Industri Keramik Siap Ekspansi Rp 10 T hingga 2028, Pasokan Gas Jadi Kunci

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi industri keramik. Foto: Hryshchyshen Serhii/Shutterstock

Industri keramik nasional menyatakan siap melakukan ekspansi kapabilitas produksi senilai Rp 10 triliun hingga 2028 seiring membaiknya kebijakan nilai gas industri. Namun, pelaku upaya menegaskan kepastian pasokan gas menjadi aspek kunci agar rencana ekspansi tersebut dapat terealisasi.

Optimisme tersebut muncul setelah pemerintah memangkas nilai regasifikasi LNG dari USD 20,5 per MMBtu menjadi USD 13 per MMBtu sejak 29 Juni 2026. Kebijakan itu dinilai menjadi pemicu kebangkitan industri nan selama ini menghadapi tekanan biaya daya tinggi dan ketidakpastian pasokan gas.

Meski demikian, Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) mengungkapkan realisasi penyaluran gas industri oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) pada Juli 2026 tetap jauh dari sasaran pemerintah. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menghalang ekspansi industri keramik nan telah direncanakan.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto mengatakan, kebijakan penurunan nilai regasifikasi LNG dan publikasi Kepmen ESDM Nomor 281K/2026 telah memberikan kepastian berupaya bagi industri keramik nasional nan sangat berjuntai pada pasokan gas.

“Kebijakan ini menjadi angin segar bagi industri keramik lantaran memberikan kepastian mengenai kesiapan gas industri dan nilai gas nan lebih berkekuatan saing,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8).

Menurut Edy, kombinasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dan penerapan SNI wajib untuk produk keramik menjadi instrumen krusial untuk memperkuat daya saing industri di tengah perlambatan ekonomi dunia dan tantangan ekonomi domestik.

Ilustrasi pipa gas PGN. Foto: Dok. PGN

Edy mengatakan, industri keramik telah menyiapkan ekspansi kapabilitas produksi baru sebesar 105 juta meter persegi per tahun mulai semester II/2026 hingga akhir 2028. Nilai investasi nan disiapkan mencapai Rp10 triliun dengan potensi penyerapan sekitar 7.500 tenaga kerja baru.

Dengan tambahan kapabilitas tersebut, Indonesia diproyeksikan naik menjadi produsen keramik terbesar keempat di dunia, setelah China, India, dan Brasil.

Saat ini industri keramik nasional telah mempekerjakan sekitar 160.000 tenaga kerja nan tergabung dalam personil Asaki. Namun, Asaki menilai keberhasilan ekspansi tersebut sangat berjuntai pada kelancaran pasokan gas industri. Meski pemerintah telah mengalokasikan volume gas industri melalui Kepmen ESDM No.281K/2026, realisasi penyaluran gas oleh PGN pada Juli 2026 dinilai belum optimal.

Berdasarkan pertimbangan Asaki, PGN hanya bisa menyalurkan sekitar 88 persen dari volume gas nan tercantum dalam keputusan tersebut.

Jika dibandingkan dengan total kebutuhan gas industri keramik, realisasi gas HGBT dengan nilai USD 7 per MMBtu hanya mencapai sekitar 66 persen, sementara sisanya kudu dibeli dengan nilai USD 13 per MMBtu. Akibatnya, nilai gas nan dibayar industri keramik pada Juli berada di kisaran USD 8 hingga USD 8,5 per MMBtu.

“Realisasi penyaluran gas HGBT tetap meleset dari nan semestinya sehingga beban biaya daya industri belum sepenuhnya turun,” kata Edy.

instagram embed

ASAKI berambisi PGN dapat memperbaiki keahlian penyaluran gas agar sesuai dengan volume nan telah ditetapkan pemerintah. Dalam Kepmen ESDM No.281K/2026, porsi alokasi volume gas HGBT untuk industri di wilayah Jawa bagian barat mencapai 73 persen dari total kebutuhan gas industri.

Menurut Edy, kepastian pasokan gas menjadi aspek kunci agar ekspansi industri keramik dapat melangkah sesuai rencana dan utilisasi produksi pada semester II 2026 meningkat ke level 75–80 persen.

Di sisi lain, ASAKI menyatakan siap mendukung beragam program prioritas Presiden Prabowo Subianto nan berangkaian dengan pembangunan nasional, termasuk Program 3 Juta Rumah, Program Gentengnisasi, pembangunan Sekolah Rakyat, pembaharuan sekolah, dan perbaikan rumah tidak layak huni.

Organisasi tersebut menilai pertumbuhan industri keramik dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pembuatan lapangan kerja, peningkatan investasi manufaktur, serta penguatan industri bahan gedung nasional.

“Kami siap mendukung sasaran pertumbuhan ekonomi nasional menuju 8 persen melalui peningkatan kapabilitas produksi dan investasi industri keramik,” ujar Edy.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan