Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di wilayah Yerusalem Timur nan diduduki Israel kian memuncak setelah sejumlah penduduk Palestina terpaksa menghancurkan rumah mereka sendiri dengan menggunakan buldozer dan perangkat berat dalam beberapa pekan terakhir. Langkah tragis tersebut terpaksa diambil demi menghindari denda dahsyat dari pemerintah kota Yerusalem nan beriktikad menggusur paksa area permukiman tersebut demi membangun sebuah taman intermezo berbasis alkitabiah.
Mengutip laporan The Guardian pada Rabu (20/05/2026), salah seorang penduduk lingkungan al-Bustan berjulukan Jalal al-Tawil mengungkapkan rasa sakit nan mendalam saat menyaksikan traktor sewaannya merobohkan sisa-sisa rumah nan dibangun oleh mendiang ayahnya. Al-Tawil terpaksa menghancurkan gedung berhistoris family tersebut secara berdikari lantaran tidak sanggup bayar denda penggusuran sebesar 280.000 shekel alias setara US$ 72.000 (Rp 1,27 miliar) jika proses pembongkaran dilakukan langsung oleh petugas pemerintah kota Israel.
"Ini adalah sesuatu nan sangat berat, ini adalah sesuatu nan pahit," ujar Jalal al-Tawil.
"Pilihan ini seperti diberikan opsi antara melakukan bunuh diri alias dibunuh secara paksa," tambahnya.
Lebih dari 57 rumah di al-Bustan dilaporkan telah hancur dalam dua tahun terakhir, di mana area tersebut bakal disulap menjadi taman bertema biblika berjulukan Kings Garden nan diklaim sebagai tempat rekreasi Raja Salomo tiga milenia lalu. Peneliti senior dari lembaga pembelaan Ir Amim, Aviv Tatarsky, menilai bahwa megaproyek arkeologi ini sengaja dirancang untuk menghapus keberadaan etnis Palestina dari peta pengetahuan permukaan bumi dan sejarah Yerusalem demi menciptakan narasi sejarah tunggal Yahudi nan artifisial.
"Israel tidak bersedia mengakui realitas multi-etnis dan multi-kultural di Yerusalem, dan mereka menghapuskan penduduk Palestina terlebih dahulu," kata Aviv Tatarsky.
"Jika penggusuran ini selesai, penduduk Israel nan datang ke taman hanya bakal memandang cerita fiksi tanpa mengetahui adanya organisasi nan dihancurkan di bawahnya," lanjut Tatarsky.
Tekanan penggusuran oleh otoritas Israel dirasakan kian masif sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, pecahnya perang Gaza, serta kembalinya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Seorang ayah dari enam anak, Mohammad Qwaider, mengaku bahwa dirinya baru saja merobohkan sebagian rumahnya demi menenangkan tim perencana kota, meski petugas pemerintah wilayah setempat tetap datang dan menakut-nakuti bakal meratakan seluruh sisa gedung nan ada.
"Ada anjing liar nan berkeliaran di lingkungan ini pada malam hari nan merasa lebih kondusif dan terjamin daripada kami," ucap Mohammad Qwaider.
"Jika mereka meruntuhkan rumah kami, kami bakal mendirikan tenda dan kami tidak bakal pernah pergi meninggalkan tanah ini," tegas Qwaider.
Penderitaan serupa dialami oleh pemimpin organisasi al-Bustan, Fakhri Abu Diab, nan sekarang terpaksa tinggal di sebuah kabin portabel berbareng istrinya di atas puing-puing rumah family empat generasi mereka nan dihancurkan pada tahun 2024 lalu. Selain kehilangan memori masa kecilnya, Abu Diab apalagi tetap diwajibkan bayar denda bulanan kepada pemerintah kota atas biaya pembongkaran rumahnya, termasuk biaya logistik makanan polisi Israel nan menjaga operasi tersebut.
"Mereka menghancurkan masa lampau kami, ingatan kami, mimpi kami, masa mini kami, dan masa depan kami," tutur Fakhri Abu Diab.
"Mungkin Anda memandang saya duduk dan berbincang dengan Anda sekarang, tetapi dari dalam lubuk hati, saya betul-betul terbakar," ungkap Abu Diab.
Di sisi lain, pihak Otoritas Kota Yerusalem berkilah bahwa proyek taman tersebut dibangun untuk kepentingan seluruh masyarakat kota lantaran wilayah al-Bustan diklaim tidak pernah dizonasi sebagai area pemukiman legal. Istri Abu Diab nan berprofesi sebagai pembimbing dan pekerja sosial, Amina Abu Diab, menyatakan kekhawatiran terbesarnya terhadap masa depan anak-anak di lingkungan tersebut nan sekarang kehilangan rasa kondusif akibat hilangnya tempat tinggal mereka.
"Sebuah rumah adalah angan anak-anak tentang masa depan, dan jika seseorang datang untuk meruntuhkannya, mereka menghancurkan mimpi tersebut," jelas Amina Abu Diab.
"Lalu apa nan bakal dipikirkan anak-anak terhadap kita jika kita sendiri tidak bisa melindungi diri kita dan mereka," pungkas Abu Diab.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·