Amerika Serikat (AS) mengungkap argumen di kembali keputusan berasosiasi dengan Jepang dalam intervensi pasar kurs asing untuk menopang nilai tukar yen.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pelemahan yen nan dinilai terlalu dalam berisiko mengganggu stabilitas ekonomi di area Asia.
Dikutip dari The Mainichi, Kamis (6/8), dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa (28/7) lalu, Bessent menyebut depresiasi yen bisa memicu pelemahan mata duit negara-negara Asia lainnya.
"Saya pikir yen nan stabil bukan hanya krusial bagi AS, tetapi juga sangat krusial bagi seluruh kawasan. Jika yen melemah secara signifikan, maka mata duit lain juga bakal ikut melemah," kata Bessent.
Bessent menilai kondisi tersebut perlu dicegah mengingat besarnya perekonomian Jepang, arus perdagangan, serta peran negara itu dalam pasar tabungan global.
"Pemerintah Jepang memahami perihal itu, dan kami bangga berdiri berbareng mereka dalam menjalankan kebijakan tersebut serta membantu menjaga stabilitas kawasan," jelas dia.
Pernyataan itu muncul dua hari setelah Bessent mengkonfirmasi AS dan Jepang melakukan intervensi berbareng di pasar kurs asing saat perdagangan New York pada Jumat (31/7) lampau untuk memperkuat yen.
Intervensi pembelian yen berbareng terakhir antara AS dan Jepang terjadi pada 1998, ketika krisis finansial Asia melanda kawasan.
Bessent juga mengaku mempunyai hubungan kerja nan sangat baik dengan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama. Ia optimistis Tokyo bakal terus mengambil langkah nan diperlukan agar nilai tukar yen kembali ke tingkat nan lebih seimbang.
Saat mengkonfirmasi intervensi yen, baik Bessent maupun Katayama menegaskan otoritas finansial kedua negara takkan ragu melakukan tindakan terkoordinasi lagi andaikan diperlukan.
Intervensi terbaru ini menjadi nan pertama sejak 2011, ketika AS, Jepang, dan negara-negara Group of Seven (G7) bersama-sama melakukan intervensi di pasar kurs asing setelah gempa bumi dan tsunami besar melanda Jepang timur laut nan memicu krisis nuklir terburuk sejak musibah Chernobyl 1986.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan Jepang meminta ‘sedikit bantuan’ untuk menopang yen. Menurutnya, tindakan berbareng tersebut merupakan sinyal persahabatan sekaligus menguntungkan perekonomian AS dan ekonomi global.
Lebih lanjut, Bessent turut memuji kebijakan ekonomi Jepang selama bertahun-tahun melalui kombinasi pelonggaran moneter agresif, stimulus fiskal, dan reformasi struktural nan dikenal sebagai Abenomics.
"Jepang telah keluar dari deflasi, dan mereka kembali. Saya pikir kami bisa memberikan sinyal kepada pasar, tetapi pada akhirnya nan menentukan adalah kebijakan dan esensial ekonomi. AS memutuskan ikut serta lantaran kami sangat optimistis terhadap arah kebijakan mereka," katanya.
Saat ditanya apakah Bank of Japan (BOJ) perlu kembali meningkatkan suku bunga, Bessent menolak memberikan arahan.
"Saya sudah mengenal Gubernur Kazuo Ueda lebih dari 15 tahun, dan saya percaya dia bakal melakukan apa nan memang diperlukan," sebut Bendahara Negara AS itu.
Bessent juga mengatakan melalui unggahan di platform X pekan lampau bahwa dirinya menantikan pertemuan dengan Ueda pada akhir Agustus di North Carolina, dalam forum para menteri finansial dan gubernur bank sentral Group of 20 (G20).
Pelemahan yen terhadap dolar AS dalam beberapa tahun terakhir sebagian dipicu oleh perbedaan suku kembang antara AS dan Jepang. Namun, sejak Sanae Takaichi menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang, tekanan terhadap yen meningkat seiring kekhawatiran pasar terhadap memburuknya kondisi fiskal Jepang akibat kebijakan fiskal nan lebih ekspansif.
"Kami bakal melakukan apa pun nan diperlukan untuk mendukung Jepang dengan langkah nan juga menguntungkan ekonomi AS, para pembayar pajak AS, serta menjaga stabilitas ekonomi global," tutur Bessent.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·