Pasar saham Vietnam mencatat lonjakan arus masuk biaya asing terbesar dalam nyaris enam tahun terakhir, seiring membaiknya sentimen penanammodal dunia setelah meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Berdasarkan info nan dihimpun Bloomberg, dikutip pada Selasa (16/6), investor asing membukukan pembelian bersih saham Vietnam senilai USD 160,4 juta (sekitar Rp 2,84 triliun) pada Senin (15/6). Nilai tersebut jadi arus masuk biaya harian terbesar sejak 10 September 2020.
Gelombang pembelian ini terjadi setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis nan selama ini menjadi perhatian pasar daya global.
Kesepakatan itu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dan membantu memperbaiki sentimen terhadap aset berisiko di area Asia.
Aksi beli penanammodal dunia tak hanya terjadi di Vietnam, tetapi juga terlihat di sejumlah pasar negara berkembang Asia lainnya seperti Malaysia dan Filipina. Namun, Vietnam menjadi salah satu penerima faedah terbesar dari perubahan sentimen.
Head of Institutional Business VNDirect Securities, Quynh Cao, menilai meredanya perang di Timur Tengah dan keahlian pasar saham Vietnam nan sebelumnya tertinggal menjadi kombinasi nan menarik bagi penanammodal asing untuk kembali masuk.
“Kondisi nan lebih tenang di Timur Tengah serta keahlian pasar Vietnam nan tertinggal telah menciptakan momentum ideal bagi kembalinya modal asing. Posisi penanammodal sebelumnya sudah sangat melindungi dan tidak memerlukan banyak pemicu untuk membalikkan arah,” ujarnya.
Tren Keluar Modal Asing dari Vietnam Masih Tinggi
Meski demikian, arus masuk biaya terbaru belum bisa menghapus tren keluarnya modal asing dari Vietnam dalam beberapa tahun terakhir.
Sepanjang tahun 2026, penanammodal asing tetap mencatat penjualan bersih saham Vietnam senilai USD 2,6 miliar (sekitar Rp 46,04 triliun). Jumlah tersebut menambah arus keluar biaya sebesar USD 4,8 miliar (sekitar Rp 85,04 triliun) nan terjadi sepanjang 2025, ketika penanammodal dunia mengurangi eksposur terhadap Vietnam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan beranjak ke pasar dengan pertumbuhan nan lebih cepat.
Sentimen pasar Vietnam sebelumnya juga tertekan oleh perang Iran dan lonjakan nilai daya nan memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi itu apalagi menutupi berita positif dari keputusan FTSE Russell nan meningkatkan status Vietnam dari pasar frontier menjadi emerging market.
Peningkatan status diyakini dapat memperluas akses Vietnam lantaran banyak manajer investasi internasional mempunyai mandat untuk berinvestasi di pasar negara berkembang.
Meski arus biaya asing kembali masuk dalam jumlah besar, pelaku pasar tetap menunggu kepastian mengenai penerapan kesepakatan tenteram antara AS dan Iran.
Pergerakan nilai minyak juga bakal menjadi aspek krusial nan menentukan keberlanjutan minat penanammodal asing terhadap pasar Vietnam.
“Catatan pentingnya adalah keberlanjutan. Jika kesepakatan tenteram ini rentan dan nilai minyak tetap tinggi, maka tekanan inflasi dan nilai tukar bakal kembali muncul, nan justru menjadi argumen utama penanammodal asing keluar dari Vietnam sebelumnya,” imbuh Quynh Cao.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·