Tangguh Yudha
, Jurnalis-Senin, 16 Maret 2026 |11:15 WIB

Jusuf Kalla (Foto: Okezone)
JAKARTA - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) mengingatkan adanya akibat besar andaikan defisit anggaran negara diperlebar hingga 3 persen.
Menurutnya, semakin besar defisit anggaran maka beban pembayaran angsuran utang dan kembang juga bakal meningkat. Kondisi itu berpotensi membikin porsi utang terhadap anggaran semakin besar dan dapat membahayakan keberlanjutan fiskal nasional.
"Makin besar defisit juga itu ada risikonya nanti, bahwa pembayaran angsuran dan kembang makin tinggi. Jadi persentase utang kepada anggaran itu makin besar. Dan jika utang makin besar, bisa maksimum kan 40%, bisa mencapai 50%, dan itu sangat rawan untuk kelanjutan hidup," kata JK, Minggu (15/3/2026) malam.
Meski demikian, dia menilai dalam kondisi ekonomi saat ini pemerintah susah menjaga defisit tetap di bawah 3 persen, terutama jika nilai minyak bumi naik sehingga subsidi daya ikut meningkat.
JK menilai, kenaikan nilai minyak dan beban subsidi bakal membikin defisit semakin melebar. Dampaknya, ruang fiskal pemerintah untuk membiayai pembangunan menjadi semakin terbatas.
"Begitu defisit makin besar, kapabilitas untuk pembangunan makin kecil. Itu kudu diperbaiki," lanjutnya.
Selain menyoroti akibat utang, JK juga menyinggung penurunan alokasi transfer anggaran ke daerah. Ia menyebut porsi transfer ke wilayah nan sebelumnya mencapai sekitar 30 persen dari total pengeluaran pemerintah sekarang tinggal sekitar 17 persen.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·