(MI/Seno)
SETIAP kali hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dirilis, perhatian publik nyaris selalu tertuju pada angka. Berapa skor Indonesia, naik alias turun, dan berada di ranking berapa.
Hasil PISA 2025 nan dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada September 2026 kembali memberi argumen untuk berefleksi. Siswa Indonesia memperoleh skor 364 dalam matematika, 365 dalam membaca, dan 389 dalam sains. Dalam computational problem solving, skor Indonesia mencapai 427. Jika dibandingkan dengan hasil PISA 2022, matematika turun dari 366 menjadi 364, sementara membaca meningkat dari 358 menjadi 365. Perubahan itu belum menunjukkan lompatan nan berarti. nan lebih penting, capaian Indonesia pada 2025 tetap berada di bawah capaian 2015.
Angka-angka tersebut tentu penting. Akan tetapi, nomor bukan persoalan nan sesungguhnya. Di kembali skor itu terdapat pertanyaan nan jauh lebih mendasar: kenapa keahlian siswa untuk memahami informasi, bernalar, menggunakan pengetahuan, dan memecahkan masalah belum berkembang secara optimal? Pertanyaan tersebut membawa kita ke pertanyaan lebih mendasar, ‘bagaimana sekolah dikelola dan gimana pembelajaran berjalan di ruang kelas?’.
PISA ADALAH CERMIN, BUKAN TARGET
PISA bukan sekadar menguji apakah siswa mengetahui suatu konsep. PISA memandang gimana kompetensi, pengetahuan, dan keahlian digunakan untuk menghadapi persoalan. Ketika hasil PISA belum menggembirakan, respons kita tidak semestinya berakhir pada memperbanyak latihan soal. Justru kita perlu memandang apa nan dialami siswa dalam proses belajar setiap hari. Apakah mereka diberi kesempatan untuk bertanya? Apakah mereka diminta menjelaskan alasan? Apakah mereka belajar menganalisis hubungan antara satu konsep dan konsep lain? Apakah pengetahuan nan dikuasai digunakan untuk membaca persoalan nyata? Apakah mereka mempunyai kesempatan trial and error, coba dan keliru, memperbaiki, dan merefleksikan proses belajarnya?
Jika sederetan pertanyaan di atas belum terjawab pasti, adalah jelas letak persoalan pendidikan sesungguhnya nan kudu direkonstruksi. PISA difungsikan bukan untuk menantang siswa belajar menghadapi tes. Namun, PISA menantang sekolah untuk memperbaiki langkah siswa belajar.
MASALAH BUKAN HANYA PADA SISWA
Ketika skor capaian siswa rendah, disimpulkan bahwa siswa kurang membaca, kurang berlatih, alias kurang bisa bernalar. Padahal, siswa tidak belajar dalam ruang kosong. Mereka belajar dalam sistem nan dibentuk oleh sekolah. Di sekolah, kepala sekolah menentukan arah, pembimbing merancang pembelajaran, budaya sekolah membentuk dan mengondisikan kebiasaan belajar, asesmen menentukan apa nan dianggap penting, serta keputusan manajerial menentukan gimana waktu dan sumber daya digunakan.
Dari perspektif manajerial ini, ketika kompetensi siswa belum berkembang optimal, maka pertanyaan kritis nan diajukan ialah, ‘apa nan kurang dari sistem nan kita bangun untuk membikin siswa belajar?’, bukan pertanyaan, ‘apa nan kurang dari siswa?’. Sekolah dengan segenap sistem pembelajarannya bertanggung jawab atas keberhasilan pendidikan nan terwujud dalam keahlian siswa beradaptasi dengan kehidupan nyata di masayarakat sekarang dan mendatang.
