Alexander Zverev Juara Prancis Terbuka 2026: Akhiri Penantian Gelar Grand Slam

Sedang Trending 10 jam yang lalu
 Akhiri Penantian Gelar Grand Slam Petenis Jerman Alexander Zverev berpose dengan trofi juara Prancis Terbuka usai mengalahlan Flavio Cobolli di laga final.(AFP/JULIEN DE ROSA)

ALEXANDER Zverev akhirnya sukses menghapus kutukan di turnamen mayor. Petenis asal Jerman tersebut sukses mengamankan gelar Grand Slam pertamanya setelah memenangi duel dramatis lima set melawan petenis Italia, Flavio Cobolli, dalam final Prancis Terbuka, nan berjalan pada Minggu (8/6/2026).

Kemenangan ini menempatkan Zverev sebagai petenis putraJerman pertama nan memenangi turnamen Grand Slam sejak Boris Becker di Australia Terbuka 1996.

Unggulan kedua tersebut menyudahi perlawanan Cobolli dengan skor 6-1, 4-6, 6-4, 6-7 (5/7), dan 6-1 dalam lama pertandingan selama 4 jam 16 menit.

Bagi Zverev, Court Philippe-Chatrier mempunyai memori nan kombinasi aduk. Di lapangan ini, dia pernah mengalami cedera pergelangan kaki parah pada semifinal 2022 melawan Rafael Nadal, serta kekalahan menyakitkan lima set dari Carlos Alcaraz pada final 2024 lalu.

“Lapangan ini sangat spesial bagi saya dalam banyak hal... tapi sekarang akhirnya, ini adalah akhir nan bahagia,” ujar Zverev penuh emosional saat seremoni penyerahan trofi.

Statistik Pertandingan Final French Open 2026

Detail Pertandingan Alexander Zverev (Jerman) Flavio Cobolli (Italia)
Skor Akhir 6, 4, 6, 6(5), 6 1, 6, 4, 7(7), 1
Status Unggulan Unggulan ke-2 Unggulan ke-10
Unforced Errors 54 Data sedang divalidasi
Durasi Pertandingan 4 Jam 16 Menit

Jalannya Pertandingan: Drama Lima Set

Pertandingan dimulai dengan kekuasaan absolut Zverev di set pertama nan hanya berjalan 39 menit. Cobolli, nan baru pertama kali merasakan atmosfer final Grand Slam, tampak gugup dan melakukan 16 unforced errors di set pembuka.

Namun, petenis Italia berumur 24 tahun itu bangkit di set kedua. Memanfaatkan kelengahan Zverev, nan melakukan dua kali double-fault di gim ketujuh, Cobolli sukses mencuri set tersebut dan menghidupkan asa untuk menjadi petenis putra Italia pertama nan juara di Roland Garros dalam 50 tahun terakhir.

Ketegangan memuncak di set keempat ketika Cobolli sukses memaksakan tie-break dan menang, memaksa pertandingan bersambung ke set penentuan. Namun, pengalaman Zverev berbincang di set kelima. Ia langsung mematahkan servis Cobolli di gim pertama dan melaju sigap hingga unggul 3-0. Zverev akhirnya memastikan kemenangan setelah pukulan overhead Cobolli kandas melewati net pada poin kejuaraan kedua.

Menghapus Label "Pemain Tanpa Gelar Major"

Kemenangan ini sangat berfaedah bagi Zverev nan sekarang berumur 29 tahun. Sebelum gelar ini diraih, dia sering dijuluki sebagai salah satu pemain terbaik nan belum pernah memenangi Grand Slam. Catatannya mencakup kekalahan di enam perempat final, tujuh semifinal, dan tiga final Grand Slam sebelumnya.

Salah satu momen paling menyakitkan adalah final Amerika Serikat (AS) Terbuka 2020, ketika dia kalah dari Dominic Thiem meski sempat unggul dua set. Menariknya, Thiem, nan sekarang sudah pensiun, turut menyaksikan langsung dari tribun saat Zverev akhirnya mengangkat trofi Musketeers di Paris.

Di sisi lain, meski kalah, Flavio Cobolli mencatatkan sejarah pribadi nan luar biasa. Petenis ranking 14 bumi ini diprediksi bakal menembus jejeran 10 besar bumi untuk pertama kalinya pada pekan depan berkah keberhasilannya mencapai final setelah musuh di semifinal, Matteo Arnaldi, mengundurkan diri lantaran sakit.

“Saya senang untukmu, tapi saya juga sedih lantaran saya sudah sangat dekat. Sekarang Anda sudah meraih mimpimu, biarkan saya menang di lain waktu,” ucap Cobolli dengan sportif saat menerima trofi runner-up dari legenda tenis Italia, Adriano Panatta.(AFP/Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia