Ilustrasi(Dok spesial )
PERUBAHAN langkah generasi muda mengonsumsi konten mendorong industri kreatif untuk mengembangkan pendekatan nan semakin beragam.
Bukan hanya soal tampilan visual, kampanye sekarang dituntut bisa menangkap momentum, melibatkan audiens, serta mengikuti format nan dekat dengan keseharian gen Z. Gambaran tersebut terlihat dari tiga kampanye nan dikerjakan Flux Creative Universe (FCU) untuk BINUS University, Migelas, dan Kredivo. Ketiganya meraih penghargaan dalam Marketeers Youth Choice Award 2026 Season 2 melalui pendekatan imajinatif nan berbeda.
Kampanye BINUS University berjudul Beasiswa Emas meraih penghargaan kategori Campus Digital Marketing Initiative. Gagasan kampanye tersebut berangkat dari momentum kenaikan nilai emas nan kemudian diterjemahkan menjadi pesan bahwa pendidikan juga dapat dipandang sebagai corak investasi. Pendekatan tersebut dinilai majelis juri bisa menciptakan tren di kalangan Gen Z sekaligus membangun persepsi terhadap BINUS University sebagai salah satu pilihan untuk melanjutkan pendidikan.
Konten nan dibuat pengguna dimanfaatkan melalui beragam platform media sosial untuk membangun awareness sekaligus mendorong percakapan secara organik di kalangan konsumen muda. Kampanye tersebut meraih penghargaan kategori UGC Campaign to Gen Z.
Berdasarkan penilaian nan tercantum dalam rilis, kampanye ini memperoleh nilai 85 untuk Creativity, 80 untuk Innovation, 85 untuk Reach, dan 80 untuk Impact. Sementara itu, pendekatan berbasis intermezo digunakan dalam kampanye Kredivo – Drama TikTok nan meraih penghargaan kategori Video Series to Gen Z.
Perbedaan pendekatan dari ketiga kampanye tersebut menunjukkan bahwa strategi komunikasi kepada gen Z tidak dapat mengandalkan satu format. Fenomena nan sedang menjadi perhatian publik dapat diolah menjadi pendapat kampanye, sementara partisipasi pengguna dan format intermezo dapat menjadi langkah lain untuk membangun keterlibatan.
CEO Flux Creative Universe Yohanes Auri mengatakan, tiga penghargaan tersebut menjadi pengesahan atas pentingnya memahami langkah generasi baru mengonsumsi dan merespons kreativitas. Kreativitas kudu bisa membikin orang berhenti, menonton, membicarakan, dan pada akhirnya memberikan akibat kepada brand.
"Tiga campaign ini menggunakan langkah nan sangat berbeda, tetapi punya satu kesamaan: semuanya berangkat dari gimana gen Z berpikir dan mengonsumsi konten hari ini,” ujar Yohanes Auri.
Menurutnya, keberhasilan tiga kampanye dengan karakter berbeda juga mencerminkan pendekatan Flux Creative Universe dalam membangun kapabilitas di industri kreatif.
“Karena hari ini sebuah buahpikiran bisa hidup sebagai campaign, UGC, entertainment, media, creator content, apalagi berkembang menjadi intellectual property. Itu nan mau terus kami bangun di FCU,” lanjut Yohanes.
Perubahan perilaku konsumsi media turut membikin posisi gen Z dalam ekosistem imajinatif semakin penting. Mereka bukan hanya menjadi sasaran kampanye, melainkan juga dapat berkedudukan dalam menciptakan, menyebarkan, dan menentukan corak konten nan memperoleh perhatian.
Dalam pendekatan UGC, misalnya, pengguna diberi ruang untuk menjadi bagian dari proses imajinatif dengan menghasilkan konten jenis mereka sendiri. Sementara format video vertikal dan serial memungkinkan cerita dikembangkan secara episodik sesuai dengan kebiasaan konsumsi konten melalui perangkat mobile.
Kemampuan membaca momentum juga menjadi bagian krusial dalam membangun relevansi. Pada kampanye Beasiswa Emas, kejadian kenaikan nilai emas tidak berakhir sebagai rumor ekonomi, tetapi diolah menjadi perspektif mengenai nilai pendidikan dan investasi masa depan.
Penghargaan nan diterima ketiga kampanye tersebut sekaligus menunjukkan beragamnya corak produktivitas nan sekarang berkembang di industri. Sebuah pendapat dapat datang sebagai kampanye digital, konten buatan pengguna, serial video, hingga dikembangkan lebih jauh menjadi corak intermezo alias intellectual property.
Marketeers Youth Choice Award sendiri berfokus pada pilihan dan preferensi Gen Z. Pada Youth Choice Award 2026 Season 2, survei melibatkan 2.233 responden Gen Z nan tersebar di sejumlah kampus di beragam wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, Serang, Bandung, Malang, Madura, Padang, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Lampung, dan Riau. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·