Jejak Sang Dokter Jamban Menghadirkan Martabat dari Ruang Sanitasi

Sedang Trending 23 jam yang lalu
Jejak Sang Dokter Jamban Menghadirkan Martabat dari Ruang Sanitasi Universitas Diponegoro (UNDIP) memperkuat komitmennya dalam peningkatan kesehatan masyarakat dengan menggandeng alumnus Fakultas Kedokteran angkatan 1982, Dr. dr. Budi Laksono, M.HSc., nan dikenal sebagai “Dokter Jamban”, untuk melanjutkan aktivitas pembang(Dok. Istimewa)

DI banyak perspektif Indonesia, persoalan sanitasi tetap menjadi realita pahit nan membayangi kehidupan masyarakat. Terutama di wilayah nan kerap diterpa rob, pemukiman di atas air, hingga wilayah dengan kondisi geografis ekstrem. Di sana, kehadiran jamban sehat bukan sekadar akomodasi fisik, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan nan lebih terhormat dan sehat.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, sebuah aktivitas besar lahir dari sinergi bumi akademik. Universitas Diponegoro (UNDIP) secara resmi menggandeng alumnusnya, Dr. dr. Budi Laksono, M.HSc., sosok nan dikenal luas sebagai "Dokter Jamban", untuk memperluas jangkauan penemuan sanitasi di seluruh pelosok negeri.

Kolaborasi Strategis UNDIP dan Sang Inovator

Komitmen penguatan kesehatan masyarakat ini ditegaskan dalam audiensi antara Dr. Budi Laksono dengan Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., di Gedung Widya Puraya, Kampus UNDIP Tembalang pada Rabu (10/6/2026). Dr. Budi, nan merupakan alumnus Fakultas Kedokteran UNDIP angkatan 1982, membawa misi besar untuk menuntaskan masalah buang air besar sembarangan (BABS) melalui teknologi tepat guna.

Rektor UNDIP mengapresiasi dedikasi luar biasa Dr. Budi. Menurut Prof. Suharnomo, penemuan nan dikembangkan bukan sekadar teori akademik, melainkan solusi nyata nan langsung menyentuh akar persoalan di masyarakat.

Inovasi Sanitasi di Medan Ekstrem

Dr. Budi Laksono dikenal lantaran keberhasilannya menciptakan solusi sanitasi di wilayah-wilayah susah nan selama ini terabaikan. Beberapa penemuan unggulannya meliputi:

  • Jamban Amfibi: Dirancang unik untuk wilayah nan mempunyai perubahan permukaan air tinggi alias wilayah rawa.
  • Jamban Terbang: Solusi inovatif untuk wilayah terdampak rob permanen, di mana prasarana konvensional tidak mungkin dibangun.

Hingga saat ini, melalui kerjasama dengan TNI AD dan beragam mitra strategis, Dr. Budi telah berkontribusi dalam pembangunan lebih dari satu juta jamban sehat. Gerakan ini telah memberikan faedah langsung bagi jutaan penduduk Indonesia dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.

Catatan Penting: "Jamban merupakan parameter vital kesehatan lingkungan. Sanitasi nan jelek adalah pemicu utama beragam penyakit menular dan menjadi salah satu aspek akibat tertinggi nomor stunting di Indonesia," tegas Dr. Budi Laksono.

Ekspansi Melalui Riset dan Pengabdian

UNDIP sebelumnya telah sukses mengangkat penemuan Jamban Terbang di Desa Tugu, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak—wilayah nan menjadi langganan rob. Ke depan, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), program ini bakal diperluas secara masif.

Langkah strategis nan bakal diambil meliputi:

  1. Integrasi KKN: Melibatkan mahasiswa dalam edukasi dan pembangunan bentuk sanitasi di desa-desa tertinggal.
  2. Penguatan Riset: Mengembangkan material jamban nan lebih ekonomis namun tahan lama.
  3. Advokasi Kebijakan: Mendorong pemerintah wilayah untuk mengangkat model sanitasi ini dalam skala kebijakan publik.

Upaya kolektif ini diharapkan tidak hanya memenuhi sasaran akses sanitasi layak nasional, tetapi juga mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia, khususnya pada poin kesehatan dan kesejahteraan serta akses air bersih dan sanitasi. (HT/I-1)

FAQ: Mengenal Gerakan Jamban Sehat

Pertanyaan Penjelasan
Apa itu Jamban Terbang? Sistem sanitasi nan dibangun di atas permukaan air alias lahan rob dengan teknologi pengolahan limbah nan tidak mencemari lingkungan sekitar.
Mengapa sanitasi berpengaruh pada stunting? Sanitasi jelek menyebabkan jangkitan berulang (seperti diare) pada anak, nan menghalang penyerapan nutrisi secara optimal selama masa pertumbuhan.
Siapa saja mitra aktivitas ini? Universitas Diponegoro, TNI AD, pemerintah daerah, dan beragam sektor swasta melalui program CSR.
Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia