IRGC Serang Armada Kelima AS di Bahrain, Balas Dendam atas Agresi di Sirik

Sedang Trending 2 jam yang lalu
IRGC Serang Armada Kelima AS di Bahrain, Balas Dendam atas Agresi di Sirik Ilustrasi - Perang AS dan Iran.(Antara/Anadolu)

KETEGANGAN di area Teluk mencapai titik didih setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan pesawat nirawak (drone) terhadap markas Armada Kelima Amerika Serikat (AS) nan berbasis di Bahrain, Rabu (10/6) pagi.

Serangan ini diklaim sebagai respons langsung atas operasi militer Washington nan sebelumnya menghantam sejumlah wilayah kedaulatan Iran di sekitar Selat Hormuz. IRGC menuduh militer AS melakukan agresi nan merusak prasarana sipil di wilayah selatan Iran.

"Rezim AS nan penghasut perang menyerang beberapa titik di Jask, Sirik, dan Qeshm pagi ini dengan dalih palsu. Serangan itu merusak tiang telekomunikasi di Sirik dan menghancurkan dua tangki air," tulis pernyataan resmi IRGC sebagaimana dilansir AFP, Rabu (10/6).

Ketegangan Meningkat, AS Kerahkan Jet Tempur F-35 ke Selat Hormuz

Siklus Balas Dendam

Eskalasi ini bermulai ketika Presiden AS Donald Trump menuduh Iran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter tempur AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS pada Senin (8/6). Helikopter canggih tersebut dilaporkan jatuh saat melakukan patroli di area strategis Selat Hormuz.

Meski Trump mengonfirmasi bahwa kedua awak helikopter selamat, dia menegaskan bahwa AS kudu memberikan respons tegas. Hal inilah nan memicu serangan udara AS pada Selasa (9/6) ke wilayah pelabuhan Sirik, nan kemudian dibalas kembali oleh IRGC dengan menargetkan aset militer AS di Bahrain.

Pihak IRGC memperingatkan bahwa mereka tidak bakal ragu untuk melakukan operasi nan lebih besar andaikan Amerika Serikat terus melanjutkan aktivitas militernya nan dianggap menakut-nakuti keamanan nasional Iran.

Perang Drone di Teluk

Sejak bentrok pecah pada 28 Februari lalu, Iran mengeklaim telah sukses menembak jatuh sekitar 30 drone MQ-9 Reaper milik AS. Namun, kejadian jatuhnya helikopter AH-64 Apache kali ini menjadi sorotan utama lantaran merupakan kasus pertama nan melibatkan jenis helikopter serang paling mematikan milik Pentagon tersebut dalam bentrok nan sedang berlangsung.

Situasi di Selat Hormuz tetap dalam status siaga tinggi, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi pengiriman minyak global. (AFP/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia