Industri TPT Tumbuh 6,36%, Investasi Semester I-2026 Naik 11,85%

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Industri TPT Tumbuh 6,36%, Investasi Semester I-2026 Naik 11,85% Pekerja menyelesaikan pesanan untuk ekspor di Solo, Jawa Tengah.(Antara)

INDUSTRI tekstil dan busana jadi nasional melanjutkan momentum ekspansi pada 2026. Sektor tersebut tumbuh 6,36% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II-2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 4,35% pada triwulan II-2025.

Capaian tersebut menunjukkan percepatan sebesar 2,01 poin persentase dalam satu tahun. Pertumbuhan industri tekstil dan busana jadi pada triwulan II-2026 juga lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29% dan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32%.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ian Syarif, mengatakan keahlian tersebut menjadi sinyal bahwa industri tekstil dan busana jadi nasional terus bergerak menuju fase pemulihan nan semakin kuat.

“Pertumbuhan 6,36% menunjukkan bahwa industri tekstil dan busana jadi tetap mempunyai daya tahan dan ruang ekspansi. Setelah menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir, industri ini kembali tumbuh lebih sigap daripada perekonomian nasional dan industri pengolahan nonmigas,” kata Ian.

Menurut Ian, pertumbuhan tersebut tidak berdiri sendiri. Perbaikan keahlian sektor terlihat pula dari peningkatan investasi, ekspor nan tetap tumbuh, surplus perdagangan, serta besarnya jumlah tenaga kerja nan menggantungkan penghidupan pada industri tekstil dan busana jadi.

Secara kumulatif sampai dengan triwulan II alias semester I-2026, investasi industri tekstil dan busana jadi mencapai Rp11,40 triliun. Nilai tersebut meningkat 11,85% dibandingkan periode nan sama pada 2025 sebesar Rp10,19 triliun.

Investasi industri tekstil naik dari Rp6,05 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp6,78 triliun pada semester I-2026. Sementara itu, investasi industri busana jadi meningkat dari Rp4,14 triliun menjadi Rp4,62 triliun.

INDUSTRI HILIR
Data tersebut menunjukkan investasi tidak hanya mengalir ke industri hilir busana jadi, tetapi juga ke sektor tekstil nan menyediakan bahan baku dan bahan antara bagi industri garmen nasional.

“Pertumbuhan investasi sebesar 11,85% merupakan parameter krusial lantaran menunjukkan kepercayaan pelaku upaya terhadap prospek pasar dan pedoman produksi Indonesia. Investasi tersebut diperlukan untuk menambah kapasitas, memodernisasi mesin, meningkatkan efisiensi energi, dan memenuhi standar keberlanjutan pasar global,” ujar Ian.

Ian menilai investasi pada industri tekstil dan busana jadi mempunyai akibat ekonomi nan luas lantaran menghubungkan industri serat, pemintalan, pertenunan, perajutan, pencelupan dan penyempurnaan kain, hingga produksi busana jadi.

Kinerja perdagangan industri tekstil dan busana jadi juga tetap positif. Nilai ekspor kumulatif Januari–Mei 2026 mencapai US$4,85 miliar, naik 1,57% dibandingkan US$4,77 miliar pada periode nan sama tahun sebelumnya.

Pada saat bersamaan, impor meningkat dari US$3,41 miliar menjadi US$3,58 miliar. Industri tekstil dan busana jadi tetap membukukan surplus perdagangan sekitar US$1,27 miliar, meskipun lebih rendah dibandingkan surplus sekitar US$1,37 miliar pada Januari–Mei 2025.

Ian menilai pertumbuhan ekspor menunjukkan bahwa produk tekstil dan busana jadi Indonesia tetap mempunyai daya saing di pasar internasional. Namun, peningkatan impor nan lebih sigap daripada ekspor perlu menjadi perhatian.

“Surplus US$1,27 miliar membuktikan bahwa industri TPT tetap menjadi penghasil devisa. Akan tetapi, kita tidak boleh mengabaikan kebenaran bahwa impor tumbuh lebih sigap dan surplus mengalami penyempitan. Karena itu, peningkatan ekspor kudu dibarengi penguatan pasar domestik serta pengawasan terhadap impor terlarangan dan praktik perdagangan tidak sehat,” tegas Ian.

Menurutnya, pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional, termasuk akses ke pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara mitra lainnya, kudu diarahkan untuk meningkatkan pesanan serta memperluas pasar produk tekstil dan busana jadi Indonesia.

SERAPAN TENAGA KERJA
Peran strategis industri tekstil dan busana jadi juga terlihat dari besarnya penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan info Sakernas nan diolah, jumlah pekerja pada industri tekstil dan busana jadi mencapai sekitar 3,86 juta orang.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1,01 juta orang bekerja pada industri tekstil dan sekitar 2,84 juta orang bekerja pada industri busana jadi. Besarnya tenaga kerja tersebut menempatkan industri TPT sebagai salah satu sektor manufaktur padat karya terpenting di Indonesia.

“Di kembali setiap nomor pertumbuhan dan investasi terdapat jutaan family nan berjuntai pada keberlangsungan industri ini. Karena itu, menjaga daya saing industri TPT bukan hanya kepentingan perusahaan, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan dan menciptakan lapangan kerja,” kata Ian.

MOMENTUM KONSOLIDASI
Ian menilai pencapaian pada 2026 merupakan hasil dari upaya berbareng pemerintah dan pelaku upaya dalam menjaga aktivitas produksi, investasi, perdagangan, dan penyerapan tenaga kerja di tengah perubahan pasar global.

“Capaian ini merupakan buah dari kerja bersama. Kami mengapresiasi pemerintah nan terus membuka ruang perbincangan dengan industri dan berupaya menjaga agar aktivitas produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja tetap berjalan,” ujar Ian.

Menurutnya, momentum positif tersebut perlu ditindaklanjuti dengan agenda nan lebih terukur. Prioritasnya mencakup kesiapan bahan baku, nilai daya nan kompetitif, modernisasi mesin produksi, peningkatan produktivitas pekerja, pembiayaan industri, pemanfaatan perjanjian perdagangan, serta penegakan norma terhadap impor ilegal.

Pemerintah juga diharapkan memastikan pasar domestik menjadi fondasi pertumbuhan industri nasional. Besarnya konsumsi dalam negeri perlu memberikan faedah optimal bagi produsen nan berinvestasi, berproduksi, bayar pajak, dan menyerap tenaga kerja di Indonesia.

“Pertumbuhan 6,36% bukan garis akhir, melainkan kesempatan untuk membawa industri TPT naik ke tingkat berikutnya. Tantangannya sekarang adalah mengubah pertumbuhan menjadi peningkatan utilisasi, pesanan, ekspor, investasi, dan kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan,” kata Ian.

Ian menegaskan API siap menjadi mitra pemerintah dalam menyusun langkah penguatan industri dari hulu hingga hilir. Kolaborasi nan konsisten diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk tekstil dunia, tetapi berkembang sebagai pusat produksi dan ekspor TPT nan modern, efisien, serta berkekuatan saing tinggi.

“Indonesia mempunyai pasar nan besar, tenaga kerja berpengalaman, dan struktur industri TPT nan relatif lengkap. Jika seluruh kekuatan itu disatukan dalam kebijakan nan konsisten, kita tidak sekadar mempertahankan industri ini, tetapi dapat membawa tekstil Indonesia kembali merebut pasar global,” tutup Ian. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia