Seorang penduduk menutup hidung saat melintas di tengah asap akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan mendekati permukiman di Komplek Arwana Indah, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (5/8/2026).( ANTARA FOTO/Jessica Wuysang)
KEPUNGAN asap kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan kian meluas di sejumlah wilayah memicu ancaman serius bagi kesehatan respirasi masyarakat. Dokter ahli paru dan pernapasan dari Universitas Indonesia, Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked, menekankan pentingnya menerapkan langkah pencegahan secara berlapis, mulai dari primer, sekunder, hingga tersier, guna meminimalkan akibat penyakit akibat paparan asap karhutla.
Dr. Feni memaparkan bahwa pencegahan primer merupakan langkah awal guna mencegah terjadinya paparan (pajanan) asap karhutla. Langkah ini memerlukan penanganan langsung pada sumber kebakaran serta perlindungan diri bagi masyarakat di sekitar letak bencana.
“Caranya seperti apa? Hindari aktivitas di luar rumah lantaran polusi akibat asap kebakaran itu tentu bakal lebih besar konsentrasinya ada di luar rumah. Kalaupun kudu keluar rumah, gunakan masker jenis apa pun tetap ada aspek perlindungannya dibanding tidak menggunakan masker sama sekali,” ujar Feni dikutip dari Antara, Rabu (26/8).
Dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI nan juga berpraktik di RSUP Persahabatan ini menyarankan, jika penduduk terpaksa beraktivitas di luar ruangan, hendaknya dilakukan dengan lama sesingkat mungkin dan perlindungan maksimal. Penggunaan masker sebaiknya dilengkapi kacamata untuk mencegah iritasi mata serta busana tertutup nan melindungi seluruh tubuh.
Hindari Polusi Ganda di Dalam Rumah
Untuk perlindungan di dalam ruangan, masyarakat diimbau menutup rapat pintu dan jendela agar polutan luar tidak masuk. Feni memperingatkan agar masyarakat tidak menambah pencemaran udara di dalam rumah (indoor pollution).
“Di dalam rumah sendiri jangan menambah polusi udara, misalnya tidak merokok di dalam rumah, tidak menyalakan lilin alias obat nyamuk bakar lantaran konsentrasi polusi di dalam rumah bakal meningkat dengan melakukan aktivitas tersebut,” kata dr. Feni.
Sementara pada tingkat pencegahan sekunder, langkah difokuskan untuk mencegah penduduk nan terpapar agar tidak jatuh sakit andaikan asap karhutla belum sepenuhnya terkendali. Masyarakat diminta peka terhadap indikasi perburukan saluran pernapasan, menyiapkan obat pertolongan pertama di rumah, serta segera mendatangi akomodasi pelayanan kesehatan jika keluhan tidak membaik.
Adapun pada pencegahan tersier, pasien nan sudah terlanjur berobat alias dirawat akibat dampak asap karhutla diwajibkan menjalani pengobatan sesuai rekomendasi master dan menghentikan kebiasaan tidak sehat, terutama merokok.
Feni menekankan pentingnya menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui rehat cukup, pengelolaan stres, konsumsi air putih nan cukup, serta asupan gizi seimbang demi menjaga daya tahan tubuh.
“Perlu juga menghentikan kebiasaan perseorangan seperti membakar sampah, hingga penyediaan shelter penampungan nan menjamin udara lebih bersih sebagai solusi melindungi penduduk terdampak,” tambahnya.
3 Juta Warga Terpapar Kabut Asap
Upaya pencegahan kesehatan ini menjadi makin mendesak mengingat besarnya skala akibat karhutla nasional. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per Jumat (21/8/2026) mencatat karhutla telah berakibat pada 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi, ialah Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dari pemetaan tersebut, sekitar tiga juta penduduk di 37 kabupaten/kota dilaporkan telah terpapar kabut asap pekat. Kemenkes mengingatkan bahwa paparan partikel lembut particulate matter (PM2,5) dalam asap karhutla berpotensi masuk hingga ke saluran pernapasan terdalam dan meningkatkan akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara drastis. (Ant/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·