ilustrasi(Antara)
JP Morgan Indonesia memberikan penilaian positif terhadap rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menyesuaikan pemisah minimum nilai saham di pasar reguler dan pasar tunai. Kebijakan nan bakal mengubah pemisah nilai dari Rp50 per saham menjadi Rp1 per saham tersebut dinilai bisa meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar modal tanah air.
Head of Indonesia Equity Research JP Morgan, Benny Kurniawan, menyatakan bahwa penghapusan floor price Rp50 bakal membikin sistem pasar melangkah lebih optimal. Menurutnya, selama ini pemisah bawah tersebut sering kali dianggap sebagai perlindungan semu bagi investor.
"Kalau menurut saya jika misalnya eksekusi itu dilakukan, floor price Rp50 itu dilepas, harusnya meningkatkan transparansi dan likuiditas di pasar," ujar Benny dalam Media Briefing berbareng JP Morgan di Jakarta, Kamis (3/9).
Mekanisme Pasar dan Sentimen Investor
Benny menjelaskan bahwa sebagian penanammodal tetap mempunyai persepsi bahwa nilai Rp50 memberikan pemisah bawah terhadap akibat penurunan (downside risk). Padahal, kenyataannya sistem pasar tetap berjalan, termasuk melalui pasar negosiasi sebagai pengganti perdagangan resmi.
Dengan dilepaskannya pemisah Rp50, Benny meyakini sentimen pasar bakal bergerak ke arah nan lebih positif. Investor tidak perlu lagi cemas terjebak dalam posisi susah menjual saham (stuck) hanya lantaran nilai tertahan di level pemisah bawah.
“Jadinya jika misalnya Rp50 ini turun, harusnya sistem pasar lebih berjalan. Dan penanammodal nan mau beli, mereka tidak takut tidak bisa jual. Sekarang kan ada penanammodal nan beli, mereka takut justru tidak bisa jual kapitalnya di sana,” jelasnya.
Daya Tarik bagi Investor Asing
Lebih lanjut, J.P. Morgan memproyeksikan kebijakan ini bakal mendapatkan respons positif dari penanammodal asing. Hal ini dikarenakan pasar saham dunia umumnya tidak menerapkan pemisah nilai minimum nan kaku seperti nan selama ini bertindak di Indonesia.
Benny mencontohkan pasar modal di Amerika Serikat nan mengenal istilah penny stock untuk saham nan diperdagangkan di bawah 5 dolar AS. Di Indonesia, istilah ini kerap merujuk pada saham lapis tiga alias "saham gocap".
“Foreign investor menurut saya harusnya menangkap ini lebih positif. Karena jika kita lihat pasar modal di luar, tidak ada floor price,” tambah Benny.
BEI telah melakukan uji coba penyesuaian nilai saham ini pada 22 dan 29 Agustus 2026. Implementasi penuh ditargetkan bakal terlaksana pada pekan ketiga alias keempat September 2026. Meski penyesuaian ini berpotensi meningkatkan akibat penurunan nilai bagi saham nan saat ini berada di level Rp50, Benny menegaskan bahwa perihal tersebut merupakan bagian dari dinamika investasi. Menurutnya, setiap investasi di pasar modal selalu menyertakan potensi untung sekaligus akibat nan kudu dipahami oleh investor. (Ant/E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·