Indonesia mungkin sedang membangun industri masa depan. Masalahnya, jutaan pekerjanya tetap hidup dalam ekonomi masa lalu.
Di tengah banyaknya pesimisme tentang pertumbuhan ekonomi nan “hanya” berkisar 5 persen, ada satu perubahan besar nan sering luput dibaca secara utuh. Dalam lebih dari satu dasawarsa terakhir, arah pembangunan Indonesia sebenarnya telah bergeser cukup fundamental. Negara tidak lagi sekadar memandang sumber daya alam sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai modal untuk melakukan transformasi industri.
Benang merah itu terlihat jelas sejak era Susilo Bambang Yudhoyono, ketika larangan ekspor bahan mentah mulai diperkenalkan, lampau dipercepat secara garang pada masa Joko Widodo melalui hilirisasi mineral, pembangunan smelter, area industri, hingga ekosistem kendaraan listrik dan baterai. Kini, arah nan sama diteruskan pemerintahan Prabowo Subianto lewat proyek hilirisasi tahap lanjutan dan dorongan industrialisasi strategis.
Banyak orang memandang hilirisasi sekadar sebagai upaya meningkatkan nilai tambah ekspor. Padahal, nan sedang dicoba Indonesia jauh lebih besar dari itu. Negara sedang berupaya menggunakan kekayaan sumber daya alam untuk masuk langsung ke rantai industri strategis abad ke-21: baterai kendaraan listrik, pemrosesan mineral kritis, daya hijau, hingga industri digital.
Dan di sinilah letak penelitian besarnya.
Industrialisasi nan Tidak Biasa
Selama ini, nyaris semua negara industri sukses melewati tahapan pembangunan nan relatif mirip: manufaktur padat karya, urbanisasi besar-besaran, ekspor tekstil dan peralatan murah, lampau naik ke industri berat dan teknologi tinggi. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, China, hingga Vietnam kurang lebih bergerak melalui jalur tersebut.
Indonesia berbeda. Dan di situlah letak paling revolusioner dari penelitian ini.
Korea Selatan membangun industri mobil setelah membangun industri baja. China membangun elektronik setelah puluhan tahun menjadi pabrik tekstil dunia. Indonesia mencoba langsung masuk ke kendaraan listrik, apalagi sebelum memenangkan industrialisasi manufaktur klasiknya sendiri. Kontribusi manufaktur terhadap PDB Indonesia sendiri condong stagnan, ialah berada di kisaran 18–20 persen selama satu dasawarsa terakhir, jauh di bawah era industrialisasi Asia Timur: ketika manufaktur menjadi mesin utama pembuatan kelas menengah.
Namun, bumi sekarang juga sudah berubah.
Jalur industrialisasi lama perlahan mulai menyempit. Pabrik-pabrik nan dulu beranjak dari negara maju ke negara berkembang lantaran mencari tenaga kerja murah sekarang mulai digantikan oleh otomatisasi dan robotik. Satu lini produksi modern dapat menggantikan puluhan apalagi ratusan pekerja.
Ironisnya, industrialisasi nan dulu membangun kelas menengah di seluruh bumi sekarang justru semakin sedikit memerlukan manusia. Vietnam—yang sempat menikmati limpahan manufaktur tekstil dan elektronik—kini juga mulai garang masuk ke semikonduktor dan industri teknologi tinggi lantaran sadar bahwa kelebihan bayaran murah tidak bakal cukup memperkuat lama.
Artinya, Indonesia mungkin memang tidak lagi mempunyai kemewahan waktu untuk berkembang secara linear seperti negara-negara industri sebelumnya.
Memotong Tahapan Sejarah
Karena itu, hilirisasi bukan sekadar proyek ekonomi. Ia adalah upaya memotong tahapan sejarah.
Indonesia mencoba langsung masuk ke industri strategis masa depan melalui kelebihan nan dimilikinya: sumber daya alam. Hari ini, Indonesia memasok lebih dari separuh produksi nikel olahan bumi dan menjadi salah satu pemain dominan dalam rantai pasok baterai global. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi hilirisasi juga telah mencapai ratusan triliun rupiah dan menyebar ke area industri baru—dari Sulawesi hingga Maluku.
Secara strategis, langkah ini masuk akal. Jika terlambat memenangkan perlombaan manufaktur abad ke-20, Indonesia mencoba mengejar posisi dalam perlombaan industri abad ke-21.
Namun, strategi seperti ini juga membawa paradoks baru.
Industrialisasi klasik abad ke-20 berkarakter padat karya. Pabrik tekstil, elektronik, dan manufaktur tradisional menyerap jutaan pekerja sekaligus membentuk kelas menengah baru secara masif.
Industrialisasi baru berbeda. Industri baterai, smelter modern, kendaraan listrik, pusat data, alias manufaktur berbasis teknologi condong lebih padat modal, lebih otomatis, dan memerlukan tenaga kerja nan jauh lebih terampil. Akibatnya, investasi bisa melonjak tanpa otomatis menciptakan ledakan pekerjaan umum sebesar industrialisasi klasik.
Bahkan ketika investasi hilirisasi terus meningkat, proporsi pekerja umum Indonesia tetap stagnan. Sekitar 40 persen. Tidak bergerak.
Di sinilah kritik terhadap pertumbuhan 5 persen sebenarnya menemukan konteks nan lebih tepat. Masalah Indonesia bukan semata kekurangan pertumbuhan, melainkan juga bahwa transformasi industrinya belum mencapai skala nan cukup besar untuk mengubah struktur sosial-ekonomi secara luas.
Berpacu Melawan Waktu
Namun, terlalu sederhana juga jika menyimpulkan bahwa strategi ini gagal.
Transformasi industri memang memerlukan waktu panjang. Korea Selatan tidak berubah dalam satu dekade. China memerlukan puluhan tahun sejak reformasi 1978, sebelum betul-betul menjadi kekuatan manufaktur dunia. Bahkan, Vietnam baru menikmati lonjakan besar setelah membangun fondasi industri selama bertahun-tahun.
Tantangannya: bumi mungkin tidak memberi Indonesia waktu sebanyak itu.
Sejarah pembangunan menunjukkan bahwa investasi saja tidak pernah cukup. Negara nan sukses naik kelas adalah negara nan bisa mengubah modal menjadi keahlian nasional: tenaga kerja terampil, riset domestik, perusahaan lokal nan kompetitif, dan lembaga nan menopang industrialisasi jangka panjang.
Indonesia hari ini mungkin sedang mencoba membangun rumah tingkat tiga sembari menyempurnakan fondasi di tingkat satu. Itu sulit, penuh risiko, dan pasti memunculkan banyak kontradiksi.
Namun, pertanyaannya bukan lagi "Apakah kita bakal melompat?" Pertanyaannya adalah "Apakah kita bisa belajar cukup sigap agar lompatan itu tidak berubah menjadi ketergantungan baru dengan wajah nan lebih modern?"
Karena jika gagal, Indonesia mungkin hanya bakal menjadi pemasok bahan mentah nan lebih canggih—bukan negara industri nan betul-betul mandiri.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·