Cadangan Devisa Anjlok, Investasi di Indonesia Dianggap makin Berisiko

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Cadangan Devisa Anjlok, Investasi di Indonesia Dianggap makin Berisiko ilustrasi(Antara)

Penurunan cadangan devisa Indonesia sejak awal 2026 perlu diwaspadai. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, pasar tidak hanya memperhatikan besarnya persediaan devisa, tetapi tren penurunannya nan terjadi di tengah pelemahan rupiah dan koreksi pasar finansial domestik. Menurutnya, tren tersebut dapat meningkatkan persepsi akibat investor terhadap Indonesia andaikan bersambung tanpa diimbangi perbaikan esensial ekonomi.

"Tren ini perlu diwaspadai. Cadangan devisa dapat terlihat cukup besar di atas kertas, tetapi mulai mencemaskan jika terus terkuras untuk menahan kurs tanpa diikuti perbaikan ekspor dan esensial lainnya" kata Syafruddin kepada Media Indonesia, Senin (8/6).

Syafruddin menjelaskan standar umum nan digunakan untuk mengukur kecukupan persediaan devisa adalah keahlian membiayai impor selama minimal tiga bulan. Hingga saat ini, posisi persediaan devisa Indonesia tetap tergolong kondusif lantaran setara dengan sekitar lima hingga enam bulan impor.

Ia menambahkan, ketahanan persediaan devisa juga sangat berjuntai pada masuknya devisa hasil ekspor, repatriasi biaya dari luar negeri, serta arus modal portofolio nan stabil. 

'Karena itu, pemisah kondusif persediaan devisa tidak boleh dibaca secara mekanis hanya berasas jumlah bulan impor," ucapnya. 

Menurut Syafruddin, kondisi ini bakal menjadi lebih rawan andaikan persediaan devisa turun mendekati level empat bulan impor, sementara rupiah terus melemah dan penanammodal asing terus menarik biaya dari pasar saham maupun obligasi domestik.

Selama empat bulan berturut-turut persediaan devisa Indonesia menyusut. Berdasarkan info Bank Indonesia, posisi persediaan devisa turun dari US$154,6 miliar pada Januari 2026 menjadi US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Dengan dugaan kurs Rp18.158 per dolar AS, nilainya menyusut dari sekitar Rp2.806,23 triliun menjadi Rp2.631,09 triliun.

Secara kumulatif, persediaan devisa berkurang sebesar US$9,7 miliar alias setara sekitar Rp176,13 triliun sepanjang Januari hingga Mei 2026. 

Syafruddin menilai tren tersebut juga berpotensi memengaruhi kepercayaan penanammodal asing. Menurutnya, penanammodal dunia menilai ketahanan ekonomi Indonesia berasas kombinasi sejumlah indikator, mulai dari nilai tukar rupiah, pergerakan pasar saham, tingkat imbal hasil, inflasi, persediaan devisa, hingga kredibilitas kebijakan pemerintah.

Pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.155 per dolar AS dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 37% menunjukkan penanammodal mulai meningkatkan premi akibat terhadap aset Indonesia. Sementara itu, kenaikan BI Rate mencerminkan respons moneter nan tegas, sedangkan disiplin fiskal pemerintah turut memperkuat persepsi positif terhadap pengelolaan APBN.

"Kondisi ini jelas memengaruhi kepercayaan penanammodal asing," tekannya.

Meski demikian, penanammodal tetap memerlukan bukti nan lebih konkret, antara lain berupa stabilisasi nilai tukar, arus modal masuk nan berkelanjutan, pembiayaan fiskal nan kredibel, kualitas shopping negara nan baik, serta prospek untung emiten nan tetap kuat.

Menurutnya, jika rupiah terus melemah, penanammodal asing bakal menghadapi akibat kerugian kurs meskipun imbal hasil aset berdenominasi rupiah meningkat.

"Jika rupiah terus melemah, penanammodal asing menghadapi akibat kerugian kurs meskipun imbal hasil rupiah meningkat," ujarnya.

Selain itu, andaikan IHSG terus mengalami penurunan, penanammodal bakal semakin berhati-hati dalam menilai prospek pertumbuhan ekonomi dan keahlian untung korporasi. Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu memperkuat komunikasi kebijakan, menjaga konsistensi langkah nan ditempuh, serta menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi tidak hanya tercermin dalam info statistik, tetapi juga terlihat dari respons dan kepercayaan pasar.

Syafruddin juga menyoroti bahwa pelemahan rupiah dan penurunan IHSG terjadi ketika sejumlah parameter esensial tetap terlihat cukup kuat. Rupiah tercatat melemah dari sekitar Rp16.670 per dolar AS pada Desember 2025 menjadi Rp18.155 per dolar AS pada Juni 2026, sementara IHSG terkoreksi sekitar 37 persen dari posisi puncaknya.

Pada saat nan sama, indeks dolar AS (DXY) hanya naik sekitar 1,74%, BI Rate telah meningkat menjadi 5,25% inflasi tetap rendah, dan persediaan devisa tetap berada di kisaran US$146,2 miliar.

Menurutnya, kombinasi tersebut menunjukkan tekanan pasar tidak hanya berasal dari penguatan dolar AS secara global, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek domestik seperti kebutuhan kurs asing, arus modal, dan ekspektasi penanammodal terhadap prospek ekonomi nasional.

"Ketahanan eksternal tidak cukup diukur dari besar persediaan devisa," jelasnya.

Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjadikan perkembangan ini sebagai sinyal awal bahwa pasar sedang menguji kredibilitas bauran kebijakan nan diterapkan. Jika rupiah terus melemah dan IHSG terus terkoreksi, tekanan tersebut dapat merembet ke kenaikan biaya impor, beban utang valas, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), hingga persepsi akibat Indonesia di mata penanammodal global. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia