjata nan diproduksi di dalam benua Eropa sendiri.

Pejabat AS berkilah bahwa senjata-senjata tersebut sangat dibutuhkan untuk kepentingan perang di Timur Tengah. Selain itu, pihak AS juga menyalahkan negara-negara Eropa lantaran dianggap tidak membantu AS dan Israel dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz nan menjadi jalur vital perdagangan daya dunia.

"Pejabat AS mengatakan senjata-senjata tersebut dibutuhkan untuk perang di Timur Tengah, dan mereka menyalahkan negara-negara Eropa lantaran tidak membantu AS dan Israel membuka Selat Hormuz," lanjut sumber tersebut.

Bahkan sebelum perang Iran pecah, AS sebenarnya telah menguras stok senjata senilai miliaran dolar, termasuk sistem artileri, amunisi, dan rudal anti-tank sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 serta dimulainya operasi militer Israel di Gaza pada akhir 2023. Beban pasokan ini sekarang semakin berat dengan munculnya front pertempuran baru di Iran.

Sejak dimulainya kampanye militer di Iran, Teheran telah menembakkan ratusan rudal balistik dan drone ke negara-negara Teluk. Sebagian besar serangan tersebut sukses dicegat, termasuk menggunakan pencegat rudal Patriot PAC-3, jenis nan sama dengan nan diandalkan Ukraina untuk mempertahankan prasarana daya dan militernya.

Sumber-sumber tersebut meminta agar nama beberapa negara nan terdampak tidak disebutkan demi argumen keamanan. Mengingat beberapa negara tersebut berbatasan langsung dengan Rusia, agenda pengiriman senjata dianggap sebagai info pertahanan nan sangat sensitif.

"Persenjataan nan tertunda mencakup beragam jenis amunisi, termasuk munisi nan dapat digunakan untuk tujuan ofensif maupun defensif," pungkas sumber tersebut.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News