Israel-Lebanon Sepakat Damai, Hizbullah Warning Perang Saudara

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Israel dan Lebanon akhirnya menandatangani perjanjian kerangka kerja di Washington pada Jumat (26/6) waktu setempat, setelah perundingan selama beberapa hari untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan milisi Hizbullah nan didukung Iran. Kedua pihak memandang kesepakatan tersebut sebagai langkah awal.

Duta Besar Lebanon Nada Moawad dan mitranya dari Israel, Yechiel Leiter, menandatangani arsip trilateral berbareng AS di Departemen Luar Negeri di Washington, namun hanya memberikan sedikit perincian.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kesepakatan tersebut memungkinkan pasukan Israel untuk terus menduduki Lebanon selatan jika Hizbullah tidak melucuti senjatanya.

"Hari ini kita telah mengambil langkah pertama dalam perjalanan nan bakal sulit, namun merupakan langkah nan penting, esensial, dan perlu dilakukan," kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelum kesepakatan itu ditandatangani, dikutip dari Reuters, Sabtu (27/6/2026).

Dalam pernyataan selanjutnya, dia mengatakan AS bakal memfasilitasi penyelenggaraan kesepakatan tersebut melalui "Kelompok Koordinasi Militer untuk Lebanon" nan berkarakter trilateral. Washington bakal mengerahkan sumber daya nan signifikan, termasuk support kemanusiaan segera senilai US$100 juta (Rp1,7 triliun), nan dikoordinasikan dengan PBB.

Rubio menambahkan AS menegaskan kembali niatnya untuk meningkatkan keahlian Angkatan Bersenjata Lebanon "agar dapat lebih efektif menegakkan kedaulatan di seluruh wilayah Lebanon" melalui biaya lebih dari US$30 juta (Rp538 miliar), sesuai dengan kewenangan dan alokasi anggaran AS nan sudah ada.

Konflik antara Israel dan Hizbullah meletus ketika golongan bersenjata tersebut melancarkan serangan terhadap Israel pada 2 Maret 2026, beberapa hari setelah AS dan Israel menyerang Iran. Serangan Hizbullah itu memicu serangan udara dan darat Israel nan telah menewaskan lebih dari 4.000 orang di Lebanon serta menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.

Moawad dari Lebanon juga menyebut langkah ini sebagai "langkah awal" menuju pemulihan kedaulatan Lebanon.

"Iran keluar, Hizbullah keluar, dan jalan menuju perdamaian antara Israel dan Lebanon terbuka," ujar Leiter.

Dalam sebuah pernyataan, Netanyahu mengatakan kesepakatan tersebut juga memungkinkan tentara Lebanon bersiap mengambil alih kendali wilayah, nan diawali dengan dua "zona percontohan". Di zona-zona ini, pasukan Israel bakal menarik diri dari wilayah nan sempat mereka duduki selama perang berlangsung.

Israel menyebut wilayah tersebut sebagai "zona keamanan" alias "zona penyangga" tempat pasukannya dapat menggagalkan serangan Hizbullah ke wilayah utara Israel.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan kesepakatan tersebut semestinya memungkinkan penduduk Lebanon untuk kembali ke tanah nan "sepenuhnya dibebaskan" dan rumah-rumah nan telah dibangun kembali, tanpa adanya "pihak lain" nan turut kombinasi dalam kedaulatan wilayah itu.

Jumlah korban tewas di pihak Israel akibat rangkaian permusuhan dengan Hizbullah ini mencakup sedikitnya 32 tentara dan empat penduduk sipil Israel. Hizbullah tidak merilis nomor korban tewas dari pihak mereka dalam perang ini.

Reuters melaporkan pada 4 Mei bahwa ribuan pejuang Hizbullah telah tewas dalam perang tersebut.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada Reuters pada Kamis (25/6), Israel sudah setuju untuk menarik diri dari sebagian wilayah nan didudukinya. Klaim ini dibantah para pejabat Israel maupun Lebanon.

Sebelum perundingan dilanjutkan pekan ini, Israel dan Hizbullah sepakat melakukan gencatan senjata, meskipun Israel tetap menempatkan pasukannya di Lebanon selatan.

Hizbullah Peringatkan Perang Saudara

Kekerasan terus bersambung sejak gencatan senjata diberlakukan. Pada Jumat (26/6), Israel menyatakan pasukannya telah menyerang dan menewaskan tujuh orang nan disebut militer sebagai personil Hizbullah nan beraksi di dekat wilayah pendudukan Israel. Reuters tidak dapat mengonfirmasi perihal ini.

"Sejauh mana tentara Lebanon sukses membongkar kekuatan dan melucuti senjata Hizbullah, kami bakal melanjutkan dengan area percontohan tambahan serta penetapan akhir perbatasan nan aman, disepakati bersama, dan diakui secara internasional," ujar Leiter kepada para wartawan usai penandatanganan kesepakatan.

Anggota parlemen dari Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengatakan otoritas Lebanon tidak bakal bisa menegakkan kesepakatan tersebut selain dengan support AS. "Mereka memicu perang saudara," demikian dilaporkan oleh saluran penyiaran pro-Iran, Al Mayadeen.

Hizbullah bakal menentang setiap langkah nan diambil otoritas Lebanon dan bakal makin mempertahankan persenjataan mereka. Fadlallah menambahkan bahwa penentangan kelompoknya berkarakter "serius" dan mereka tidak bakal membiarkan otoritas melaksanakan komitmen tersebut di lapangan.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News