Junivia Vanecia Tulung (17) awalnya tak percaya ketika pembimbing Biologi menawarinya mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN). Siswi kelas XI Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 44 Sulawesi Utara itu apalagi sempat menolak lantaran merasa belum cukup mampu.
Melihat teman-temannya ikut mencoba, Juni, sapaan akrabnya, akhirnya memberanikan diri. Keputusan sederhana itu membawanya melangkah jauh. Ia sukses lolos dari seleksi tingkat provinsi dan menjadi peserta semifinal OSN 2026 bagian Biologi.
“Awalnya sebenarnya enggak mau ikut. Tapi lantaran lihat teman-teman lain banyak nan ikut, jadi ada rasa mau mencoba. Pas awal simulasi itu takut, takut salah, takut enggak masuk,” cerita Juni.
Ketika hasil seleksi pertama keluar, Juni justru mendapatkan kejutan. Ia lolos berbareng dua siswa SRMA 44 lainnya nan mengikuti bagian Ekonomi dan Geografi. Dari ketiganya, Juni kemudian menjadi satu-satunya nan sukses melanjutkan langkah hingga semifinal.
“Enggak ada ekspektasi jika bisa lolos di tingkat provinsi. Pas tahu lolos, semangatku langsung lebih naik lagi. Aku pengin lebih berupaya agar bisa maju lagi dan bisa membawa nama Sekolah Rakyat,” katanya.
Juni menjadi satu dari 100 peserta bagian Biologi nan lolos ke semifinal tingkat nasional. Secara keseluruhan, OSN tingkat provinsi jenjang SMA/MA/SMK/MAK/sederajat tahun ini diikuti 13.542 siswa dari sembilan bidang. Sebanyak 900 siswa, masing-masing 100 peserta dari setiap bidang, kemudian dinyatakan lolos ke semifinal.
Perjalanan Juni belum selesai. Pada 12 Agustus 2026 lalu, dia telah mengikuti seleksi semifinal untuk memperebutkan tempat pada tahapan berikutnya. Kini Juni menunggu pengumuman pada 18 Agustus mendatang dengan angan dapat terus melaju hingga menjadi salah satu peserta nan berangkat ke Jakarta.
Di kembali pencapaiannya, ada proses belajar nan cukup intens. Selama persiapan, Juni mendapat pengarahan tambahan dari pembimbing Biologi sekitar tiga hingga empat kali dalam seminggu di luar jam pelajaran. Ia juga belajar berdikari dan mencari beragam materi Biologi untuk memperluas pengetahuannya.
“Pada saat seleksi tingkat provinsi, saya keluarkan semua keahlian nan saya bisa. Puji Tuhan sangat berterima kasih rupanya tetap diberikan kesempatan untuk menjadi perwakilan dari Sekolah Rakyat dan bisa sampai saat ini,” ujarnya.
Prestasi tersebut menjadi perjalanan nan cukup berfaedah bagi Juni. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, dia sempat keberatan lantaran kudu tinggal di pondok dan berjauhan dari keluarganya di Desa Kauneran, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa.
Juni berasal dari family sederhana. Ayahnya sebagai pembudidaya ikan mujair dengan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta per bulan, sedangkan ibunya mengurus rumah tangga. Keluarga Juni tinggal menumpang di rumah sederhana.
Kekhawatiran Juni perlahan berubah setelah menjalani kehidupan di Sekolah Rakyat. Ia menemukan lingkungan baru, teman-teman, serta kesempatan untuk mengembangkan keahlian nan dimilikinya.
“Semakin dijalani semakin merasa senang. Ternyata apa nan saya ekspektasikan waktu awal masuk dengan sekarang itu enggak sesuai. Di sini enak, semua difasilitasi dan bisa juga membantu ekonomi keluarga,” kata dia.
Perubahan itu turut dirasakan kedua orang tuanya.
“Orang tua bangga lantaran awalnya saya enggak mau masuk Sekolah Rakyat. Tapi sekarang sudah ada prestasi nan saya dapat. Itu membikin orang tua bangga lantaran saya di Sekolah Rakyat sudah bisa ada perubahan,” tutur Juni.
Bakat Juni juga tidak berakhir di bagian akademik. Ia mahir memainkan melodi kolintang dan pernah menunjukkan kemampuannya saat Gubernur Akademi Militer Mayor Jenderal TNI Rano Maxim Adolf Tilaar mengunjungi Sekolah Rakyat dalam aktivitas Taruna Bhakti.
Kepala SRMA 44 Minahasa, Jefta Johannes Makikui, mengatakan pencapaian Juni menunjukkan bahwa kesempatan nan diberikan kepada anak-anak dapat membuka jalan bagi potensi nan sebelumnya belum terlihat.
“Prestasi ini adalah kebanggaan besar sekaligus bukti nyata bahwa siswa dari program support pendidikan Sekolah Rakyat bisa menunjukkan kualitas, semangat pantang menyerah, dan daya saing nan luar biasa,” kata Jefta.
Jefta berambisi pencapaian Juni tidak berakhir pada semifinal. Ia juga mau langkah Juni menjadi pemantik bagi siswa Sekolah Rakyat lain.
“Semoga Junivia senantiasa diberikan hasil nan maksimal serta terus berprestasi. Semoga langkah gemilang ini tidak hanya menjadi jalan untuk menggapai cita-citanya di masa depan, tetapi juga menjadi sinar inspirasi nan memotivasi seluruh siswa Sekolah Rakyat lainnya untuk terus berani bermimpi dan mengukir prestasi,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari kepala sekolah, guru, wali asuh, wali asrama, dan teman-temannya. Bagi Juni, support itu sekarang menjadi tambahan semangat sekaligus argumen untuk berupaya melewati tahapan berikutnya.
Menjelang pengumuman semifinal, Juni mengaku tetap diliputi rasa tegang. Namun, jika dulu rasa takut membuatnya nyaris tidak mencoba, kali ini dia memilih terus maju.
“Deg-degan lantaran banyak nan sudah taruh angan ke Juni. Aku berambisi bisa lolos, bisa membawa nama sekolah dan membahagiakan orang tua,” katanya.
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·