Insiden MBG Sidoarjo, Zulhas Bakal Tindak Tegas Penanggung Jawab SPPG

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) meminta Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan tegas terhadap pihak nan bertanggung jawab atas operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo. Hal itu menyusul dugaan kejadian keamanan pangan nan menyebabkan lebih dari 500 santri dan penerima faedah mengalami gangguan kesehatan.

Zulhas menegaskan bahwa tidak ada toleransi untuk keselamatan penerima faedah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setiap dugaan kelalaian kudu diperiksa secara menyeluruh dan andaikan terbukti terjadi pelanggaran, kudu diikuti dengan tindakan tegas.

Sepulang dari rangkaian kunjungan kerja di Papua dan Maluku, Zulhas langsung menghubungi Kepala BGN untuk meminta penjelasan mengenai kejadian tersebut sekaligus memastikan penanganan terhadap para korban menjadi prioritas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan laporan pemeriksaan sementara nan diterima dari Kepala BGN, terdapat indikasi ketidakpatuhan terhadap standar kedisiplinan dalam penyelenggaraan dan penyajian MBG di SPPG tersebut. Pemeriksaan lebih lanjut tetap dilakukan untuk memastikan penyebab kejadian serta pihak nan kudu bertanggung jawab.

"Saya minta diperiksa sampai tuntas. Kalau terbukti kepala SPPG tidak bertanggung jawab, tindak tegas. Tidak ada toleransi. Memberi makan anak-anak kita adalah tanggung jawab nan sangat besar lantaran menyangkut kesehatan, keselamatan, dan masa depan manusia," kata Zulkifli Hasan, Kamis (3/9/2026).

Zulhas juga meminta agar penindakan tidak berakhir pada hukuman administratif andaikan dalam pemeriksaan ditemukan unsur pelanggaran hukum.

"Kalau memang ditemukan pelanggaran hukum, jangan ragu diproses sesuai ketentuan, termasuk diteruskan kepada abdi negara penegak hukum. Harus ada pengaruh jera. Seluruh Kepala SPPG dan pengelola dapur MBG kudu memahami bahwa tanggung jawab mereka bukan sekadar menyiapkan dan membagikan makanan, tetapi memastikan makanan nan diterima anak-anak kondusif dan layak dikonsumsi," ujarnya.

Perketat Tata Kelola MBG

Pemerintah memastikan kejadian Sidoarjo menjadi bahan pertimbangan serius untuk semakin memperketat pengawasan dan disiplin operasional SPPG di seluruh Indonesia. Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari pembenahan tata kelola MBG nan telah dilakukan secara nasional.

Dalam pertimbangan sebelumnya terhadap 27.485 SPPG nan telah beroperasi, pemerintah menemukan 3.515 SPPG di 324 kabupaten/kota belum mempunyai Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), terdiri atas 3.060 SPPG nan belum mengusulkan dan 455 SPPG nan tidak memenuhi persyaratan.

Pemerintah telah memutuskan penindakan terhadap SPPG nan tidak memenuhi persyaratan tersebut.

"Penertiban juga dilakukan terhadap sumber daya manusia. Sebanyak 249 Kepala SPPG telah diberhentikan lantaran beragam pelanggaran, termasuk mengenai kejadian keamanan pangan, ketidakhadiran lebih dari 10 hari kerja, kasus phishing, dan pelanggaran disiplin lainnya," ungkap Zulhas.

Kepala SPPG juga diwajibkan menjalankan disiplin operasional secara ketat, termasuk datang sejak proses produksi dimulai sekitar pukul 02.00 awal hari hingga seluruh pengedaran makanan selesai sekitar pukul 08.00-09.00 pagi. Kehadiran Kepala SPPG diperlukan untuk memastikan seluruh tahapan produksi, pengolahan, penyajian, hingga pengedaran makanan dilaksanakan sesuai standar.

"Program MBG terus kita perbaiki. Kita tidak hanya mengejar berapa banyak dapur nan beraksi alias berapa banyak penerima manfaat. nan utama adalah makanan kudu aman, bergizi, dan prosesnya memenuhi standar. Kalau standar tidak dipenuhi, kita tindak," ujar Zulhas.

Berdasarkan laporan sementara mengenai kejadian di Sidoarjo, lebih dari 500 penerima faedah pengedaran makanan dari SPPG Kalitengah mengalami dugaan gangguan kesehatan. Pemerintah daerah, BGN, tenaga kesehatan, serta abdi negara mengenai telah melakukan penanganan terhadap para korban.

"Operasional SPPG Kalitengah telah dihentikan sementara selama proses pertimbangan dan pemeriksaan berlangsung," tuturnya.

Dia menegaskan bahwa setiap kejadian keamanan pangan kudu menjadi sirine bagi seluruh SPPG di Indonesia untuk meningkatkan disiplin, bukan hanya dalam memenuhi persyaratan administratif, tetapi terutama dalam menjalankan standar higiene, sanitasi, pengolahan, penyimpanan, penyajian, dan pengedaran makanan.

"Satu kejadian saja kudu kita anggap serius. Apalagi jika sampai ratusan anak terdampak. MBG adalah program untuk memperbaiki gizi dan masa depan anak-anak Indonesia. Karena itu, keselamatan mereka tidak boleh dikompromikan," tutup Zulhas.

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News