Jakarta Intercultural School (JIS) memperingati 75 tahun perjalanannya dalam menghadirkan pendidikan di Indonesia. Perayaan ini menjadi momen untuk mengapresiasi beragam generasi siswa, tenaga pendidik, staf, keluarga, hingga mitra nan telah berkontribusi dalam membentuk perjalanan JIS sebagai lembaga pendidikan berbasis internasional.
Head of School JIS, Maya Nelson, mengungkapkan, setiap perseorangan nan pernah menjadi bagian dari JIS telah memberikan kontribusi besar terhadap perjalanan sekolah dan terus menginspirasi misi JIS untuk menjadi Best for the World.
“Kami sangat bangga dapat memperingati momen krusial dalam sejarah sekolah ini sekaligus menghormati generasi siswa, pengajar, dan staf nan telah membentuk JIS menjadi organisasi nan hangat dan inklusif seperti saat ini,” ujar Nelson.
Perjalanan JIS, dari Kelas di Garasi Menjadi Institusi Pendidikan Global di Indonesia
Perjalanan JIS bermulai pada 1 September 1951, ketika sejumlah pekerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendirikan ruang kelas sederhana di kandang mobil rumah mereka di Jakarta. Saat itu, International School of Djakarta resmi dibuka dengan tiga pembimbing dan delapan siswa berumur 3 hingga 10 tahun.
Seiring bertambahnya jumlah siswa, JIS akhirnya memperoleh lahan di area Pattimura, Kebayoran Baru, pada 1952. Kampus Pattimura mulai beraksi pada 1953 dengan menyediakan jenjang pendidikan taman kanak-kanak hingga kelas 6. Pertumbuhan organisasi sekolah nan semakin besar pun mendorong pengembangan kampus Cilandak di atas lahan seluas 10 hektare di Jakarta Selatan untuk jenjang siswa nan lebih tinggi.
Sebelum menyandang nama Jakarta Intercultural School, terjadi beberapa kali perubahan nama nan disesuaikan dengan perkembangan identitas sekolah dari waktu ke waktu.
Sekolah ini sempat dikenal sebagai Joint Embassy School sebagai corak apresiasi atas support sejumlah kedutaan besar, seperti Australia, Inggris, Amerika Serikat, dan Yugoslavia. Setelah itu, namanya berubah menjadi Jakarta International School sebelum akhirnya mengangkat nama Jakarta Intercultural School.
Pada 1991, meningkatnya jumlah siswa sekolah dasar mendorong pembukaan Pondok Indah Elementary (PIE) nan berada tak jauh dari kampus Cilandak. Kemudian pada 2018, PIE menghadirkan Early Years Center nan dirancang unik untuk mendukung perkembangan siswa usia dini.
Kini, JIS melayani lebih dari 2.200 siswa mulai dari jenjang Early Years hingga Grade 12 dengan latar belakang sekitar 70 kebangsaan berbeda di tiga kampus. Para siswa mendapatkan pengalaman belajar nan memadukan akademik dan aktivitas kurikuler untuk mengembangkan rasa mau tahu, ketangguhan, kreativitas, serta pemahaman global.
Pada jenjang sekolah menengah atas, siswa juga dapat memilih jalur akademik sesuai kebutuhan melalui program International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP) alias Advanced Placement (AP) Capstone Diploma.
“Meskipun kampus dan teknologi pembelajaran terus berkembang, kami tetap berpegang pada komitmen nan sama, ialah menghadirkan pembelajaran berarti dan berorientasi masa depan dengan menempatkan siswa sebagai pusat dari seluruh kegiatan,” kata Nelson.
Komitmen tersebut tidak hanya diwujudkan melalui aktivitas di ruang kelas. Melalui JIS Peduli, program jasa sosial sekolah, para siswa turut mendukung beragam inisiatif nan berfokus pada rumor sosial, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, JIS Learning Center menyediakan support pembelajaran nan dirancang secara unik dan individual agar siswa dapat berperan-serta secara optimal dalam lingkungan sekolah maupun komunitas.
Perayaan HUT ke-75 Jadi Ajang Kumpul JIS Dragons dari Berbagai Dunia
Perayaan hari jadi ke-75 ini juga menjadi arena mempertemukan kembali generasi JIS Dragons, julukan bagi organisasi siswa dan alumni JIS. Sejumlah alumni dari beragam negara kembali ke Jakarta dan Bali untuk bernostalgia sekaligus membangun kembali hubungan dengan organisasi sekolah. Bahkan, datang pula alumni dari akhir dasawarsa 1960-an nan menjadi saksi perkembangan awal JIS di kampus Pattimura.
Sepanjang tahun menuju perayaan, JIS juga menghadirkan beragam aktivitas komunitas, pameran kreatif, aktivitas alumni, serta program apresiasi nan merayakan sejarah sekolah sekaligus hubungan eratnya dengan Indonesia.
Nelson mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ia pun merasa terhormat dapat melanjutkan warisan JIS, memperkuat budaya keterbukaan terhadap rasa mau tahu, menghadirkan pembelajaran bermakna, serta terus mempersiapkan siswa agar menjadi Best for the World.
“Bertahun-tahun apalagi puluhan tahun mendatang, kami berambisi generasi JIS Dragons berikutnya dapat memandang kembali momen ini dengan rasa bangga, seperti nan kami rasakan hari ini,” pungkas Nelson.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·