Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama Ekspor RI, Tumbuh 7,16% hingga Juli 2026

Sedang Trending 33 menit yang lalu
Ilustrasi hilirisasi tambang. Foto: Kementerian ESDM

Sektor industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD 137,26 miliar, tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode nan sama tahun lampau dan menyumbang 82,18 persen terhadap total ekspor Indonesia.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat, nilai ekspor Indonesia secara kumulatif pada Januari-Juli 2026 mencapai USD 167,03 miliar, tumbuh 4,43 persen dibandingkan periode nan sama pada 2025. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai USD 160,01 miliar alias meningkat 5,21 persen secara tahunan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan tingginya kontribusi industri pengolahan terhadap ekspor Indonesia menjadi bukti pentingnya peningkatan nilai tambah produk dalam negeri untuk memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

“Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia bisa menembus pasar global,” kata Budi dalam keterangannya, Kamis (3/9).

Dari sisi komoditas, pertumbuhan tertinggi ekspor nonmigas pada Januari–Juli 2026 adalah aluminium dan peralatan daripadanya (HS 76) sebesar 85,78 persen. Lalu nikel dan peralatan daripadanya (HS 75) sebesar 49,84 persen dan tembaga dan peralatan daripadanya (HS 74) sebesar 36,14 persen.

Sementara komoditas dengan penurunan terdalam adalah logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) sebesar 40,08 persen, lampau kayu dan peralatan dari kayu (HS 44) sebesar 3,89 persen juga karet dan peralatan dari karet (HS 40) sebesar 3,18 persen.

Ekspor Juli Tumbuh 2,98 Persen

Pekerja mengolah forenikel di smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Harita Nickel, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Selasa (16/9/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Secara bulanan, nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD 26,22 miliar. Angka tersebut naik 2,98 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 6,05 persen dibandingkan Juli 2025.

Ekspor nonmigas menjadi penopang utama dengan nilai USD 25,43 miliar alias meningkat 4,25 persen secara bulanan dan 6,84 persen secara tahunan.

Pada Juli 2026, pertumbuhan ekspor nonmigas secara bulanan utakanya didorong oleh mesin dan peralatan mekanis (HS 84) nan naik 23,05 persen, tembaga dan peralatan daripadanya (HS 74) sebesar 21,20 persen, juga busana dan aksesorinya bukan rajutan (HS 62) sebesar 20,65 persen.

Kemudian komoditas nan mengalami penurunan terdalam adalah logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) sebesar 45,07 persen, nikel dan peralatan daripadanya (HS 75) turun 38,25 persen, dan lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) turun 6,21 persen dibandingkan Juni 2026.

Dari sisi negara tujuan, China tetap menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026, kemudian Amerika Serikat (AS) dan India.

Sementara pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi tercatat ke Hong Kong sebesar 36,79 persen, Turki 30,58 persen, dan Thailand 21,92 persen. Ekspor nonmigas ke Singapura justru turun 11,41 persen, Pakistan turun 4,32 persen, dan Australia turun 3,44 persen.

Impor Didominasi Bahan Baku dan Barang Modal

Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD 26,09 miliar, meningkat 0,72 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 27,02 persen dibandingkan Juli 2025.

Pendorong kenaikan tersebut adalah impor nonmigas nan tumbuh 4,57 persen secara bulanan menjadi USD 22,33 miliar. Sementara impor migas turun 17,33 persen menjadi USD 3,77 miliar.

Pada Juli 2026, peningkatan impor nonmigas secara bulanan antara lain berasal dari serealia (HS 10) sebesar 78,38 persen, garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) sebesar 64,53 persen, juga jejak dan sisa industri makanan (HS 23) sebesar 31,88 persen.

Secara kumulatif Januari-Juli 2026, impor Indonesia mencapai USD 163,33 miliar alias meningkat 19,94 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas mencapai USD 137,56 miliar alias tumbuh 16,78 persen, sementara impor migas mencapai USD 25,77 miliar alias meningkat 40,24 persen.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, bahan baku dan penolong tetap mendominasi impor dengan pangsa 71,45 persen. Kemudian peralatan modal mempunyai pangsa 19,88 persen dan peralatan konsumsi 8,67 persen.

Dengan demikian, bahan baku dan penolong dan peralatan modal secara keseluruhan menyumbang 91,33 persen dari total impor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Dari sisi pertumbuhan, impor bahan baku dan penolong naik 20,42 persen, peralatan modal tumbuh 20,00 persen, dan peralatan konsumsi meningkat 16,03 persen.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan sambutan pada peluncuran Cetak Biru Pengembangan SDM Perdagangan dan Trade Corporate University di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (2/9/2026). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO

“Komposisi impor sebagian besar berasal dari bahan baku dan penolong serta peralatan modal nan dibutuhkan untuk mendukung aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri. Oleh lantaran itu, perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berasas jenis dan penggunaannya,” ujar Budi.

Dari sisi komoditas, kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) mengalami peningkatan impor nonmigas terbesar sepanjang Januari-Juli 2026 ialah naik 594,46 persen, garam, belerang, batu dan semen (HS 25) naik 125,15 persen, lampau bijih logam, perak, dan abu (HS 26) naik 66,01 persen.

China tetap menjadi pemasok impor nonmigas terbesar Indonesia pada Januari-Juli 2026 dengan pangsa 42,38 persen. Sementara berasas pertumbuhannya, impor nonmigas dari Prancis meningkat 168,36 persen, Argentina 70,57 persen, dan Federasi Rusia 70,41 persen.

“Pemerintah bakal terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor, sehingga keahlian perdagangan Indonesia tetap tumbuh dan berkelanjutan,” ujar Budi.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan