Iran menyatakan Selat Hormuz bakal tetap dibuka untuk pelayaran internasional, tetapi dengan patokan baru nan kemungkinan mencakup biaya transit bagi kapal nan melintas.
Pernyataan itu disampaikan Duta Besar (Dubes) Iran untuk Rusia Kazem Jalali di tengah terganggunya arus minyak dan gas bumi akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"Selat ini tentu bakal tetap terbuka, tetapi dengan syarat-syarat baru nan bakal ditentukan oleh otoritas Iran dan Oman," kata Jalali dalam wawancara dengan surat berita Rusia Izvestia, dikutip Reuters, Senin (8/6).
Jalali mengatakan Iran dan Oman menyediakan beragam jasa nan berangkaian dengan jalur pelayaran tersebut.
"Kami memahami bahwa Iran dan Oman menyediakan jasa tertentu mengenai selat ini. Dan biaya bakal dikenakan untuk jasa tersebut," ujarnya.
Reuters melaporkan, Iran sebelumnya menegaskan bahwa kesepakatan tenteram permanen kudu memberi Teheran kewenangan untuk memungut biaya dari kapal nan melintasi Selat Hormuz.
Besaran biaya disebut dapat berbeda tergantung jenis kapal, muatan, dan kondisi nan bertindak saat pelayaran.
Gagasan tersebut mendapat penolakan keras dari Presiden AS Donald Trump.
Pada akhir Mei lalu, Washington memperingatkan Oman agar tidak terlibat dalam upaya penerapan pungutan berbareng Iran di Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent apalagi mengatakan Dubes Oman telah menyampaikan bahwa negaranya tidak mempunyai rencana untuk memberlakukan tarif tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur daya paling krusial di bumi nan dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Meski sejumlah kapal tanker mulai kembali berlayar dalam beberapa pekan terakhir, Reuters melaporkan arus pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz tetap jauh di bawah kondisi normal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·