MANAJEMEN SEKOLAH SEBAGAI PENGUNGKIT
Manajemen sekolah (MS) selama ini tetap sering identik dengan administrasi. MS condong terkonsentarsi mengurusi program, anggaran, sarana, rapat, laporan, dan beragam dokumen. Semua itu memang penting. Sekolah tidak dibangun untuk menghasilkan manajemen nan rapi. Sekolah dibangun untuk menghasilkan pembelajaran nan bermutu. Ukuran keberhasilan MS, lantaran itu, perlu bergeser parameternya. Keberhasilan MS bukan hanya diukur dari apakah program terlaksana, melainkan dari apakah keputusan sekolah mempunyai keahlian memperbaiki pengalaman belajar siswa.
Di ranah ini, kepala sekolah dituntut berkedudukan sebagai pemimpin pembelajaran (learning leader) prima nan andal. Kepala sekolah perlu mengetahui apa nan terjadi di ruang kelas. Bukan untuk mencari kesalahan guru, melainkan demi memastikan proses belajar terus membaik. Supervisi perlu menjadi percakapan profesional. Data hasil belajar perlu menjadi bahan diagnosis. Guru perlu diberi ruang untuk belajar berbareng dan memperbaiki praktiknya. Knowledge sharing perlu dibudayakan sebagai kanal berbagi pengetahuan untuk pengembangan professional guru. Secara sistemik, mutu pembelajaran kudu dipimpin. Tidak cukup diatur secara algoritmik berdasar aturan-aturan baku nan ketat.
PEMBELAJARAN MENDALAM: DARI TAHU MENJADI MAMPU
MS nan baik saja belumlah cukup. Diperlukan pendekatan pedagogik nan tepat sesuai perkembangan siswa. Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi salah satu pilihan memadai. Karakteristiknya nan relevan dengan tujuan dan prinsip dasar pembelajaran modern mempunyai kapabilitas membentuk siswa berpikir kritis (critical thinking) nan dibutuhkan zamannya.
Dalam arah kebijakan pendidikan Indonesia, pembelajaran mendalam (PM) dipahami sebagai pendekatan nan menekankan proses belajar nan berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pengalaman belajar tidak berakhir pada mengetahui, tetapi bergerak melalui proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
Gagasan ini sangat relevan dengan persoalan nan tecermin dalam PISA. Siswa tidak cukup mengetahui rumus matematika. Mereka perlu memahami konsep dan mengetahui kapan serta gimana konsep itu digunakan. Siswa tidak cukup bisa membaca teks. Mereka perlu memahami informasi, menghubungkan gagasan, menilai informasi, dan menarik kesimpulan. Siswa tidak cukup mengetahui konsep sains. Mereka perlu menggunakan pengetahuan tersebut untuk memahami kejadian dan memecahkan persoalan. Pembelajaran mendalam menggeser orientasi dari sekadar penguasaan pengetahuan menuju penggunaan pengetahuan secara bermakna.
Dalam penerapan PM, peran MS kembali menjadi krusial signfikansinya. Titik jumpa berjalan di antara keduanya. Tuntutan pemahaman konsep secara substansial nan berfokus pada kesadaran, kebermaknaan, dan kegembiraan nan menjadi penekanan PM di satu pihak berjumpa dengan pengaturan pembelajaran terstruktur nan menyampaikan materi agar siswa hafal di pihak lain. Kebosanan dan kepenatan belajar pun berubah. Terjadi intensitas penghafalan sekaligus penguatan pemahaman, kebermaknaan, dan antusiame belajar siswa.
Di sini, tugas pembimbing tak sekadar menyampaikan materi untuk dikuasai dan dihafal, tetapi diniscayakan untuk membangun kesadaran perubahan dan masalah nyata dalam realitas kehidupan sesungguhnya. Dibutuhkan bagi pembimbing waktu untuk merancang pembelajaran nan bermakna, kesempatan berkolaborasi, dan merefleksikan praktik mengajar. Sebaliknya bagi siswa dibutuhkan lingkungan nan kondusif untuk bertanya dan mencoba. Asesmen diperlukan untuk mengukur pemahaman dan penerapan. Bukan hanya mengukur keahlian mengingat. Keputusan manajemen nan dibuat kepala sekolah mengondisikan ekosistem pembelajaran kondusif bagi pembimbing dan siswa beraktualisasi mencari perubahan nan mendasar, bermakna, dan membahagiakan dalam pembelajaran.
