Iran Beri Ultimatum ke Negara Arab: Berani Bantu AS, Teluk Terbakar!

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan telah memberikan peringatan keras kepada negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru Amerika Serikat (AS) ke wilayahnya bakal memicu pembalasan terhadap prasarana daya krusial di seluruh kawasan. Mengutip Reuters, Kamis (6/8/2026), peringatan ini bermaksud untuk meningkatkan akibat tindakan militer dengan menakut-nakuti sekutu regional terdekat Washington.

Menurut lima sumber anonim, peringatan tersebut disampaikan melalui serangkaian kontak diplomatik tingkat tinggi. Langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump menakut-nakuti bakal menyerang jaringan dan prasarana daya Iran pada 28 Juli lalu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dilaporkan telah berbincang dengan rekan-rekannya dari Arab Saudi, Turki, dan Qatar, serta kepala staf angkatan darat Pakistan. Araqchi mendesak sekutu Teluk Washington untuk menggunakan pengaruh mereka guna mencegah Trump meluncurkan serangan baru.

Dalam beragam perbincangan tersebut, Araqchi menegaskan bahwa Iran siap membalas jika prasarana mereka diserang. Namun, dia juga menekankan bahwa solusi diplomatik adalah jalan terbaik untuk menghindari eskalasi dan kehancuran nan lebih luas di kawasan.

"Peringatan Iran sangat tegas: jika Amerika menargetkan prasarana Iran, mereka bakal membalas dengan menyerang akomodasi daya Teluk dan sasaran regional lainnya," ungkap salah satu sumber Teluk.

Manuver diplomatik ini menunjukkan upaya Iran memanfaatkan ancaman kehancuran regional sebagai nilai tawar untuk melawan potensi serangan AS. Hal ini secara langsung menempatkan negara-negara Teluk, nan menampung pangkalan militer AS dan berjuntai pada ekspor energi, dalam posisi nan sangat sulit.

Menyusul ancaman tersebut, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) langsung berbincang dengan Trump. MBS mendesak sang presiden untuk menunda tindakan militer, kembali ke meja perundingan, serta segera mengamankan gencatan senjata dan penyelesaian diplomatik.

Peringatan Iran ini sebenarnya ditujukan kepada setiap negara Teluk, namun disampaikan terutama melalui Arab Saudi dan Qatar. Sebagai catatan, Iran dalam beberapa tahun terakhir memang telah berupaya memperbaiki hubungannya dengan negara-negara tetangganya di Teluk.

Selain Arab Saudi, negara-negara seperti Qatar dan Oman juga telah mendesak Washington untuk melanjutkan pembicaraan dengan Teheran demi menghindari bentrok baru. Pejabat Iran menyebut bahwa putaran serangan AS lainnya berpotensi besar bakal mengubah area Teluk menjadi bola api.

Pada 2 Agustus lalu, Trump menyatakan bahwa dirinya setuju untuk membatalkan serangan ke Iran. Namun, pembatalan tersebut kudu tunduk pada keahlian untuk segera mencapai kesepakatan diplomatik.

Meskipun mendesak AS untuk mengutamakan diplomasi, Riyadh juga mempertegas bahwa mereka bakal memihak diri jika merasa terancam. Sumber Teluk menyebut Arab Saudi telah memperingatkan bahwa setiap serangan ke wilayahnya bakal dibalas dengan respons militer nan setimpal.

Analis Arab Saudi nan dekat dengan pihak Istana, Ali Shihabi, menyebut kerajaannya menilai eskalasi lebih lanjut tidak mungkin mencapai hasil nan diinginkan.

"Kerajaan percaya bahwa kombinasi respons militer nan proporsional dan tekanan berkepanjangan pada Iran di Selat Hormuz menawarkan jalan terkuat menuju penyelesaian diplomatik nan praktis," jelas Shihabi.

Di sisi lain, kepemimpinan ustadz Iran telah berulang kali menuntut penutupan seluruh pangkalan militer AS di Teluk. Teheran juga mendesak negara-negara Arab Teluk untuk berakhir berbagi info intelijen dengan Washington nan diyakini telah memfasilitasi serangan terhadap mereka.

Pejabat Iran mempertegas bahwa serangan baru AS bakal dibalas dengan serangan terhadap akomodasi energi, kilang, jaringan listrik, prasarana air, jaringan transportasi, dan ladang minyak di seluruh Teluk.

"Musuh terus menakut-nakuti prasarana Iran. Jika Iran menderita kerusakan, Iran bakal menimbulkan kerusakan nan jauh lebih besar sebagai balasannya," tegas pejabat tersebut.

Pejabat itu juga mengingatkan kembali mengenai memori serangan pesawat nirawak dan rudal pada September 2019 ke akomodasi Abqaiq dan Khurais milik Aramco di Arab Saudi. Insiden tersebut sempat melumpuhkan lebih dari separuh produksi minyak mentah kerajaan dan mengekspos kerentanan prasarana daya Teluk.

Dengan menakut-nakuti prasarana ekonomi kritis di Teluk, Teheran berupaya meyakinkan Washington dan mitra Arabnya bahwa serangan lanjutan bakal membawa akibat ekonomi dan strategis nan tidak dapat diterima. Langkah ini secara efektif mendorong negara-negara regional untuk menekan Trump agar menghindari tindakan militer lebih lanjut.

Dari perspektif pandang Teheran, Trump sekarang menghadapi dua pilihan nan sama-sama tidak mengenakkan. Pilihan pertama adalah memicu eskalasi bentrok nan dapat melanda seluruh Teluk dan mengganggu pasokan daya global.

Sementara itu, pilihan kedua adalah menerima hasil negosiasi nan tetap jauh dari kemenangan absolut nan dicari oleh Washington. Seorang diplomat senior regional menilai bahwa salah satu halangan utama menuju sebuah kesepakatan adalah keengganan pihak AS.

"Amerika Serikat menginginkan sesuatu nan dapat disajikannya sebagai bukti bahwa mereka memenangkan perang," pungkas diplomat senior tersebut.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News