Jika berbincang tentang Gresik, barangkali nan terlintas di akal banyak orang adalah kota industri, semen, dan penyebaran Islam. Namun, belakangan Gresik juga semakin ramai diperbincangkan lantaran mempunyai sebuah ikon nan cukup mencuri perhatian, ialah patung Gajah Mungkur.
Patung tersebut dikabarkan menghabiskan anggaran sekitar Rp1 miliar. Besarnya anggaran nan dikeluarkan tentu mengundang perhatian, terlebih ketika corak patung nan dihadirkan sebagai ikon tersebut justru menimbulkan beragam tanggapan. Perdebatan mengenai patung sebagai ikon sebuah kota sebenarnya bukan sesuatu nan baru. Sebuah ikon memang dapat menimbulkan perbincangan, apalagi perdebatan, terutama ketika menyangkut bentuk, makna, dan biaya pembuatannya.
Namun, di tengah perdebatan mengenai sebuah patung, terdapat persoalan lain nan tidak kalah krusial untuk dibicarakan. Jangan sampai perhatian terhadap ikon baru justru menutupi sejarah panjang nan telah lebih dulu membentuk identitas Gresik.
Sejarah Gresik tidak dimulai dari keberadaan kota industri ataupun bangunan-bangunan modern. Jejaknya telah terbentuk sejak beratus-ratus tahun lalu. Kehadiran Fatimah binti Maimun pada abad ke-11 menjadi salah satu bukti awal keberadaan organisasi Islam di area Gresik. Pada sekitar abad ke-11 hingga ke-13, Gresik berkembang sebagai area bandar dan perdagangan nan menghubungkan beragam wilayah. Memasuki abad ke-14, Gresik semakin mempunyai posisi krusial sebagai bandar dalam jaringan perdagangan pada masa Majapahit.
Kemudian, memasuki abad ke-15, nama Gresik semakin kuat dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa. Salah satu tokoh nan kemudian menjadi bagian krusial dari perjalanan tersebut adalah Sunan Giri.
Sunan Giri tidak hanya dikenal sebagai salah satu Wali Songo. Ia juga merupakan seorang ulama, pendidik, dan pemimpin nan mempunyai pengaruh luas dalam kehidupan keagamaan maupun politik pada masanya. Dari Giri, pengaruhnya berkembang jauh melampaui area tempat dia bermukim.
Namun, gimana sejarah tersebut dikenalkan kepada masyarakat hari ini?
Salah satu tempat nan paling dikenal tentu saja makam Sunan Giri. Kawasan tersebut ramai dikunjungi peziarah dari beragam daerah. Orang datang untuk berdoa, berziarah, dan mengenang salah satu tokoh krusial dalam sejarah Islam di Jawa.
Akan tetapi, perjalanan mengenal Sunan Giri semestinya tidak berakhir di makam.
Tidak jauh dari area tersebut terdapat Giri Kedaton, sebuah situs nan menyimpan jejak krusial dari keberadaan Giri sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan Sunan Giri. Tempat ini semestinya tidak hanya dipandang sebagai sisa gedung lama, melainkan sebagai bagian dari rangkaian sejarah nan menjelaskan gimana Sunan Giri menjalankan perannya pada masa lalu.
Di Sinilah Muncul Sebuah Ironi dalam Wisata Sejarah
Makamnya ramai, tetapi jejak kehidupannya belum tentu mendapatkan perhatian nan sama.
Peziarah mengenal di mana Sunan Giri dimakamkan, tetapi belum tentu mengetahui di mana pusat pemerintahannya berada. Mengenal makamnya tentu penting, tetapi mengenal tempat dia hidup, memimpin, dan membangun pengaruhnya juga tidak kalah penting.
Sebab, makam hanya menunjukkan tempat seseorang mengakhiri perjalanan hidupnya. Sementara peninggalan seperti kedaton membantu manusia memahami gimana perjalanan hidup itu berlangsung.
Giri Kedaton dapat menjadi pintu untuk memahami Sunan Giri bukan hanya sebagai sosok nan dikeramatkan alias diziarahi, tetapi sebagai manusia dan tokoh sejarah nan mempunyai peran besar dalam perkembangan Gresik dan Jawa.
Melihat peninggalan sejarah tidak kudu mengurangi nilai sebuah ziarah. Justru sebaliknya, kunjungan dapat menjadi awal untuk mengenal lebih jauh siapa tokoh nan diziarahi. Setelah bermohon di makamnya, perjalanan dapat dilanjutkan dengan mencari tahu gimana dia hidup, gimana dia memimpin, gimana Giri berkembang, dan gimana pengaruhnya menyebar ke beragam wilayah.
Dengan demikian, wisata religi tidak berakhir sebagai perjalanan menuju makam, tetapi berkembang menjadi perjalanan untuk memahami sejarah.
Gresik sebenarnya mempunyai banyak cerita semacam itu. Ada Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Prapen, Dewi Sekardadu, serta beragam peninggalan lain nan menjadi bagian dari perjalanan panjang kota ini. Setiap nama mempunyai cerita dan setiap peninggalan mempunyai konteks sejarahnya sendiri.
Karena itu, persoalannya bukan tentang apakah Gresik memerlukan ikon baru alias tidak. Ikon kota tetap mempunyai tempatnya sendiri. Namun, sebuah kota juga perlu memastikan bahwa ikon-ikon sejarah nan telah diwariskan selama beratus-ratus tahun tidak kehilangan perhatian.
Gresik Tidak Kekurangan Sejarah untuk Diceritakan
Yang mungkin kurang adalah kesempatan bagi sejarah itu untuk kembali diceritakan.
Patung dapat dibangun dalam hitungan bulan. Namun, sejarah sebuah kota terbentuk melalui ratusan tahun perjalanan manusia. Karena itu, ketika membicarakan identitas Gresik, jangan sampai perhatian hanya berakhir pada apa nan baru dibangun, sementara apa nan telah memperkuat selama beratus-ratus tahun justru perlahan dilupakan.
Barangkali sudah waktunya perjalanan menuju Gresik tidak hanya berhujung di tempat orang-orang berziarah, tetapi juga bersambung menuju tempat-tempat nan dapat menjawab satu pertanyaan sederhana:
Siapa sebenarnya orang nan makamnya selama ini didatangi?
Sebab mengenal seseorang dari makamnya saja tidak cukup untuk memahami sejarahnya. Untuk mengenal Sunan Giri, perlu memandang pula jejak nan ditinggalkannya, termasuk Giri Kedaton nan hingga sekarang tetap menjadi bagian dari ingatan sejarah Gresik.
39 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·