Tuntutan ahli nan kudu diwujudkan dalam penerapan pembelajaran mendalam adalah pengembangan ahli pembimbing untuk menjawab kebutuhan nyata di kelas. Data asesmen digunakan untuk memperbaiki pembelajaran. Lingkungan sekolah perlu memberi ruang bagi siswa untuk berpikir, berdiskusi, mencoba, dan merefleksi
JANGAN MENGAJAR UNTUK PISA
Di sinilah kita perlu menghindari jebakan. Ketika PISA dijadikan target, sekolah bisa tergoda melakukan drilling: memperbanyak latihan soal, mengenalkan pola soal, dan melatih strategi menjawab. Kita mungkin mendapatkan siswa nan lebih siap menghadapi tes. Tetapi belum tentu kita mendapatkan siswa nan lebih bisa menghadapi persoalan kehidupan. Apa nan kita latih bukan keahlian mengerjakan soal PISA, melainkan keahlian berpikir nan membikin siswa siap menghadapi kehidupan.
DATA HARUS MENGUBAH PEMBELAJARAN
Ada kegunaan MS nan tidak kalah krusial dalam penguatan efektivitas PM. Data hasil belajar nan dimiliki sekolah tidak berakhir sebagai nomor rapor alias laporan semata. Data kudu dipergunakan untuk memperbaiki pembelajaran. Data semestinya memunculkan pertanyaan: Apa nan sudah dipahami siswa? Apa nan belum dipahami? Mengapa mereka belum memahaminya? Apa nan kudu diubah dalam pembelajaran?
Untuk keperluan inilah diperlukan sekolah membangun siklus: info → pemeriksaan → intervensi → pembelajaran → refleksi → perbaikan.
Dalam paradigma manajemen berbasis pembelajaran, info tidak digunakan untuk menghakimi pembimbing alias siswa, tetapi untuk menemukan apa nan kudu diperbaiki. Dengan langkah ini, asesmen menjadi bagian dari proses pembelajaran mendalam: membantu siswa memahami posisi belajarnya dan membantu pembimbing menentukan langkah berikutnya.
PISA TIDAK PERLU DIKEJAR
Pada akhirnya, mungkin kita perlu mengubah langkah kita memandang PISA. Jangan mulai dari pertanyaan ‘bagaimana agar skor PISA naik?’, mulailah dari pertanyaan, ‘bagaimana memastikan setiap anak mengalami pembelajaran nan mendalam, bermakna, dan relevan setiap hari?’. Pertanyaan tersebut membawa kita pada pekerjaan nan jauh lebih penting: membenahi manajemen sekolah agar berpihak pada pembelajaran.
Kepala sekolah kudu memimpin pembelajaran. Guru kudu terus belajar dan berefleksi. Sekolah kudu membangun budaya bernalar. Asesmen kudu digunakan untuk memahami proses belajar. Data kudu menjadi dasar perbaikan. Dan seluruh ekosistem sekolah kudu memberi ruang bagi PM. Artinya, pekerjaan kita sesungguhnya sudah jelas: bukan mencari langkah agar anak lebih pandai menghadapi PISA, melainkan membangun sekolah nan membikin anak lebih bisa belajar.
PISA adalah cermin. MS adalah pengungkit, sedangkan PM adalah prosesnya. Adapun kompetensi siswa adalah hasil nan mau ditumbuhkan agar relevan dengan kehidupan nyata. Karena itu, jangan sibuk mempercantik nomor nan terlihat di cermin. Benahi sekolah nan menghasilkan nomor tersebut.
Jika sekolah bisa menciptakan pembelajaran nan berkesadaran, bermakna, menggembirakan, serta membikin siswa memahami, mengaplikasi, dan merefleksikan pengetahuan, maka kompetensi mereka bakal tumbuh. Dan, ketika kompetensi tumbuh, skor PISA tidak perlu dikejar. Ia bakal mengikuti sebagai akibat dari proses pendidikan nan memang telah dibenahi.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·