Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance(Andrew Harnik/Getty Images/AFP)
WAKIL Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance tiba di Swiss untuk memimpin perundingan tingkat tinggi dengan Iran mengenai penerapan kesepakatan sementara nan dirancang guna mengakhiri ketegangan antara kedua negara.
Pertemuan nan berjalan di resor pegunungan Buergenstock, Swiss, pada Minggu (21/6) waktu setempat itu digelar di tengah situasi Timur Tengah nan tetap bergejolak, termasuk bentrok nan bersambung di Libanon dan kontroversi mengenai penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin langsung oleh Vance, sementara Iran mengutus Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiatornya, Mohammad Bagher Ghalibaf. Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi bahwa pembicaraan dimulai pada Minggu (21/6) pagi dengan melibatkan sejumlah pihak mediator.
Perundingan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari nan sebelumnya dicapai Washington dan Teheran sebagai langkah awal menuju proses diplomasi nan lebih luas.
Menjelang keberangkatannya ke Swiss dari Maryland, Vance menyampaikan harapannya agar perundingan dapat menghasilkan kemajuan konkret dalam sejumlah rumor utama.
"Saya berambisi kami bisa membikin kemajuan dalam rumor nuklir dan juga kemajuan dalam rumor gencatan senjata di Libanon," kata Vance kepada wartawan dilansir Al Jazeera, Minggu (21/6).
Delegasi Iran telah lebih dulu tiba di Swiss pada Sabtu (20/6) malam. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa rombongan tersebut turut diikuti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Pakistan, nan berkedudukan sebagai mediator dalam kesepakatan sementara antara AS dan Iran, juga mengirimkan perwakilan tingkat tinggi.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Syed Asim Munir dilaporkan datang untuk mendukung jalannya perundingan.
Meski kedua negara telah kembali ke meja perundingan, masing-masing tetap membawa prioritas nan berbeda.
Washington disebut mau memusatkan perhatian pada pembahasan program nuklir Iran, sedangkan Teheran lebih menekankan penerapan gencatan senjata serta penghentian operasi militer Israel di Libanon.
Pembicaraan ini berjalan ketika kesepakatan sementara nan baru ditandatangani mulai menghadapi tantangan di lapangan. Pada Sabtu (20/6), Israel kembali melancarkan serangan ke Libanon nan menurut laporan media setempat menyebabkan puluhan korban jiwa.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Teheran menilai serangan Israel tersebut bertentangan dengan komitmen gencatan senjata nan sebelumnya mendapat agunan dari Amerika Serikat.
IRGC memperingatkan bahwa kapal-kapal nan melintasi Selat Hormuz berpotensi menghadapi akibat keamanan. Namun, militer AS membantah adanya gangguan terhadap jalur pelayaran internasional tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan sedikitnya 55 kapal jual beli tetap melintasi Selat Hormuz dengan muatan lebih dari 17 juta barel minyak nan ditujukan ke pasar global.
CENTCOM menegaskan pihaknya bakal terus menjaga keamanan jalur pelayaran strategis tersebut agar aktivitas perdagangan tetap melangkah normal.
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan bahwa kapal-kapal nan melintasi Selat Hormuz tidak bakal dikenakan biaya tambahan selama masa gencatan senjata tetap berlaku. Namun, dia tidak menutup kemungkinan penerapan tarif tertentu andaikan proses perdamaian mengalami kegagalan.
Sementara itu, Iran menegaskan bahwa konsentrasi utama dalam perundingan kali ini adalah memastikan penerapan beragam poin nan telah disepakati dalam memorandum kesepahaman antara kedua negara.
Menurut sejumlah pejabat Iran, agenda pembahasan mencakup penghentian pertempuran di Libanon, pencabutan blokade maritim AS, pembukaan kembali Selat Hormuz, pelepasan aset Iran nan dibekukan, serta pelonggaran hukuman terhadap sektor minyak dan petrokimia negara tersebut.
Teheran mengakui bahwa seluruh persoalan itu tidak mungkin diselesaikan dalam satu putaran perundingan. Namun, Iran berambisi ada langkah konkret untuk mulai menjalankan kesepakatan nan telah ditandatangani Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pekan ini.
Di tengah proses diplomasi tersebut, situasi keamanan di Libanon tetap menunjukkan rapuhnya gencatan senjata nan berlaku.
Kelompok Hizbullah nan didukung Iran mengeklaim telah melancarkan serangan terhadap pasukan Israel. Sebaliknya, militer Israel menyatakan operasi mereka merupakan respons terhadap serangan nan lebih dulu dilakukan Hizbullah.
Media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berbareng Menteri Pertahanan Israel telah menginstruksikan penghentian serangan baru ke Libanon.
Meskipun, pasukan Israel disebut tetap bakal mempertahankan wilayah-wilayah nan saat ini berada di bawah kendali mereka. (Fer)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·