Ilustrasi tandus 2026(Antara)
KEBERHASILAN Indonesia menjaga produksi pangan selama musim kemarau 2026 sangat ditentukan oleh kesiapan dan kelancaran sistem irigasi. Guru besar bagian Geofisika dan Meteorologi IPB University Hidayat Pawitan menilai tandus tahun ini belum tergolong ekstrem, namun pemerintah tetap perlu memastikan pasokan air bagi sentra-sentra produksi padi tetap terjaga.
Menurut Hidayat, musim tandus 2026 tetap berada dalam pemisah normal bagi Indonesia. Kondisi suhu permukaan laut nan relatif hangat juga membikin hujan tetap berkesempatan terjadi di banyak wilayah sehingga ancaman terhadap produksi pangan nasional belum terlalu besar.
"Musim tandus 2026 saya kira tidak ekstrem seperti nan pernah dikemukakan Sekjen PBB mengenai El Nino kuat. Saya melihatnya tetap dalam pemisah tandus normal untuk wilayah Indonesia dengan permukaan laut nan relatif hangat sehingga hujan tetap sering datang di banyak wilayah," kata Hidayat kepada Media Indonesia, Rabu (10/6).
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa akibat kekeringan tetap mengintai daerah-daerah nan selama ini menjadi langganan kekeringan dan tidak mempunyai support waduk maupun jaringan irigasi teknis nan memadai. Wilayah seperti itu lebih rentan mengalami gangguan produksi hingga kandas panen ketika curah hujan menurun dalam waktu lama.
Sebaliknya, lahan sawah nan telah terhubung dengan sistem irigasi teknis diperkirakan bisa mempertahankan produktivitas apalagi berpotensi meningkatkan hasil panen selama musim kemarau.
"Bagi wilayah nan mempunyai support irigasi dengan luas baku sawah teknis sekitar 4,3 juta hektare, musim tandus 2026 justru potensial mempunyai produktivitas lebih tinggi. Biasanya ini meliputi 10 provinsi produsen padi utama Indonesia," ujarnya.
Karena itu, Hidayat menilai perhatian utama pemerintah semestinya diarahkan pada pengelolaan sumber daya air, khususnya memastikan waduk dan jaringan irigasi berfaedah optimal selama musim tandus berlangsung.
Menurutnya, keahlian petani untuk mengantisipasi akibat kekeringan relatif terbatas sehingga diperlukan support kebijakan dan koordinasi nan kuat dari pemerintah pusat maupun daerah.
"Yang krusial justru komando dari Kementerian Pertanian nan lebih siap dengan program prioritas menghadapi kondisi tandus dan berkoordinasi dengan pemerintah wilayah di provinsi-produsen beras utama, misalnya dengan menjamin kelancaran operasi irigasi dari waduk-waduk nan ada," tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan menjaga pengedaran air ke lahan pertanian bakal menjadi aspek penentu dalam mempertahankan produksi beras nasional di tengah datangnya musim tandus lebih awal pada tahun ini. Dengan support irigasi nan memadai, ketahanan pangan nasional diyakini tetap dapat terjaga meskipun sejumlah wilayah menghadapi akibat kekeringan. (Ata/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·